Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Binpres: Heart Rate Alwi Farhan di Atas 200 Saat Lawan Prancis
Alwi Farhan saat berlaga di partai kedua fase Grup D Thomas Cup 2026 (dok.PP PBSI)
  • Eng Hian mengungkap ketegangan tinggi jadi penyebab utama kekalahan Indonesia 1-4 dari Prancis di fase Grup D Thomas Cup 2026.
  • Detak jantung Alwi Farhan tercatat mencapai lebih dari 200 bpm saat melawan Alex Lanier, menandakan tingkat stres yang sangat tinggi.
  • Eng Hian menekankan pentingnya kontrol diri dan emosi atlet agar bisa menghadapi tekanan besar saat berjuang menyumbang poin untuk tim nasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi (Kabid Binpres) Pelatnas, Eng Hian, secara terbuka menyatakan ketegangan menjadi salah satu gangguan terbesar skuad Garuda saat menghadapi Prancis di fase Grup D Thomas Cup 2026. Hasilnya, tim Indonesia kandas 1-4 dan gagal melaju ke perempat final.

Salah satu yang paling disoroti Eng Hian adalah kondisi tunggal putra muda, Alwi Farhan. Menurut Eng Hian, Alwi dalam kondisi sangat tegang saat laga melawan Prancis.

1. Heart rate Alwi sampai di atas 200

Alwi Farhan turun di partai ketiga melawan Thailand dalam laga fase Grup D Thomas Cup 2026 (dok.PP PBSI)

Alwi Farhan ditugaskan turun di partai kedua saat Indonesia menghadapi Prancis. Alwi berlaga melawan Alex Lanier. Menurut Eng Hian, data menunjukkan Alwi tegang saat melawan Prancis, terlihat dari rekam detak jantung Alwi yang mencapai 200 bpm.

“Seorang Alwi Farhan itu kita bisa track ketegangan dia itu, heart rate dia itu di atas 200,” kata Eng Hian dalam konferensi pers Evaluasi Hasil Piala Thomas dan Uber 2026 di Pelatnas PBSI Cipayung, Jakarta Timur, pada Jumat (8/5/2026).

2. Harus diri sendiri yang kontrol

Alwi Farhan saat berlaga di partai kedua fase Grup D Thomas Cup 2026 (dok.PP PBSI)

Eng Hian menegaskan, urusan ketegangan tak ada pihak di luar diri atlet yang mampu mengatasinya. Eng Hian mengatakan, para atlet seharusnya bisa mengontrol diri dalam ketegangan saat menjalani pertandingan.

“Ini bagaimana kita ‘eh turun, turun, turun’. Bagaimana turunnya? Yang bisa mengontrol kan dirinya sendiri. Ini yang akan terus kita pantau dan tingkatkan: bagaimana mengatasi yang seperti itu,” kata Eng Hian.

3. Misi sumbang angka berakhir dengan tak bisa kontrol emosi

Alwi Farhan turun di partai ketiga melawan Thailand dalam laga fase Grup D Thomas Cup 2026 (dok.PP PBSI)

Eng Hian menegaskan masalah memastikan atlet dari ketegangan saat berlaga menjadi PR bersama. Apalagi mengingat pertandingan tidak akan terlepas dari faktor ketegangan.

Menurut penilaian Eng Hian, ketegangan para atlet juga dipicu dari semangat dan keinginan besar mereka menyumbang poin untuk Indonesia saat berlaga melawan Prancis.

“Faktor utamanya adalah pressure atlet-atlet yang karena keinginan menangnya mereka tinggi. Mereka berpikir mereka bisa menang melawan Thailand di mana, Thailand mengalahkan Prancis. Tapi dari keinginan anak-anak menyumbangkan poin dari setiap match-nya, malah mereka tidak bisa mengontrol emosi. Jadi ini menjadi PR buat kita ke depannya supaya kita bisa mengatur lagi kondisi fisik dan kondisi emosi atlet-atlet kita,” kata Eng Hian.

Editorial Team