Perubahan jumlah seri dan format pekan balap MotoGP menambah beban pembalap. Mereka harus mempersiapkan diri sejak sesi awal untuk mendapat hasil terbaik. Itu tak lepas dari adanya sesi latihan Jumat siang yang menentukan pembalap bisa lolos langsung kepada sesi kualifikasi kedua (Q2).
Kemudian, pembalap melakoni sesi kualifikasi pada Sabtu pagi demi memperoleh posisi start terbaik pada balapan sprint dan utama. Berselang beberapa jam, pembalap kembali menunggangi motor untuk menjalani balapan sprint. Durasi balapan sprint adalah setengah dari total lap balapan utama.
Setelah itu, pembalap bakal saling adu cepat pada balapan utama yang berlangsung pada Minggu siang. Sebelum itu, pembalap lebih dulu memutari sirkuit dalam sesi warm-up. Sesi tersebut berlangsung pada Minggu pagi.
Intensitas pekan balap MotoGP yang kian meningkat memantik respons Pedro Acosta. Juara Moto2 2024 itu menilai padatnya jadwal berpotensi memengaruhi aspek psikologis pembalap. Sebab, tingkat stres berpeluang meningkat seiring banyaknya seri balap yang harus dihadapi.
"Mustahil untuk bertahan selama 22 seri balap dengan sesi krusial yang digelar tiap siang. Itu dimulai dari sesi latihan Jumat, kualifikasi, sprint, dan balapan utama. Tidak ada momen pada akhir pekan saat kamu bisa turun ke lintasan, menemukan ritme secara perlahan, dan sekadar berkendara. Ini akan memperpendek segala sesuatu karena tingkat stres yang mampu kami pikul akan mencapai batasnya," jelas Pedro Acosta dilansir Motorsport.