Dominasi Filipina di biliar tak berhenti di Efren Reyes dan Francisco Bustamante. Dewasa ini, muncul generasi baru yang membawa semangat itu ke era modern. Salah satunya adalah Albert James Manas. Punya julukan Starboy, AJ Manas adalah bintang muda yang paling diperhitungkan dunia biliar meski usianya baru 18 tahun.
Di kariernya yang masih seumur jagung, AJ Manas sudah memenangi beberapa gelar junior internasional. Ia juga mampu memenangi game penting melawan pemain top seperti Fedor Gorst yang menunjukkan bahwa bakat biliar Filipina tidak hanya sejarah tetapi juga masa depan. Pada Reyes Cup 2025, ia tampil memukau hingga dinobatkan sebagai MVP saat Team Asia mengalahkan Team Rest of World. Manas juga menunjukkan performa kuat di turnamen besar seperti Philippines Open dan pelbagai kompetisi internasional lainnya.
Tak sendirian, AJ Manas punya rival senegara yang tak kalah sensasional. Namanya Jaybee Sucal. Awalnya dikenal sebagai sensasi media sosial, Sucal perlahan mulai unjuk gigi di panggung-panggung dunia. Di usia yang baru sekitar 16 tahun, ia sudah berkompetisi di ajang Philippines Open dan menarik perhatian publik serta penggemar internasional. Sucal adalah wujud bagaimana akar rumput yang melekat dalam budaya keseharian masyarakat memungkinkan pemain muda Filipina akhirnya bisa ikut bertarung di level paling tinggi.
Olahraga biliar di Filipina tumbuh dari akar rumput, dari kampung-kampung, warung kecil, pasar, sampai pool hall yang penuh kelindan kehidupan sosial, budaya, dan iklim kompetisi yang ketat sejak dini. JIka landasan dan metode bertahan hidup seperti itu bisa menjadi motor Filipina menghasilkan atlet-atlet profesional terbaik di bidangnya, seharusnya Indonesia juga bisa mengadopsi pendekatan yang sama.