Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kisah Aprilia yang Canggih, tetapi Gagal Bersaing di MotoGP 2002
ilustrasi balap MotoGP (pexels.com/Wayne Lee)
  • Aprilia mengadopsi teknologi Formula 1 sejak 2002 lewat RS Cube bermesin 990cc hasil kolaborasi dengan Cosworth, menjadikannya motor ringan dan kompak di era awal MotoGP empat tak.
  • RS Cube menghadirkan inovasi futuristik seperti katup pneumatik, ride-by-wire throttle, dan poros engkol berlawanan arah yang baru umum digunakan bertahun-tahun kemudian di MotoGP.
  • Meskipun mencatat top speed 320 km/jam, RS Cube gagal bersaing karena sasis terlalu kaku dan sulit dikendalikan, membuat Aprilia absen dari podium hingga akhirnya mundur pada 2004.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Dalam beberapa tahun terakhir, Aprilia adalah pemimpin dalam inovasi berbagai perangkat aerodinamika. Pabrikan Noale mengembangkan aerodinamika di bagian bawah motor, swingarm, hingga buritan. Mulai musim 2026, Aprilia kembali membuat terobosan sebagai pionir penggunaan leg wings dan konsep F-Duct di MotoGP.

Leg wings adalah sayap kecil yang terletak di area bawah dekat jok motor. Fungsinya untuk meningkatkan gaya tekan ke bawah (downforce) roda belakang. Inovasi ini sudah ditiru oleh Ducati di seri Amerika Serikat. Di MotoGP saat ini, sayap dan sistem aliran udara memang punya peran besar dalam hal akselerasi, menikung, dan pengereman.

Sementara itu, F-Duct adalah sistem aerodinamika berupa ventilasi kecil di atas sayap depan motor. Fungsinya untuk mempertahankan downforce dan menjaga stabilitas di tikungan dan lintasan lurus. Menariknya, teknologi F-Duct Aprilia sejatinya terinspirasi dari Formula 1. F-Duct telah digunakan McLaren pada 2010.

Bagi Aprilia, menerapkan teknologi Formula 1 bukan hal tabu. Sudah sejak 2002, Aprilia terinspirasi dari Formula 1 dalam pengembangan motornya. Saat itu, Aprilia melahirkan motor yang termasuk paling canggih di eranya. Ironisnya, motor paling canggih itu justru gagal bersaing. Bagaimana kisahnya? Simak ulasannya berikut ini!

1. Aprilia sudah menggunakan teknologi Formula 1 pada 2002

Musim 2002 menandai era baru di MotoGP. Mesin 2-tak 500cc tak bisa lagi digunakan. Sebagai jawaban untuk era baru tersebut, Aprilia melahirkan motor yang dikenal dengan RS3 atau RS Cube. Motor ini menggunakan mesin 990cc 3 silinder in-line.

Aprilia mengembangkan mesinnya dengan bekerja sama dengan Cosworth, perusahaan spesialis mesin asal Inggris yang berpengalaman di Formula 1. Dengan mesin tersebut, motor jadi memiliki dimensi keseluruhan yang kompak dengan bobot yang ringan. Beratnya sekitar 135 kg dibandingkan 148 kg untuk motor bermesin 4 silinder atau 5 silinder.

2. Teknologi Aprilia mendahului zamannya

Tak hanya dari segi mesin, Aprilia RS Cube juga penuh dengan inovasi di bagian lainnya. Aprilia adalah pelopor di MotoGP yang menampilkan katup pneumatik (pneumatic valves), tuas gas yang dikendalikan secara elektronik (ride-by-wire throttle), dan poros engkol berlawanan arah (opposite crankshaft).

Teknologi-teknologi tersebut mendahului zamannya. Katup pneumatik, misalnya, baru digunakan secara tetap di semua motor MotoGP pada musim 2008.  Katup pneumatik menggantikan katup pegas klasik yang dinilai ketinggalan zaman.

3. Aprilia adalah motor pertama yang menembus kecepatan 320 km/jam di MotoGP

Dengan penggunaan teknologi canggih, Aprilia RS Cube bisa melaju sangat kencang, terutama di lintasan lurus. Lewat pembalapnya saat itu, Regis Laconi, RS Cube adalah motor pertama yang bisa menembus kecepatan puncak (top speed) 320 km/jam di MotoGP. Laconi mencetaknya di Sirkuit Mugello saat sesi latihan GP Italia musim 2002.

4. Meski cepat, Aprilia gagal bersaing dengan pabrikan lain

Top speed bukan penentu utama kesuksesan di MotoGP. Meski punya kekuatan mesin sangar yang dipadukan sistem kontrol yang inovatif, Aprilia RS Cube tidak ditopang sasis yang mumpuni. Sasis yang digunakan saat itu terlalu kaku dan tidak fleksibel sehingga motor yang cepat ini sulit dikendalikan.

RS Cube punya kecenderungan melakukan wheelie (ban depan motor terangkat). Beberapa pembalapnya merasakan kurangnya sensasi di bagian depan dan seringnya timbul getaran. Tak heran jika motor ini sering kalah bersaing dengan pabrikan lain di lintasan.

5. Aprilia RS Cube tak pernah meraih podium

Selama mengaspal pada periode 2002 hingga 2004, Aprilia gagal finis di barisan depan. Hasil terbaiknya hanya finis P6 yang dicetak Colin Edwards di seri Jepang musim 2003. RS Cube pensiun tanpa pernah menempati parc ferme.

Berikut ini pembalap Aprilia periode 2002 hingga 2004 beserta hasil balap terbaiknya:

  • Regis Laconi (2002) - hasil terbaiknya P8;

  • Collin Edwards (2003) - P6;

  • Noriyuki Haga (2003) - P8;

  • Jeremy McWilliams (2004) - P12;

  • Shane Byrne (2004) - P10;

  • Michel Fabrizio (pembalap pengganti, 2004) - DNF; dan

  • Garry McCoy (pembalap pengganti, 2004) - P16.

Mesin RS Cube berhenti mengaum pada akhir musim 2004 karena Aprilia memutuskan hengkang dari kelas premier. Pabrikan asal Italia itu absen dari MotoGP selama 1 dekade sebelum bangkit pada 2015 lewat RS-GP. Aprilia RS-GP kini mendominasi awal musim 2026 dan langganan parkir di parc ferme.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team