Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kisah Bezzecchi Sadar Batasan Hingga Cetak Rekor di MotoGP Amerika Serikat
Marco Bezzecchi pada sesi kualifikasi MotoGP Mandalika. (IDN Times/Linggauni)
  • Marco Bezzecchi menorehkan tiga kemenangan beruntun di MotoGP Amerika Serikat 2026, menyamai rekor legenda seperti Valentino Rossi dan Marc Marquez.
  • Bezzecchi belajar dari crash di Sprint Race dengan memahami batas kemampuan agar bisa tampil stabil dan menghindari kesalahan serupa di balapan utama.
  • Dalam kondisi angin ekstrem dan tekanan dari Pedro Acosta, Bezzecchi tetap mampu menjaga ritme hingga finis terdepan dan mencetak rekor yang tak pernah ia bayangkan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pembalap Aprilia, Marco Bezzecchi, kembali berjaya dan menunjukkan dominasinya dengan meraih kemenangan di MotoGP Amerika Serikat 2026. Tampil di Circuit of the Americas, Senin dini hari WIB (30/3/2026), Bezzecchi bisa memenangkan balapan utama.

Dengan hasil ini, Bezzecchi mencatatkan rekor tiga kemenangan beruntun di balapan utama. Tak cuma itu, Bezzecchi juga mampu menorehkan rekor lima kemenangan beruntun di balapan utama, termasuk dua seri pamungkas musim lalu.

Torehan tersebut membuatnya sejajar dengan sejumlah legenda, termasuk Valentino Rossi dan Marc Marquez. Ditambah, Bezzecchi memecahkan rekor Jorge Lorenzo dengan memimpin dalam 121 lap. Tentu saja, dengan prestasi itu, Bezzecchi makin berada di atas angin dalam perburuan gelar musim 2026. Lantas, apa rahasianya?

1. Belajar dari kesalahan di Sprint Race

Bezzecchi mengaku kunci dominasinya dan keberhasilan cetak rekor tiga kemenangan beruntun di balapan utama adalah sadar dengan batasan. Ketika balapan sprint digelar sehari sebelumnya, Bezzecchi gagal finis karena mengalami crash. Dari situ, dia belajar dan sadar jika ada batasan yang belum bisa dilampauinya.

"Saat balapan sprint, saya sudah mencapai batas. Ketika coba melebihi batas, itulah yang terjadi (crash). Sangat mudah bagi saya untuk memahami batas saya dan menjadikannya sebagai pelajaran," ujarnya dilansir dari Crash.

2. Sebenarnya, situasi balapan ekstrem

Jebolan VR46 Academy itu mengaku sebenarnya balapan berlangsung dalam kondisi ekstrem. Ketika hendak melewati tikungan COTA, angin kencang selalu muncul dari samping, mengganggu keseimbangan motor.

Terlebih, sejumlah pembalap tampil prima dan mampu membuatnya kewalahan. Maka dari itu, sepanjang balapan utama, Bezzecchi harus mengatur tempo agar bisa finis dan meraih poin.

Pedro Acosta menjadi pembalap yang paling menyusahkannya. Pada tikungan 11, keduanya nyaris saja bersinggungan dan bisa menciptakan crash keras. Tapi, Bezzecchi akhirnya bisa melewati Acosta dengan mulus, meski motornya sempat kesulitan dikontrol

"Episode yang berat, katakanlah seperti itu. Dalam setiap tikungan, angin berembus dengan kencang. Saya lihat Pedro melebar dan terbawa oleh situasi. Saya mencoba menyalipnya di sudut terakhir dan ketika menempelkan kepala dekat sayap, sangat dekat dan nyaris saja menyinggungnya. Dengan konsol kemiringan di motor dan kontak sulit dihindari, saya merusak bagian belakang motor. Saya gak tahu sih, tapi berharap tidak," ujar Bezzecchi.

3. Rekor yang tak pernah dibayangkan

Bezzecchi mengaku rekor yang muncul tak pernah bisa dibayangkan olehnya. Dia merasa rekor individunya untuk menyamai torehan legenda menjadi hasil dari kerja kerasnya selama ini.

"Sebuah hal yang tak pernah diduga. Saya bekerja sangat keras seperti pembalap MotoGP lainnya demi mendapatkan hasil ini. Pada akhirnya, Anda tak pernah menduga bisa meraihnya," kata Bezzecchi.

Editorial Team