Veddriq Leonardo di Olympic Qualifier Series Budapest 2024 (instagram.com/fpti_official)
Isu pelecehan yang diarahkan kepadanya menjadi pusat perhatian. Hendra tidak menampik bahwa dia pernah memeluk dan mencium kening atletnya ketika mereka drop mental. Baginya, itu adalah cara mencairkan ketegangan, memberi kehangatan manusiawi di tengah tekanan kompetisi. Namun Hendra paham bahwa interpretasi publik bisa berbeda.
“Kalau dibilang saya meluk, memang saya peluk. Terus saya cium kening dan ubun-ubun, iya. Tapi ya nggak seperti yang dibayangkan. Itu perhatian saya layaknya gua ke anak gua. Perhatian saya ke kalian atlet, layaknya saya ke anak gua sendiri gitu loh. Itu poinnya di situ tuh. Nah, kalau itu dikategorikan sebagai pelecehan seksual, ya saya terima konsekuensinya gitu kan. Saya siap dengan kepala tegak menerima konsekuensi,” kata Hendra.
“Padahal ya saya juga tidak melecehkan yang seperti pikiran orang gitu kan. Bagian apa, saya juga tahulah area-area ini, privasi-privasi itu kan. Gak boleh lah,” sambung dia.
Hendra pun tak menutup mata bahwa budaya pelatihan keras yang ia terapkan sejak 2012 bisa dianggap bermasalah hari ini. Zaman berubah, standar berubah, perspektif pun berubah. Jika hari ini metode itu dinilai melukai, ia siap menanggung akibatnya.
“Nah, kalau kekerasan, ini yang saya bingung. Karena memang dari 2012 pola pelatihan saya memang keras gitu kan. Dan, kalau memang itu salah satu tindakan kekerasan, ya saya juga terima konsekuensinya. Jadi simpel saja. Saya legowo,” kata Hendra.
Di titik ini, Hendra seperti berdiri di antara dua dunia: Dunia niat baik yang dia yakini, dan dunia interpretasi yang tak dia kuasai. Hendra memilih tidak melawan dengan kemarahan, melainkan dengan kejujuran.