Pada awal 1990-an, saat olahraga Amerika Serikat masih senang mengotak-ngotakkan takdir, nama Charlie Ward muncul sebagai anomali. Dia tidak berteriak, tidak juga menuntut sorotan, tetapi prestasinya memaksa dunia menoleh ke arahnya. Di satu sisi, Ward dikenal sebagai quarterback kampus yang mampu mengendalikan permainan dengan ketenangan sekelas maestro di dunia sepak bola Amerika alias American football. Di sisi lain, dia adalah pemain bola basket yang kelak menantang batas logika tentang spesialisasi dan pilihan hidupnya sendiri.
Kisah Charlie Ward di sini bukan sekadar trofi dan statistik, melainkan keberanian memilih jalan yang terasa benar baginya sendiri, meski di mata orang lain selalu dianggap berlawanan dengan arus. Trofi Heisman, simbol pemain luar biasa dalam sepak bola Amerika di tingkat kampus di AS, biasanya menjadi gerbang emas menuju National Football League (NFL), liga profesional sepak bola Amerika. Namun, bagi Ward, trofi itu justru menjadi penanda hidup yang tidak harus mengikuti garis lurus yang disediakan orang lain. Dari Tallahassee, Florida, AS, hingga panggung NBA, ceritanya justru mengalir sebagai kisah tentang identitas, disiplin, dan ketenangan yang kadung terasa seperti keras kepala. Apa maksudnya?
