Tidak ada yang membayangkan bahwa seorang laki-laki setinggi 224 sentimeter akan menghabiskan hidupnya dengan berdiri diam, menjadi batas, menjadi sosok yang seolah selalu mengatakan, “tidak boleh lewat!”. Dalam imajinasi populer, raksasa harus berlari, melompat, memecahkan ring, dan membuat kerumunan berteriak. Mark Eaton melakukan kebalikannya. Dia berdiri, menunggu, dan membuat orang lain berpikir dua kali. Dari sanalah kisahnya bermula. Bukan dari sorak-sorai, melainkan dari keheningan yang menakutkan.
Utah sendiri bukan kota besar. Jazz juga bukan tim glamor. Eaton bukan nama yang dijual di kaus anak-anak. Namun, justru di ruang sunyi itu, di antara pegunungan dan udara tipis, sebuah karier aneh tumbuh perlahan, seperti pohon tua yang akarnya tidak pernah dipedulikan orang, sampai suatu hari bayangannya menutupi seluruh halaman.
