Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi pembalap Red Bull di Formula 1
ilustrasi pembalap Red Bull di Formula 1 (pexels.com/Jonathan Borba)

Intinya sih...

  • Red Bull menggunakan mesin Cosworth pada musim perdana di Formula 1

  • Red Bull beralih ke mesin Ferrari pada 2006 dan kerja sama dengan Renault menjadi tonggak awal kesuksesan Red Bull

  • Mesin Honda membawa Red Bull kembali memuncaki Formula 1, dan Red Bull bekerja sama dengan Ford mulai 2026

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Red Bull resmi menggunakan mesin baru yang berkolaborasi dengan Ford mulai Formula 1 2025. Ford tak sepenuhnya menjadi penyuplai mesin karena Red Bull telah memiliki divisi pengembangan mesin sendiri bernama Red Bull Powertrains (RBPT). Kehadiran Ford diharapkan mampu menyempurnakan mesin yang diberi nama Red Bull Ford DM01 tersebut.

Sebelum memiliki Red Bull Powertrains, tim asal Austria tersebut sepenuhnya berstatus sebagai tim konsumen. Mari menilik sejarah mesin yang pernah dipakai Red Bull di Formula 1 sejak pertama kali masuk ke Formula 1 pada 2005 hingga 2026.

1. Red Bull menggunakan mesin Cosworth pada musim perdana

Red Bull masuk ke Formula 1 pada 2005 setelah mengakuisisi Jaguar Racing. Waktu yang cukup sempit membuat Red Bull terpaksa menggunakan mesin Cosworth peninggalan Jaguar. Itu merupakan satu-satunya mesin V10 yang pernah dipakai Red Bull di Formula 1.

Mesin tersebut tak bisa membuat Red Bull berbicara banyak. Posisi finis keempat di GP Australia dan GP Eropa yang diraih David Coulthard menjadi prestasi terbaik musim itu. Red Bull mengakhiri musim pertamanya di Formula 1 dengan bertengger di urutan ketujuh klasemen konstruktor.

2. Red Bull beralih ke mesin Ferrari pada 2006

Red Bull memadukan sasis RB2 dengan mesin Ferrari 056 2.4 V8 untuk menghadapi musim 2006. Performa mesin Ferrari sedikit lebih baik dibandingkan mesin Cosworth. Mesin tersebut berhasil mengantar Red Bull meraih podium perdana di GP Monako melalui David Coulthard.

Masalah utama Red Bull bersama Ferrari terletak pada sistem pendinginan yang membuat mobil cepat overheat. Masalah itu membuat pengembangan mobil RB2 dihentikan pada pertengahan musim. Red Bull juga mengakhiri kerja sama dengan Ferrari begitu musim 2006 berakhir.

3. Kerja sama dengan Renault menjadi tonggak awal kesuksesan Red Bull

Red Bull menjalin kerja sama dengan Renault sebagai pemasok mesin pada 2007. Mesin buatan Renault baru menunjukkan tajinya pada 2009. Musim itu Red Bull meraih kemenangan perdana di GP China melalui Sebastian Vettel serta mengakhiri musim sebagai runner-up.

Puncak kejayaan Red Bull bersama Renault terjadi pada 2010--2013. Mereka tampil dominan dengan membawa Sebastian Vettel meraih empat gelar juara dunia beruntun. Namun, performa mesin Renault menurun setelah regulasi turbo hybrid diperkenalkan pada 2014.

Kerja sama Red Bull dengan Renault berlangsung hingga 2018. Mesin tersebut sempat dinamai Tag Heur pada 2016--2018 karena alasan marketing. Performa yang terus menurun membuat Red Bull tak lagi bekerja sama dengan Renault.

4. Mesin Honda membawa Red Bull kembali memuncaki Formula 1

Red Bull memutuskan untuk menggunakan mesin Honda pada 2019. Keputusan itu sebenarnya penuh risiko karena Honda sempat gagal dalam membuat mesin turbo hybrid. Mesin tersebut lebih dulu diuji coba oleh sister team Red Bull, Toro Rosso, pada 2018.

Kerja sama tersebut akhirnya membuahkan hasil pada 2021. Red Bull berhasil memutus dominasi Mercedes dengan membawa Max Verstappen menjadi juara dunia. Namun, pabrikan asal Jepang tersebut memutuskan untuk mundur dari Formula 1 setelah musim 2021 berakhir.

5. Red Bull mengembangkan mesin di bawah divisi Red Bull Powertrains

Honda tak sepenuhnya meninggalkan Red Bull setelah musim 2021 berakhir. Mereka mewariskan mesin buatan mereka yang kemudian dikembangkan Red Bull di bawah divisi Red Bull Powertrains. Honda juga masih memberikan beberapa dukungan teknis kepada Red Bull.

Peforma mesin tersebut terbukti sangat bagus dengan membawa Max Verstappen meraih gelar juara dunia pada 2022--2024. Red Bull bahkan meraih 21 kemenangan dalam 22 balapan pada 2023. Namun, dominasi tersebut mulai goyah ketika Red Bull diterpa isu internal serta kebangkitan McLaren pada pertengahan 2024.

6. Red Bull bekerja sama dengan Ford mulai 2026

Pada 2023, Red Bull memulai kerja sama dengan Ford untuk menghadapi regulasi mesin baru yang dipakai mulai 2026. RBPT masih memegang kontrol utama dalam pengembangan mesin. Sementara, Ford membantu dalam bidang teknis lain seperti elektronika dan manufaktur.

Pabrikan asal Amerika Serikat tersebut bukanlah pemain baru di Formula 1. Mesin mereka pernah menghiasi Formula 1 pada 1968--2004. Selama periode tersebut, mesin mereka sukses menghasilkan 176 kemenangan, 10 gelar juara dunia konstruktor, dan 13 gelar juara dunia pembalap.

Red Bull telah menggunakan beberapa mesin berbeda sejak debut di Formula 1 pada 2005. Lantas, apakah kerja sama dengan Ford mampu membuat Red Bull mendominasi Formula 1?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team