Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
potret Pedro Acosta
potret Pedro Acosta (commons.wikimedia.org/Liauzh)

Intinya sih...

  • Performa Pedro Acosta terus meningkat, namun ia belum puas dengan hasil MotoGP 2025

  • Pada musim 2025, Acosta masih kesulitan merebut kemenangan dan hanya mampu menjadi runner-up balapan

  • Meski sedikit kecewa, Acosta tetap bertambah dewasa dan belajar banyak dari rangkaian kesulitan yang dihadapi di lintasan

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Nama Pedro Acosta tersohor di MotoGP. Bagaimana tidak, pembalap Spanyol kelahiran 25 Mei 2004 ini pernah merebut 2 gelar juara dunia dalam tempo 3 tahun. Ia menyandang titel juara Moto3 2021 dan Moto2 2023.

Namun, nasib Acosta berbeda di kelas premier. Rider Red Bull KTM Factory Racing ini masih kesulitan merebut kemenangan. Selama 2 tahun sejak 2024, Hasil terbaiknya masih sebagai runner-up balapan.

1. Pedro Acosta ingin bersaing memperebutkan gelar juara

Performa Pedro Acosta sejatinya terus meningkat. Buktinya, ia meraup lebih banyak poin di MotoGP 2025. Di papan klasemen, Acosta menempati peringkat ke-4 dengan raihan 307 poin. Angka ini naik 92 poin dibandingkan musim sebelumnya.

Kendati begitu, Acosta belum puas karena target utamanya adalah menang di kelas premier. Ia juga ingin bisa bersaing memperebutkan titel juara dunia. Tak heran, Acosta hanya memberi nilai 5 dari 10 poin untuk performanya sejauh ini.

“Aku datang ke sini dengan mimpi untuk memperebutkan gelar juara dan ini bukan yang akhirnya kami dapatkan. Kami memang mendapat hasil yang sangat bagus, konsistensi yang sangat baik, tetapi itu tidak cukup,” kata Acosta dilansir Crash.

2. Hasil maksimal Pedro Acosta masih sekadar runner-up balapan

Di MotoGP 2025, Pedro Acosta baru bisa merebut podium pada paruh kedua musim. Andalan KTM ini mengumpulkan 7 podium sprint dan 5 podium main race. Hasil terbaiknya adalah posisi runner-up balapan di seri Hungaria, Indonesia, dan Malaysia.

Pada ketiga kesempatan itu, Acosta selalu kalah oleh pembalap Ducati. Sebagai pengendara RC16, tantangan terbesarnya ada pada masalah cengkeraman ban. Sejak start hingga akhir balapan, cengkeraman ban motornya lebih rendah dibandingkan pesaingnya.

3. Meski sedikit kecewa, Pedro Acosta tetap bertambah dewasa

Tak ada pembalap KTM yang menang di MotoGP 2025. Meski demikian, Pedro Acosta belajar banyak dari rangkaian kesulitan yang ia hadapi di lintasan. Itu termasuk untuk tampil makin konsisten.

“Aku telah banyak belajar, aku menjadi jauh lebih baik sebagai pembalap, lebih konsisten, dan aku tahu di mana posisiku. Namun, sekarang aku menginginkan lebih,” ujar pembalap berjuluk El Tiburon itu dilansir Crash.

4. Prestasi Pedro Acosta secara keseluruhan masih terbilang mentereng di Grand Prix

Walau belum menang di MotoGP, prestasi Pedro Acosta secara keseluruhan masih terbilang mentereng. Selama berkarier di Grand Prix, ia selalu masuk peringkat enam besar klasemen. Acosta pun selalu langganan merengkuh podium pada tiap musimnya.

Berikut ini statistik prestasi Pedro Acosta di Grand Prix:

  • Moto3 2021: Red Bull KTM Ajo - juara dunia (259 poin, 8 podium, termasuk 6 kemenangan);

  • Moto2 2022: Red Bull KTM Ajo - peringkat ke-5 (177 poin, 5 podium, termasuk 3 kemenangan);

  • Moto2 2023: Red Bull KTM Ajo - juara dunia (332,5 poin, 14 podium, termasuk 7 kemenangan);

  • MotoGP 2024: Red Bull GASGAS Tech3 - peringkat ke-6 (215 poin, 4 podium sprint dan 5 podium utama); dan

  • MotoGP 2025: Red Bull KTM Factory Racing - peringkat ke-4 (307 poin, 7 podium sprint dan 5 podium utama).

Baru berusia 21 tahun, Pedro Acosta masih termasuk pembalap muda. Pemikirannya yang makin dewasa bisa jadi amunisi penting untuk mencapai targetnya di MotoGP. Kemenangan pertamanya di kelas premier tinggal menunggu waktu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team