Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Perjuangan Detroit Pistons di NBA Playoff 2026, Tumbang dalam 7 Game
ilustrasi basket NBA (unsplash.com/Diane Picchiottino)

Detroit Pistons menarik perhatian di NBA 2025/2026. Mereka yang biasanya tidak diperhitungkan akhirnya bangkit dari keterpurukan. Pistons finis sebagai pemuncak klasemen Wilayah Timur dengan rekor 60-22.

Sayangnya, setelah melewati adangan Orlando Magic pada putaran pertama NBA Playoff 2026, tim asal Motor City tersebut gugur pada putaran kedua. Mereka tumbang di tangan Cleveland Cavaliers dalam tujuh pertandingan Semifinal Wilayah Timur. Perjuangan Pistons musim ini otomatis berakhir di sana, tetapi masa depan mereka terbilang cerah.

1. Gugur dalam tujuh pertandingan karena beberapa hal

Detroit Pistons menjadi tim paling sibuk. Mereka mesti bermain hingga tujuh pertandingan pada putaran pertama. Begitu pun pada putaran kedua. Pistons tercatat telah bermain dalam 14 pertandingan di NBA Playoff 2026 dan itu menguras energi mereka.

Meski tampak gigih memperjuangkan kesempatan, gugurnya Pistons di tangan Cleveland Cavaliers terjadi karena kurangnya kesiapan. Pistons mengalami penurunan performa ofensif yang dramatis pada putaran kedua. Mereka, misalnya, gugur di pertandingan terakhir di Little Caesar Arena, Detroit Michigan, Amerika Serikat, pada 18 Mei 2026 waktu setempat karena kurang mendalam secara line-up dan kurang piawai dalam membendung kekuatan fisik Cavaliers di area dalam.

Setelah sempat mengimbangi Cavaliers 3-3, Pistons terpaksa mundur dengan kedudukan 3-4. Mereka kalah di pertandingan ketujuh dengan skor 94-125. Di pertandingan yang menentukan itu, Pistons hanya mencetak 35,3 persen dari field goal dan 30,8 persen dari tripoin. Mereka gagal membangun ritme serangan pada awal pertandingan dan melewatkan 7 dari 9 tembakan pertama.

2. Detroit Pistons kurang menguasai area dalam

Cleveland Cavaliers sangat agresif memanfaatkan area dalam lewat duet Evan Mobley dan Jarrett Allen. Mereka mengungguli Detroit Pistons di pertandingan ketujuh dengan skor 58-34 di area tersebut. Mobley menjadi andalan dengan 21 poin dan 12 rebound, sementara Allen menambahkan 23 poin.

Pertandingan ketujuh mencerminan kualitas Cavaliers dalam meretas kelemahan Pistons yang tampak sepanjang seri. Mereka memang tidak begitu baik di area dalam. Cavaliers melihat celah itu melalui tinggi badan dan sejumlah penyesuaian. Pada awal seri, Pistons memang sempat memberikan tekanan yang kuat di bawah ring. Namun, di pertandingan ketiga, Cavaliers membalasnya dengan menarik bigman mereka menjauh dari pemain Pistons yang bukan penembak jitu, terutama Ausar Thompson dan Jalen Duren.

Tanpa ancaman tembakan perimeter dari posisi-posisi itu, Mobley dan Allen secara efektif nongkrong di area dalam. Ini yang juga menutup jalur penetrasi bagi Cade Cunningham, yang memaksanya melakukan tembakan jarak menengah yang sangat sulit atau umpan balik yang sama sulitnya. Cavaliers menetralisasi peran bintang utama sehingga Pistons terpaksa mengandalkan yang lain, yang rupanya tidak efektif dan efisien.

3. Bintang utama seperti Cade Cunningham terpaksa melawan kelelahan

Donovan Mitchell, guard Cleveland Cavaliers, menjadi pemain paling konsisten pada seri ini. Dia mampu mencetak rata-rata 28,1 poin. Mitchell bahkan kerap memimpin serangan ofensif Cavaliers tiap kali permainan melambat, yang menguntungkan timnya untuk menyimpan energi demi menutup pertandingan dengan klinis.

Di sisi lain, Cade Cunningham, yang rata-rata mencetak 23,9, memiliki usage rate yang sangat tinggi sejak playoff dimulai. Setelah memainkan putaran pertama yang melelahkan selama tujuh pertandingan untuk Detroit Pistons, dia tampak kehabisan energi pada pertandingan terakhir melawan Cavaliers. Cunninham hanya mencetak 5 dari 16 tembakan, yang membuat timnya kehilangan daya gedor.

4. Mengalami masalah pada dinamika dan kedalaman skuad

Cleveland Cavaliers menemukan celah mencetak poin di tempat-tempat yang tidak terduga. Sam Merrill, misalnya, menghukum pertahanan Detroit Pistons lewat floor spacing dan tripoin meski tidak bermain sebagai pemain utama. Bangku cadangan Pistons, yang kurang memiliki kedalaman soal multiposisi, tidak mampu menandingi ledakan poin itu, sehingga beban besar terus berada di pundak starter mereka.

Transformasi drastis pada unit kedua Pistons mengungkap sejumlah kelemahan besar yang menjadi penyebab kekalahan mereka selama tujuh pertandingan. Perolehan poin pemain cadangan anjlok hingga hanya 27,6 poin per pertandingan sepanjang playoff. Ini diperparah dengan efektivitas pemain penting macam Isaiah Stewart setelah terjatuh dengan keras melawan Orlando Magic.

Waktu bermain Stewart turun menjadi hanya 10,1 menit per pertandingan untuk menjaga kesehatannya. Di pertandingan ketujuh, dia bahkan hanya bermain selama 6 menit. Dengan kehilangan kehadiran fisik pemain sepertinya, Pistons kehilangan pencetak poin utama mereka di area dalam dan pemain bertahan terpenting kedua di skuad. Ini memungkinkan barisan frontcourt Cavaliers leluasa mencetak poin dengan sedikit perlawanan fisik.

5. Kurang berpengalaman di playoff sehingga membutuhkan perbaikan

Detroit Pistons selalu berada di bawah. Mereka bangkit baru-baru ini. Tidak heran Pistons kurang berpengalaman di playoff. Sebagian besar pemain mereka baru merasakan atmosfer babak pascamusim reguler pada 2026.

Untuk memperbaiki kelemahan struktural di playoff, mereka mesti memaksimalkan masa emas Cade Cunningham. Pistons, misalnya, bisa memprioritaskan tiga area utama pada musim panas 2026 dengan pertimbangan kombinasi ketangkasan dan pengalaman, yang terdiri dari kemampuan menembak dari perimeter, kemampuan menciptakan peluang mencetak poin yang dinamis dari pemain cadangan, dan peningkatan di posisi backup center.

Pistons memasuki jeda musim dengan salary cap yang signifikan. Diproyeksikan ada sekitar 30 juta–45 juta dolar (sekitar 500–800 miliar rupiah), tergantung final cap dan cap hold. Pemain veteran seperti Tobias Harris yang berstatus unrestricted free agent, misalnya, bisa memberi mereka keleluasaan dalam membangun skuad musim depan. Kepemimpinannya musim ini memang berharga, tetapi kontraknya senilai 52 juta dolar justru menjadi masalah. Apalagi, Pistons membutuhkan kontrak-kontrak yang pas untuk memaksimalkan masa emas Cunningham. Manajemen mesti tahu persis berapa banyak uang yang mereka miliki untuk mengelilinginya dengan talenta-talenta yang saling melengkapi.

Intinya, menutup musim reguler dengan 60 kemenangan, tetapi perjuangan berakhir pada putaran kedua playoff memang menyakitkan. Hanya saja, perjalanan Detroit Pitson musim ini bisa menjadi cetak biru yang sempurna untuk masa depan mereka. Manajemen tim tidak perlu melakukan perombakan besar-besaran. Mereka hanya perlu bertransisi dari tim dengan kedalaman pas-pasan kepada tim dengan kedalaman yang cukup.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorAtqo Sy