Masalah paling konsisten dalam lima laga awal Michael Carrick muncul ketika Manchester United harus menghadapi blok pertahanan rendah. Laga melawan West Ham United menjadi contoh paling gamblang, ketika dominasi penguasaan bola tidak dibarengi dengan kualitas peluang. Menurut Opta Analyst, MU hanya mencatatkan total expected goals (xG) 0,63 sepanjang pertandingan dan bahkan hanya 0,23 xG pada babak pertama.
Sirkulasi bola MU cenderung terlalu horizontal dalam situasi tersebut. Pergerakan bola dari sisi ke sisi memang menjaga kontrol, tetapi minim progresi vertikal yang memecah struktur lawan. Kurangnya pergerakan tanpa bola pemain ketiga saat umpan 1-2 di area sentral membuat blok pertahanan lawan tetap kompak dan jarang terpaksa keluar dari posisinya.
Variasi progresi juga masih terbatas. Crossing yang dilepaskan kerap mudah dibaca karena tidak didahului manipulasi ruang yang memadai. Penetrasi melalui half-space relatif jarang, sementara pergerakan tanpa bola di sepertiga akhir sering bersifat reaktif, bukan proaktif.
Kondisi ini membuat MU kerap bergantung pada momen individual atau situasi bola mati. Gol penyama kedudukan Benjamin Sesko pada menit ke-96 melawan West Ham lahir dari kualitas penyelesaian akhir individu, bukan hasil konstruksi serangan yang berulang dan konsisten. Ketergantungan semacam ini menyelamatkan hasil jangka pendek, tetapi berisiko dalam konteks keberlanjutan performa.
Pertanyaan besar pun muncul dari lima laga awal ini. Apakah keterbatasan tersebut merupakan konsekuensi logis dari filosofi Carrick yang mengutamakan kontrol dan stabilitas, atau justru sinyal bahwa diperlukan penyesuaian taktik dan profil pemain untuk menghadapi skenario blok pertahanan rendah lawan. Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan sejauh mana Carrick mampu membawa MU melampaui fase stabilisasi awal.
Lima laga pertama Michael Carrick bersama Manchester United memperlihatkan arah yang jelas, tetapi belum sepenuhnya komplet. Fondasi kontrol dan struktur telah terbentuk, tetapi tantangan terbesar Carrick justru terletak pada bagaimana mengubah dominasi menjadi peluang nyata tanpa mengorbankan keseimbangan yang telah ia bangun.