Inti konflik Enzo Maresca dengan Chelsea terletak pada batas otoritas teknikal. Menurut BBC, Chelsea beroperasi dengan struktur yang memberi peran besar kepada Direktur Olahraga dan departemen medis, terutama dalam pengelolaan menit bermain pemain muda dan pemain dengan riwayat cedera. Sistem ini dirancang untuk melindungi aset jangka panjang klub, sejalan dengan model bisnis BlueCo sebagai pemegang konsorsium Chelsea.
Departemen medis secara rutin memberikan rekomendasi detail mengenai durasi bermain setiap pemain. Dari sinilah masalah muncul ketika Maresca beberapa kali melampaui batas tersebut, termasuk memainkan Reece James penuh selama tiga laga beruntun pada Desember 2025, pertama kalinya dalam 2 tahun. Bagi klub, ini dianggap sebagai pelanggaran prinsip proteksi pemain. Akan tetapi bagi Maresca, ini adalah keputusan kompetitif yang sah.
Ketegangan ini diperparah oleh isu rotasi dan kepercayaan pada pemain muda. Chelsea mendorong pengembangan talenta, seperti Andrey Santos, Jorrel Hato, dan Josh Acheampong, tetapi Maresca dianggap kurang memberi mereka peran konsisten. Dari sudut pandang pelatih, rotasi berlebihan justru mengganggu ritme dan stabilitas tim, terutama di Premier League yang kompetitif.
Masalah ini tidak lagi bersifat teknis, melainkan ideologis. Chelsea melihat pelatih sebagai pelaksana dalam sistem yang sudah ditetapkan, sementara Maresca menginginkan ruang lebih besar untuk menerjemahkan filosofi sepak bolanya. Ketika ia merasa keputusan teknikalnya dipengaruhi oleh pertimbangan nonsepak bola, batas toleransinya pun tercapai.
Situasi memburuk ketika performa tim menurun, dengan Chelsea hanya meraih 1 kemenangan dari 7 laga liga terakhir dan kehilangan hingga 15 poin dari posisi unggul. Ditambah dengan pengakuan Maresca soal komunikasi dengan pihak Manchester City mengenai peluang masa depan, klub mulai meragukan fokus dan keselarasan visi sang pelatih. Hubungan kerja yang rapuh akhirnya mencapai titik ujung dengan pengunduran diri Maresca.