Di ketinggian 3.637 meter atas permukaan laut, La Paz, Bolivia, berperan integral dalam membentuk gaya permainan tim seperti Club Bolívar dan The Strongest. Dilansir Forbes, suasana pertandingan di Estadio Hernando Siles membawa tekanan fisik ekstra kepada lawan yang datang dari dataran rendah. Ujung-ujungnya, stadion tersebut menjadi wilayah di mana ketahanan menjadi penentu, bukan sekadar teknik atau taktik pada level rendah.
Masyarakat lokal yang sudah terbiasa dengan oksigen tipis dan kondisi ekstrem membawa karakter daya tahan itu ke dalam permainan. Para pemain dari kota ini memiliki kapasitas adaptasi yang tinggi ketika mereka harus bertanding di lingkungan serupa, baik di dalam negeri maupun di panggung internasional. Ribuan meter di atas permukaan laut seolah merepresentasikan gaya hidup kompetitif, di mana fisik dan mental saling diuji tanpa kompromi.
Penelitian berjudul Effect of altitude on physiological performance: a statistical analysis using results of international football games menemukan bahwa tiap kenaikan ketinggian sebesar 1000 meter meningkatkan perbedaan skor hingga setengah gol untuk tuan rumah. Hasil penelitian yang dirilis di Sciende Daily juga menunjukkan probabilitas kemenangan naik dari sekitar 0,54 menjadi 0,83 ketika dua tim memiliki perbedaan ketinggian sekitar 3.695 meter. Oleh sebab itu, Estadio Hernando Siles menjadi simbol keuntungan geografis yang nyata, terukur, dan sulit disaingi oleh tim dari tempat lebih rendah.
Letak geografis memberikan warna dan arah dalam pembentukan identitas klub sepak bola. Tiap wilayah membawa karakter alam dan budaya yang ikut mengalir ke dalam cara sebuah tim bermain di lapangan. Dari dataran pesisir hingga pegunungan tinggi, sepak bola berkembang sebagai cerminan lingkungan tempat ia tumbuh dan hidup.