Sejarah Afrika di Piala Dunia dimulai dari sebuah negara di muara Sungai Nil. Jauh sebelum era Mohamed Salah, Timnas Mesir sudah mengukir tinta emas. Mereka tercatat sebagai negara Afrika sekaligus Arab pertama yang berlaga di Piala Dunia pada 1934 di Italia.
5 Fakta Mesir di Piala Dunia 1934, Kalah di Tengah Kontroversi Wasit

1. Lolos ke Piala Dunia 1934 setelah menang telak atas Palestina
Langkah Mesir menuju putaran final Piala Dunia 1934 ternyata cukup mudah. Menurut laporan ESPN, mereka hanya bertanding sebanyak dua kali pada babak kualifikasi zona Afrika-Asia. Saat itu, Turki harusnya ikut serta, sebab tergabung dalam satu grup bersama Mesir dan Palestina, tetapi memutuskan mundur lantaran mahalnya ongkos perjalanan ke luar negeri.
Alhasil, Mesir hanya berjumpa Palestina yang saat itu berisi pemain-pemain berdarah Inggris dan Yahudi. Dalam dua leg berformat kandang-tandang, tim berjuluk The Pharaohs tersebut tampil dominan. Mesir menang agregat telak 11-2. Perinciannya: menang 7-1 di Kairo dan 4-1 di Tel Aviv.
Surat kabar tertua Mesir, Al-Ahram, turut melaporkan pertandingan saat itu. Menurut mereka, di antara 9 ribu orang yang memadati Stadion British Army Ground di Kairo, terdapat sejumlah perempuan yang menonton. Ini menjadi bukti, sepak bola di Mesir sudah berusaha inklusif sejak lama.
2. Melintasi Laut Mediterania selama 4 hari untuk ke Piala Dunia
Sangat berbeda dengan pemain sekarang yang naik pesawat, skuad Mesir pada 1934 berangkat ke Italia menggunakan kapal laut bernama Helwan. Perjalanan menyeberangi Laut Mediterania tersebut memakan waktu 4 hari. Kiper Mesir saat itu, Mustafa Kamel Mansour, mengenang momen tersebut sebagai pengalaman yang sangat menyenangkan.
Meski memakan waktu lama, perjalanan justru mempererat kekompakan pemain sebelum menjalani kerasnya persaingan di Piala Dunia. Nasib mereka setidaknya lebih baik ketimbang Timnas Mesir pada 1930. Empat tahun sebelumnya, mereka gagal berangkat ke Uruguay karena jadwal pelayaran melintasi Samudera Atlantik ditunda beberapa hari akibat badai.
3. Penduduk Mesir mengetahui skor dengan cara menelepon kantor surat kabar
Pada 1934, belum ada siaran televisi atau media sosial untuk memantau skor. Penduduk Mesir harus mencari kabar melalui sambungan telepon yang terbatas atau menunggu koran terbit keesokan harinya. Al-Ahram melaporkan, telepon kantor mereka berdering tanpa henti sejak pukul 5 sore. Penduduk Kairo menanyakan jalannya pertandingan atau skor sementara. Waktu sepak mula pertandingan Mesir melawan Hungaria adalah pukul 4 sore waktu Italia atau sejam lebih lambat.
Beberapa disebut bisa menyimak siaran langsung pertandingan melalui radio. Itu pun jika sinyalnya bersahabat dan tidak terganggu suara statis. Terlebih, masih sedikit rumah yang memiliki radio. Mayoritas penduduk Mesir pun baru merasakan jalannya pertandingan lewat laporan tertulis para jurnalis yang dikirim ke Italia untuk meliput.
4. Keputusan kontroversial wasit menghancurkan mimpi Timnas Mesir di Napoli
Mesir menghadapi Hungaria di Stadion Giorgio Ascarelli, Napoli, pada 27 Mei 1934. Saat itu, Piala Dunia menggunakan sistem gugur, yang dimulai dari babak 16 besar, dan lawan dibagi berdasarkan undian. Sempat tertinggal 0-2, Mesir bangkit dan menyamakan kedudukan menjadi 2-2 lewat dua gol dari striker, Abdel Rahman Fawzi.
Drama kemudian terjadi saat Mesir seharusnya unggul 3-2. Fawzi sukses melewati seluruh bek Hungaria dan mencetak gol, yang disambut tepuk tangan 9 ribu penonton. Namun, wasit asal Italia, Rinaldo Barlassina, menganulir gol tersebut karena dianggap offside.
Tak hanya itu, gol keempat Hungaria terjadi setelah kiper, Mustafa Mansour, ditabrak hingga hidungnya patah oleh salah satu pemain lawan. Namun, wasit tetap mengesahkan gol tersebut. Tim asuhan Jimmy MacRea kalah dengan skor 2-4 dan langsung mengepak koper. Media-media Italia keesokan harinya bahkan ikut mengkritik wasit mereka sendiri atas keputusannya.
5. Membuka jalan Mustafa Mansour berkarier di Skotlandia
Sosok kiper, Mustafa Mansour, jadi sorotan selepas turnamen. Berkat performanya, ia dilirik klub Queen's Park. Ia pun memperkuat klub sepak bola tertua Skotlandia tersebut pada 1937–1939. Selain karena belajar menjadi guru di Jordanhill College, kepindahan Mansour juga tak lepas dari peran sang pelatih Timnas Mesir saat itu, Jimmy MacRea, yang berasal dari Skotlandia.
Sports Reference menyebut, Mansour mencatatkan hampir lima puluh penampilan bersama Queen's Park. Dalam wawancara dengan BBC, Mansour mengaku sempat ditawari kontrak profesional senilai 5 ribu pound sterling (sekitar Rp118 juta), jumlah yang sangat fantastis pada masa itu. Namun, ia menolaknya sebab ingin bermain atas dasar kecintaan kepada sepak bola. Prinsip tersebut membuat kiper yang meninggal dunia pada 2002 lalu tersebut jadi salah satu sosok paling dihormati dalam sejarah sepak bola Mesir.
Pada Juni 2026 mendatang, Mesir akan kembali mentas di Piala Dunia. Ini adalah penampilan keempat mereka sepanjang sejarah. Suporter berharap Mohamed Salah dkk bisa tampil penuh determinasi, seperti yang ditunjukkan pendahulu mereka di Italia pada 1934.