Sejak awal, relasi Thomas Frank dengan publik Tottenham Hotspur dinilai cukup rapuh. Dalam konferensi pers perdananya, ia menyatakan bahwa Spurs pasti akan kalah di beberapa pertandingan, sebuah kejujuran yang dianggap merusak euforia setelah klub menjuarai Liga Europa 2024/2025. Pernyataan itu kontras dengan narasi ambisius era Ange Postecoglou yang masih melekat di benak suporter.
Masalah komunikasi ini berulang sepanjang musim. Frank kerap menyoroti faktor eksternal seperti cedera dan kualitas lawan, yang oleh sebagian fans dianggap sebagai alasan defensif. Insiden-insiden simbolik, mulai dari komentar tentang Arsenal hingga foto dengan cangkir kopi berlogo rival, memperburuk persepsi jika ia tidak memahami sensitivitas kultur klub.
Ketegangan memuncak saat laga kandang dalam beberapa pekan terakhir. Sorakan penggemar yang menuntut pemecatan sang pelatih menggema, dan kehadiran penonton dilaporkan turun sekitar 3.000 kursi di laga terakhirnya melawan Newcastle United. Atmosfer Tottenham Hotspur Stadium berubah dari ruang dukungan menjadi arena protes terbuka terhadap sang pelatih.
Di klub sebesar Tottenham, pesan memiliki bobot yang setara dengan performa. Fans tidak hanya menuntut hasil, tetapi juga narasi yang membuat mereka percaya pada arah jangka panjang. Frank gagal menyatukan taktik, emosi, dan kultur klub, sehingga kepercayaan kolektif runtuh bahkan sebelum papan klasemen menjadi vonis akhir.
Pemecatan Thomas Frank menegaskan, kegagalan seorang pelatih di klub besar jarang bersifat tunggal. Ia didepak bukan hanya karena hasil dan taktik, melainkan juga karena tidak mampu membangun otoritas internal dan kepercayaan eksternal secara bersamaan. Di Tottenham, kegagalan membaca situasi terbukti sama fatalnya dengan kegagalan membaca permainan.