Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

3 Penyebab Thomas Frank Dipecat Tottenham Hotspur: Penuh Gejolak

ilustrasi Tottenham Hotspur (unsplash.com/Winston Tjia)
ilustrasi Tottenham Hotspur (unsplash.com/Winston Tjia)
Intinya sih...
  • Gagal membangun identitas permainan yang jelas, Spurs terjebak dalam pendekatan pragmatis yang membosankan dan berada di peringkat 16 klasemen.
  • Strategi transfer dan badai cedera fatal, kegagalan manajemen mengamankan target utama dan badai cedera menghantam pilar-pilar kunci tim.
  • Putus koneksi dengan suporter dan pemain, Frank gagal memenangkan hati suporter dan ruang ganti serta menjadi sasaran kemarahan suporter Spurs.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Perjudian Tottenham Hotspur menggaet Thomas Frank sebagai manajer berakhir pahit. Baru mengabdi tujuh bulan, pria asal Denmark itu dipecat pada Rabu (11/2/2026).

Frank yang sukses membangun Brentford justru gagal total saat mencoba menaklukkan ekspektasi tinggi di Spurs. Dia dipecat setelah menjalani masa bakti yang penuh gejolak dan minim kebahagiaan di London Utara.

BBC melansir, Frank memiliki reputasi sebagai juru taktik jernih, strategis, dan komunikatif. Frank merupakan seorang yang mampu mendeteksi masalah dan menyelesaikannya secara ajaib.

Frank hanya butuh tiga musim untuk membawa Brentford promosi ke Premier League. Frank juga membangun fondasi kuat, yang membantu Brentford bertahan di kasta tertinggi hingga cabut ke Spurs.

Kualitas Frank disebut menghilang ketika menangani Spurs. Lantas, apa saja penyebab yang membuat juru taktik berusia 52 tahun itu didepak manajemen The Lilywhites?

1. Gagal membangun identitas permainan yang jelas

Masalah paling mendasar di era Frank adalah hilangnya identitas permainan Spurs. Dia gagal menyulap The Lilywhites menjadi tim yang disegani, bahkan sekadar memiliki ciri khas bermain pun dinilai tak terlihat.

Alih-alih tampil garang, Spurs justru terjebak dalam pendekatan pragmatis yang membosankan. Kekalahan memalukan di kandang dari Chelsea dan Arsenal menjadi bukti betapa lesunya permainan Spurs di bawah arahan Frank.

Spurs saat ini berada di peringkat 16 klasemen, hanya terpaut lima angka dari zona degradasi. Mereka baru mengemas 29 poin, lewat tujuh kemenangan, delapan imbang, dan menelan 11 kekalahan.

Dalam pernyataannya, manajemen mengaku sempat memberikan napas kepada Frank untuk menunjukkan perubahan. Sayang, kesabaran klub habis yang akhirnya mengambil langkah pemecatan.

2. Strategi transfer dan badai cedera yang fatal

Nasib sial juga menghampiri Frank di bursa transfer. Kegagalan manajemen mengamankan target utama seperti Eberechi Eze yang justru dibajak Arsenal dan Morgan Gibbs-White menjadi pukulan telak bagi rencana taktiknya.

Di saat bersamaan, badai cedera menghantam pilar-pilar kunci seperti James Maddison, Dominic Solanke, hingga Mohammed Kudus, yang absen panjang. Tanpa kehadiran para pembeda ini, Frank kehabisan akal untuk mencari solusi di lapangan dan membuat performa tim menukik tajam.

3. Putus koneksi dengan suporter dan pemain?

Penyebab terakhir yang tak kalah krusial adalah kegagalan Frank dalam memenangkan hati suporter dan ruang ganti. Dihormati kala di Brentford, dia justru menjadi sasaran kemarahan suporter Spurs.

Sejak awal, suporter memang meragukan kapasitas Frank menangani klub sekaliber The Lilywhites. Situasi diperparah dengan sikap pemain yang mulai membangkang, seperti insiden Djed Spence dan Micky van de Ven yang menolak melakukan penghormatan ke tribune.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Satria Permana
EditorSatria Permana
Follow Us

Latest in Sport

See More

Rashford Perparah Badai Cedera Barcelona Jelang Semifinal Copa Del Rey

11 Feb 2026, 21:13 WIBSport