Serie A Italia pernah dikenal sebagai liga paling kompetitif di dunia dan seorang Hidetoshi Nakata berhasil menorehkan jejak di sana. Nakata mampu bersaing dengan para pemain top Eropa di lima klub Serie A berbeda. Pengalaman panjang dengan torehan gelar juara mempunyai cerita tersendiri dalam perjalanan karier sang pemain.
Jejak Hidetoshi Nakata di Klub Serie A, AS Roma Paling Berkesan

1. Memulai karier di Italia bersama Perugia
Hidetoshi Nakata merintis kariernya di Italia bersama Perugia saat baru berusia 21 tahun. Ia didatangkan dari Shonan Bellmare Hiratsuka pada tahun 1998 dengan nilai transfer mencapai Rp60 miliar. Debutnya di Serie A terjadi pada 13 September 1998 saat Perugia mengalami hasil buruk melawan Juventus. Nakata sukses mencetak brace, tetapi Biancorossi kalah tipis dengan skor 4-3 di laga tersebut.
Selama dua musim bersama I Grifoni, Nakata tampil dalam 55 laga dan mencetak 14 gol di semua kompetisi. Catatan ini tergolong luar biasa untuk pemain muda pendatang baru dari Asia. Berkat penampilannya yang terus menanjak tersebut menarik minat AS Roma yang kala itu dilatih Fabio Capello. Kepindahan Hidetoshi Nakata ke AS Roma mencatatkan rekor sebagai penjualan termahal klub yang bertahan sampai saat ini.
2. Memenangkan scudetto Italia bersama AS Roma
Bersama AS Roma, Hidetoshi Nakata dikenal sebagai pemain dengan visi bermain luar biasa, umpan akurat, kelincahan, serta mempunyai tembakan keras dari luar kotak penalti. Ia bergabung dari Perugia pada tahun 2000. Nilai transfernya kala itu mencapai Rp377 miliar. Di bawah asuhan pelatih Fabio Capello semakin menunjukkan perkembangan sang pemain ke arah yang menjanjikan.
Gelandang serang asal Jepang tersebut mencetak 6 gol dalam 40 pertandingan di semua kompetisi. Musim paling berkesan di Serie A bersama AS Roma terjadi pada 2000–-2001. Kombinasi permainannya bersama Francesco Totti, Marco Delvecchio, Vincenzo Montella, dan Gabriel Batistuta menghasilkan scudetto ketiga dalam sejarah I Giallorossi. Performa yang cukup konsisten tersebut kembali menarik minat sesama klub Serie A lainnya hingga ia memutuskan bergabung dengan Parma pada musim panas 2001.
3. Kembali meraih gelar juara bersama Parma
Hidetoshi Nakata menjadi bagian dari skuad Parma sejak Juli 2001. Parma harus mengeluarkan dana sekitar Rp493 miliar untuk mendapatkan tanda tangan pemain setinggi 175 cm itu. Bersama Gialloblu, Nakata berkembang menjadi seorang gelandang serang berbahaya. Pengalaman serta visi bermain di atas rata-rata membuat pemain dengan kaki dominan kanan tersebut langsung menjadi kreator serangan utama di Ennio Tardini.
Dalam 92 pertandingan di berbagai kompetisi, Nakata mengoleksi 9 gol dari 6.390 total menit bermain. Musim terbaiknya ketika berseragam Parma datang pada 2001–-2002. Aksinya di lini tengah bersama Alain Boghossian, Savo Milosevic, dan Johan Micoud membuahkan gelar juara Piala Italia ketiga dalam sejarah klub. Setelah itu, Parma memutuskan meminjamkan Nakata ke Bologna karena kedatangan Domenico Morfeo dan Benny Carbone tahun 2004.
4. Masih menunjukkan permainan konsisten bersama Bologna
Setelah menuai kesuksesan bersama AS Roma dan Parma, Hidetoshi Nakata melanjutkan kariernya di Serie A bersama Bologna. Klub yang bermarkas di Renato Dall’Ara ini meminjam Nakata selama semusim penuh. Carlo Mazzone sebagai pelatih kala itu memberikan kepercayaan lebih pada Nakata untuk memimpin lini tengah. Ia sering kali bermain di posisi gelandang serang dan gelandang tengah.
Keputusan tepat karena Nakata masih menunjukkan permainan konsisten. Ia dipercaya turun bermain sebanyak 17 penampilan di Serie A 2003/2004. Nakata sukses menghasilkan 2 gol serta 3 assist dari 1.527 total menit bermain. Sayang, ia tak pernah meraih trofi bersama La Dotta.
5. Mengakhiri karier di Serie A bersama Fiorentina
Setelah kembali dari masa peminjaman, Hidetoshi Nakata dilepas Parma pada Juli 2004. Fiorentina menjadi tujuan berikutnya bagi sang pemain. Pengalaman matang di beberapa klub Italia sebelumnya dengan raihan juara berhasil dibagikan kepada skuad La Viola. Kehadiran Nakata juga bisa membuat Fiorentina tampil cukup kompetitif di Serie A musim itu.
Secara keseluruhan, Hidetoshi Nakata mencatatkan 24 pertandingan serta menghasilkan 3 assist. Sayangnya, ia juga tak pernah meraih trofi bersama La Viola. Fiorentina adalah klub Serie A terakhir yang dibela Hidetoshi Nakata sebelum pensiun. Ia mengakhiri karier sebagai pesepak bola pada usia 29 tahun pada Juli 2006.
Jejak karier Hidetoshi Nakata di Serie A menjadi bukti bahwa pemain Asia bisa bersaing di liga teratas Eropa. Nakata tampil konsisten dan kerap menjadi pembeda dalam beberapa pertandingan penting. Pengalaman memperkuat berbagai klub Serie A Italia dengan raihan juara juga memperkaya kualitas permainannya. Tak heran jika namanya masih terus dikenal hingga sekarang.