Permasalahan utama Igor Tudor terlihat jelas dalam pendekatan taktis yang ia terapkan sepanjang masa jabatannya yang hanya berumur 44 hari. Ia mempertahankan penggunaan formasi tiga bek meskipun kondisi skuad tidak mendukung, terutama karena cedera pemain dan kurangnya opsi untuk memberikan lebar permainan. Keputusan ini membuat struktur tim menjadi tidak seimbang sejak awal ia memimpin.
Selain itu, Tudor juga menunjukkan ketidaktepatan momentum dalam melakukan adaptasi terhadap situasi di lapangan yang berdampak ke serangkaian kekalahan. Contohnya saat menjamu Crystal Palace pada pekan ke-29 Premier League 2025/2026. Usai Micky van de Ven diganjar kartu merah pada menit ke-38, Tudor melakukan berbagai keputusan reaksioner ketimbang menunggu jeda babak pertama. Ia akhirnya gagal membaca dinamika pertandingan secara tepat hingga Spurs menelan kekalahan 1-3 di kandang.
Masalah lain muncul dalam struktur lini tengah yang terlihat steril dan minim kreativitas. Absennya playmaker tidak diimbangi dengan solusi taktis yang memadai, sementara pilihan pemain yang cenderung defensif makin membatasi variasi serangan. Dalam situasi ini, pemain kreatif seperti Xavi Simons tidak dimaksimalkan potensinya secara optimal.
Ambiguitas peran pemain juga memperburuk kondisi tim secara keseluruhan. Rotasi posisi yang berlebihan terhadap pemain seperti Pedro Porro, Archie Gray, dan Joao Palhinha menciptakan ketidakstabilan performa. Alih-alih meningkatkan fleksibilitas, pendekatan ini justru menghilangkan kejelasan struktur permainan.
Keputusan in-game Tudor sering kali bersifat kontraproduktif. Pergantian pemain yang terkesan panik dalam laga melawan Crystal Palace dan substitusi ekstrem saat menghadapi Nottingham Forest pada pekan ke-31 liga menunjukkan kurangnya kontrol terhadap jalannya laga. Kasus pergantian Antonin Kinsky dalam leg pertama 16 besar Liga Champions 2025/2026 menjadi simbol dari buruknya manajemen pertandingan yang dilakukan.
Pada akhirnya, masalah Tudor bukan hanya terletak pada kesalahan taktik, melainkan juga pada kecenderungannya untuk membuat sistem yang terlalu kompleks dalam situasi darurat. Ia gagal menyesuaikan pendekatan dengan kondisi tim yang membutuhkan kesederhanaan dan stabilitas. Alih-alih menyederhanakan masalah, Tudor justru memperumit sistem yang sudah rapuh.