Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Terakhir Juara 1966, Kenapa Inggris Selalu Gagal di Piala Dunia?
Fans Inggris berfoto bersama fans Belanda. (unsplash.com/Omar Ramadan)
  • Sejak juara pada 1966, Inggris terus gagal di Piala Dunia karena sering kalah dari tim kuat seperti Jerman Barat, Argentina, Brasil, Kroasia, dan Prancis di fase gugur.
  • Kutukan adu penalti menghantui Inggris selama puluhan tahun hingga akhirnya dipatahkan oleh Gareth Southgate saat menang atas Kolombia di Piala Dunia 2018.
  • Generasi Emas dengan pemain top seperti Beckham dan Gerrard gagal memenuhi ekspektasi publik yang tinggi, diperparah tekanan besar dari media serta rivalitas antarklub domestik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Timnas Inggris datang ke Piala Dunia 2026 sebagai salah satu tim favorit. Apalagi, tim dengan julukan The Three Lions (Tiga Singa) ini sempat menjuarai turnamen sepak bola 4 tahunan tersebut pada 1966. Namun, hingga Piala Dunia 2022, mereka belum mampu mencapai prestasi serupa. Mengapa demikian?

1. Inggris sering tumbang saat menghadapi tim perkasa di laga penting

Di atas kertas, Timnas Inggris sebenarnya sudah memiliki modal kuat untuk memperebutkan trofi Piala Dunia. Mereka hampir selalu tampil dengan skuad bertabur bintang. Namun, dari semua edisi Piala Dunia yang dilakoni sejak 1966, The Three Lions berkali-kali gagal memanfaatkan kesempatan pada fase gugur.

Piala Dunia 1970 menjadi awal dari panjangnya penantian Inggris setelah disingkirkan Jerman Barat dengan skor 2-3 pada perempat final. Sejak saat itu, mereka kerap dikalahkan tim-tim kuat, macam Argentina yang kemudian menjadi juara pada 1986, Brasil yang menjadi juara pada 2002, Kroasia yang menjadi runner-up pada 2018, serta Prancis yang menjadi runner-up pada 2022. Tren tersebut menunjukkan, Inggris acap kali berhadapan dengan lawan-lawan yang sedang berada pada masa keemasannya dalam kebanyakan edisi.

2. The Three Lions selalu gagal dalam adu penalti

Sebelum kedatangan Gareth Southgate, Timnas Inggris telah dihantui kutukan adu penalti di panggung Piala Dunia. Kutukan ini berawal dari kegagalan mereka menyingkirkan Jerman Barat pada semifinal Piala Dunia 1990 lewat adu penalti. The Three Lions menelan pil pahit setelah sejumlah pemain gagal menjalankan tugasnya sebagai eksekutor, termasuk Stuart Pearce yang dikenal dengan tendangannya yang keras dan akurat.

Inggris juga harus mengakui keunggulan Argentina ketika pertandingan memasuki adu penalti di Piala Dunia 1998. Delapan tahun kemudian, The Three Lions gagal mengamankan tiket ke semifinal setelah ditundukkan Portugal melalui penentuan nasib di titik putih. Rentetan kegagalan tersebut membuat adu penalti menjadi momok bagi Inggris hingga Southgate berhasil mematahkan kutukan tersebut setelah menang atas Kolombia di Piala Dunia 2018.

3. Generasi Emas menjadi simbol kegagalan Inggris di Piala Dunia

Ada suatu masa ketika Timnas Inggris datang dengan skuad yang dikenal sebagai Golden Generation (Generasi Emas), salah satunya di Piala Dunia 2006. Bukan tanpa sebab, julukan tersebut disematkan ketika The Three Lions diperkuat sederet pemain papan atas dari berbagai klub elite Eropa, mulai dari David Beckham, Wayne Rooney, Frank Lampard, Steven Gerrard, Rio Ferdinand, hingga Michael Owen. Sekilas, skuad ini tampak menjanjikan untuk mengakhiri puasa gelar yang berlangsung selama 40 tahun.

Hanya saja, apa yang terjadi di lapangan hijau justru membuyarkan harapan penggemar. Inggris harus mengakui keunggulan Portugal lewat tos-tosan pada perempat final. Pelatih The Three Lions saat itu, Sven-Goran Eriksson, pun menjadi sasaran kritik karena dinilai gagal memaksimalkan potensi para pemain bintang. Di samping itu, rivalitas antarklub Inggris yang sedang memanas pada masanya juga diyakini mengakibatkan kekompakan dan chemistry antarpemain tidak berjalan sebagaimana mestinya.

4. Inggris harus menanggung tekanan besar dari publik dan media

Sebagai negara asal sepak bola modern, Inggris kerap memikul ekspektasi tinggi tiap kali tampil di Piala Dunia. The Three Lions hampir selalu dicalonkan sebagai juara, terlepas dari hasil mengecewakan yang mereka raih pada edisi sebelumnya. Tingginya ekspektasi publik tercermin dari lagu "Three Lions" (1996) dengan lirik ikonis "Football's coming home" yang rutin dinyanyikan saat mereka berlaga di Piala Dunia.

Karena ekspektasi yang begitu tinggi, tiap kegagalan di Piala Dunia hampir selalu memicu banjir kritik hingga hujatan dari publik dan media Inggris. Hal ini mengakibatkan para pemain dan staf pelatih menanggung tekanan psikologis yang berat, terutama saat menghadapi pertandingan-pertandingan krusial.

Dalam wawancara dengan The Guardian, Eriksson pernah mengungkapkan bahwa menjadi pelatih Timnas Inggris adalah salah satu pekerjaan paling berat di dunia. Siapa pun harus siap menghadapi tingginya ekspektasi publik dan sorotan media. "Bayangkan tekanan yang akan dipikul oleh manajer baru Inggris. Jika dia tidak memenangkan turnamen besar, dia akan dikritik. Dibutuhkan keberanian besar bagi siapa pun yang mau mengemban pekerjaan itu," ujar Eriksson.

Memasuki Piala Dunia 2026, Inggris membawa roster bertabur talenta-talenta terbaik, seperti Harry Kane dan Jude Bellingham. Edisi ini bisa menjadi kesempatan bagi mereka untuk mengakhiri puasa gelar selama 6 dekade sekaligus mematahkan stigma buruk yang selama ini melekat di panggung Piala Dunia.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article