Alasan masuk akal lain yang bisa menjelaskan sepinya penonton Piala Afrika 2025 tentu akses transportasi, terutama untuk penggemar lokal Afrika. Meski punya banyak penduduk, banyak negara di Afrika yang hidup di bawah garis kemiskinan dan masih diperparah konflik internal. Logikanya, kalau mereka harus bertahan hidup dari gaji harian, apakah bakal terbesit pikiran untuk bepergian ke luar negeri menonton turnamen sepak bola?
Belum lagi, Afrika tidak punya banyak opsi maskapai murah meriah (low-cost carrier) seperti di Eropa dan Asia. Alasannya beragam, mulai dari kecenderungan proteksionisme, mata uang yang tak stabil, ketimpangan kesiapan infrastruktur antarnegara, dan lain sebagainya. Ini membuat akses pergi ke luar negeri jadi semacam kemewahan atau privilese. Apalagi, AFCON tahun ini diselenggarakan di Maroko yang berada di Afrika Utara, lumayan jauh jaraknya dari negara-negara Afrika subsahara.
Sepinya penonton di stadion selama penyelenggaraan Piala Afrika 2025 adalah kombinasi beberapa faktor sekaligus. Namun, semuanya berkaitan erat dengan minimnya komitmen pembangunan merata di negara-negara Afrika. Pahitnya, krisis penonton AFCON 2025 di Maroko mungkin tak bakal berdampak dalam mengevaluasi ketimpangan distribusi sumber daya di Afrika. Dampaknya terlalu kecil untuk sampai mengusik kepentingan elite.