Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Asal-usul Julukan The Vikings untuk Timnas Norwegia di Piala Dunia
Penyerang Norwegia, Erling Braut Haaland, memukul drum saat merayakan kemenangan setelah memenangkan pertandingan sepak bola babak 16 besar Piala Dunia 2026 antara Brasil dan Norwegia di Stadion New York/New Jersey di East Rutherford pada 6 Juli 2026. (AFP/Jewel Samad)
  • Julukan The Vikings untuk Timnas Norwegia berakar dari sejarah bangsa Viking yang dikenal sebagai pelaut tangguh dan menjadi simbol identitas nasional hingga kini.
  • Filosofi Viking mentality diterapkan dalam permainan Timnas Norwegia di Piala Dunia 2026, menonjolkan keberanian, kebersamaan, dan semangat menyerang yang membawa mereka menyingkirkan tim besar seperti Brasil.
  • Tradisi selebrasi Vikings row serta kehadiran pemain muda berbakat seperti Haaland dan Odegaard memperkuat citra The Vikings sebagai simbol generasi baru sepak bola Norwegia.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Timnas Norwegia memiliki banyak julukan. Namun, The Vikings menjadi salah satu yang paling populer, terutama setelah performa gemilang mereka di Piala Dunia 2026. Penyematan julukan ini kepada Timnas Norwegia sebenarnya bukan tanpa alasan.

1. Julukan The Vikings berakar dari sejarah bangsa Viking di Norwegia

Untuk menelusuri asal-usul julukan The Vikings, kamu perlu mengetahui terlebih dahulu siapa sebenarnya bangsa Viking. Buat kamu yang belum tahu, Viking adalah sebutan yang merujuk pada masyarakat Nordik dari Skandinavia, wilayah yang kini mencakup Norwegia, Denmark, dan Swedia. Sejumlah sejarawan menyebut era Viking dimulai ketika mereka melancarkan serangan besar-besaran ke Biara Lindisfarne di Inggris pada 793 M.

Bangsa Viking dikenal sebagai pelaut ulung yang mengandalkan longship, yaitu kapal panjang yang ringan dan cepat. Berkat kapal ini, mereka dapat membangun jaringan pelayaran dan perdagangan yang membentang dari Kepulauan Britania hingga Kekaisaran Bizantium. Bahkan, berdasarkan bukti arkeologis di L'Anse aux Meadows, Kanada, seorang penjelajah Viking bernama Leif Eiriksson diyakini telah mencapai Amerika Utara sekitar tahun 1000 M, hampir lima abad sebelum Christopher Columbus mencapai Benua Amerika pada 1492.

2. Warisan sejarah Viking masih menjadi bagian dari identitas Norwegia

Singkat cerita, era penjelajahan bangsa Viking perlahan memasuki akhir ketika Harald Hardrada, raja Norwegia yang dijuluki the last great Viking king, gugur dalam Pertempuran Stamford Bridge pada 25 September 1066 karena terkena panah di bagian tenggorokan. Menjelang akhir abad ke-11, Viking yang mendiami Norwegia mulai meninggalkan tradisi ekspedisi dan penaklukan untuk membangun sistem kerajaan yang lebih terorganisasi. Pada saat yang sama, penyebaran agama Kristen yang semakin meluas kala itu turut mengubah nilai dan gaya hidup masyarakat Viking menjadi lebih teratur.

Walaupun era Viking telah berakhir hampir seribu tahun yang lalu, jejak peradaban mereka masih dapat ditemukan di berbagai wilayah Norwegia, salah satunya ialah keberadaan kapal-kapal Viking yang dipamerkan di Museum of the Viking Age di Oslo. Kemudian, terdapat makam Hakon the Good, salah satu raja Viking paling berpengaruh dalam sejarah Norwegia, yang berlokasi di Seim. Di Kepulauan Utvaer, yang berada di Kawasan Solund, terdapat kawasan pelabuhan yang dipercaya oleh masyarakat lokal sebagai persinggahan terakhir bangsa Viking sebelum berlayar ke Laut Utara.

3. Filosofi Viking mentality menjadi fondasi permainan Timnas Norwegia

Kalau kamu sering menonton film-film bertema Viking, misalnya How to Train Your Dragon (2010) atau The Northman (2022), kamu mungkin mengenal mereka sebagai sosok petarung yang berani dan tangguh. Citra inilah yang diangkat oleh Norway Football Federation (NFF) melalui kampanye yang mengangkat semangat Viking mentality. Semangat ini bukan berarti Timnas Norwegia bermain kasar, melainkan menonjolkan keberanian, kebersamaan, serta tekad untuk terus mengambil inisiatif dan menekan lawan.

Sepanjang Piala Dunia 2026, Viking mentality jelas terlihat dalam permainan Timnas Norwegia di bawah asuhan Stale Solbakken. Hasilnya pun berbicara. The Vikings finis sebagai runner-up Grup I, menyingkirkan Pantai Gading pada babak 32 besar, lalu membuat kejutan dengan menumbangkan Brasil, satu-satunya negara yang selalu tampil di setiap edisi Piala Dunia, pada babak 16 besar.

4. Vikings row, gaya selebrasi yang memperkuat citra Timnas Norwegia

Timnas Norwegia terakhir kali bermain di Piala Dunia 28 tahun yang lalu, tepatnya pada 1998, tatkala masih diperkuat oleh Tore Andre Flo dan Kjetil Rekdal. Alhasil, satu generasi suporter The Vikings tumbuh tanpa mempunyai tradisi khas untuk mendukung tim kesayangan mereka di panggung Piala Dunia. Layaknya Timnas Inggris yang identik dengan momen sing along "Wonderwall" (1995), Norwegia juga memiliki tradisi ikonik sendiri melalui selebrasi Vikings row yang menemani perjalanan mereka di Piala Dunia 2026.

Vikings row dilakukan dengan cara duduk berdampingan sambil mengayunkan kedua tangan secara serempak sembari meneriakkan "Ro", yang dalam bahasa Norwegia berarti dayung. Pertama kali diprakarsai oleh suporter Norwegia Ole Froystad pada 2025, gerakan ini awalnya dilakukan untuk menyemangati para pemain sebelum akhirnya diikuti oleh para pemain sebagai selebrasi kemenangan usai pertandingan. Berkat gerakannya yang sederhana dan mudah diikuti, Vikings row dengan cepat menjadi viral di media sosial hingga menjadi salah satu simbol yang memperkuat julukan The Vikings bagi Timnas Norwegia.

5. The Vikings menjadi simbol generasi baru Timnas Norwegia

Keberadaan para pemain bintang turut membuat julukan The Vikings terasa semakin cocok untuk Timnas Norwegia. Skuad asuhan Solbakken ini memang dihuni banyak pemain muda, tetapi kualitas mereka tak dapat dipandang remeh. Di dalamnya ada Erling Haaland yang pernah memimpin Manchester City meraih treble pada 2022/2023, Martin Odegaard yang menjabat sebagai kapten Arsenal sejak 2022 sekaligus membawa The Gunners menjuarai English Premier League (EPL) pada 2025/2026, serta Julian Ryerson yang membukukan 15 assist bersama Borussia Dortmund pada musim yang sama sehingga masuk dalam jajaran bek paling produktif di Bundesliga.

Menurut John Arne Riise, mantan bek asal Norwegia yang pernah membela Liverpool, NFF selama bertahun-tahun telah melakukan investasi jangka panjang melalui pembinaan pemain muda bertalenta dan peningkatan kualitas pelatih, seperti dikutip FourFourTwo. Upaya ini pun mulai membuahkan hasil yang menjanjikan. Berkat pembinaan tersebut, The Vikings diprediksi menjadi penantang serius bagi tim-tim elite sepak bola di dunia.

Timnas Norwegia mungkin gagal merebut trofi Piala Dunia 2026, tetapi mereka tidak gagal dalam menetapkan standar baru bagi generasi penerusnya. Warisan budaya Viking yang kuat dipadukan dengan pelatihan pemain muda yang solid membuat The Vikings memiliki modal besar untuk kembali bersaing dan bahkan menjuarai Piala Dunia di edisi-edisi mendatang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article