Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Magis Fabregas di Como Berlanjut, Tak Terkalahkan 12 Laga Beruntun
ilustrasi stadion Como 1907, Stadio Giuseppe Sinigaglia (unsplash.com/edoering)

Intinya sih...

  • Como masih berada di jalur Scudetto, hanya terpaut empat angka dari AC Milan.

  • Fabregas bangga dengan penampilan anak asuhnya dan berhasil menerapkan filosofi dan taktiknya dengan baik.

  • Terakhir kali Como kalah adalah ketika ditekuk Bologna pada Agustus 2025 lalu.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Como 1907 sukses menjaga konsistensi, tidak terkalahkan dalam 12 laga secara beruntun di seluruh kompetisi. Mereka melanjutkan tren tak terkalahkan dengan membungkam Sassuolo 2-0 pada Sabtu (29/11/2025).

Como melibas Jay Idzes dan kawan-kawan lewat gol Anastasios Douvikas (14') dan Alberto Moreno (53'). Como yang tampil di depan publik sendiri sejatinya punya kesempatan untuk menang dengan skor lebih telak, namun kurang klinis di depan gawang.

1. Como masih berada di jalur Scudetto

Berkat kemenangan tersebut, I Lariani berkesempatan untuk merangsek ke papan atas. Mereka memang masih berada di posisi enam dengan 24 poin, tetapi hanya terpaut empat angka dari AC Milan yang berada di puncak klasemen.

Nico Paz dan kawan-kawan bisa merangkak ke peringkat empat dengan mengalahkan Inter Milan pada 7 Desember 2025. Syaratnya, Bologna yang berada di peringkat lima dengan torehan poin serupa tak boleh menang.

2. Fabregas bangga

Pelatih Cesc Fabregas merasa puas dan bangga melihat apa yang dipertontonkan anak asuhnya di atas lapangan. Filosofi dan taktiknya berhasil diterapkan dengan baik, sekaligus resep kegemilangan Como saat ini.

"Permainan tim sangat bagus di lapangan. Itu membuat saya sebagai pelatih merasa sangat bangga," kata Fabregas, dikutip dari Football Italia.

3. Kapan terakhir kali Como kalah?

Terakhir kali Como merasakan kekalahan adalah ketika ditekuk Bologna dalam lanjutan Serie A pada Agustus 2025 lalu. Bertandang ke Renato Dali'Ara, I Lariani tumbang 0-1.

Sepanjang laga itu, Como berada dalam tekanan. Sistem permainan mereka tidak berjalan dengan baik. Situasi semakin buruk karena lini depan tampil tumpul, hanya mampu melepaskan tiga tembakan tepat sasaran.

Menarik untuk dinantikan, apakah klub yang mayoritas sahamnya dimiliki taipan Indonesia tersebut mampu menjaga konsistensi dan bersaing dalam perebutan Scudetto hingga akhir musim?

Editorial Team