David Moyes berhasil membangun kembali identitas permainan yang sangat solid melalui koordinasi defensif yang disiplin sepanjang 2025/2026. Sebelum melawan Manchester City, Everton tercatat hanya kebobolan 41 gol dari 34 pertandingan yang telah mereka jalani dengan intensitas tinggi di Premier League. Catatan statistik pertahanan tersebut menempatkan lini belakang mereka sebagai salah satu yang terbaik di kompetisi kasta tertinggi Inggris saat ini.
Struktur blok rendah yang dipadukan dengan duel fisik yang intens menjadi ciri khas utama dari pendekatan taktik yang diterapkan Moyes. Meskipun angka expected goals against (xGA) tim mencapai 50,5, performa luar biasa Jordan Pickford di bawah mistar gawang mampu meminimalisir jumlah kebobolan aktual secara signifikan. Ketergantungan kepada kiper utama ini menunjukkan pertahanan mereka terkadang masih bisa ditembus lawan yang memiliki kreativitas serangan yang tinggi.
James Garner bertindak sebagai mesin penggerak di lini tengah melalui kemampuan intersepsi dan kemenangan duel fisik yang sangat dominan di tiap jengkal lapangan. Sementara itu, Iliman Ndiaye memberikan dimensi serangan baru bagi Everton dengan kemampuan progresi bola melalui dribel lincah serta efektif dalam membongkar pertahanan lawan. Kehadiran Kiernan Dewsbury-Hall turut memberikan kontribusi nyata berupa output gol dan assist penting dari lini kedua untuk mendukung daya gedor tim.
Namun, Everton tetap memiliki celah struktural yang cukup terlihat jelas saat menghadapi situasi bola mati dari tim lawan. Mereka sering kali mengalami kesulitan dalam mengantisipasi tendangan sudut inswinging yang mengarah langsung ke dalam kotak penalti yang sangat padat. Absennya pemain kunci seperti Jarrad Branthwaite serta tren kebobolan pada menit-menit akhir laga menjadi titik lemah yang harus segera diperbaiki pada sisa musim berjalan.