Februari 2026 menjadi momen yang kelam bagi sejumlah pelatih sepak bola. Hal tersebut juga berlaku kepada sepuluh pelatih yang membesut klub liga top Eropa pada 2025/2026. Sebab, mereka resmi berpisah dengan klub yang mereka latih dengan berbagai alasan. Hanya Roberto De Zerbi yang mengundurkan diri. Sedangkan, sembilan nama lain berpisah karena dipecat.
10 Pelatih Klub Liga Top Eropa yang Berpisah pada Februari 2026

1. Alberto Gilardino dipecat Pisa karena bertengger di posisi 19
Pada 1 Februari 2026, Alberto Gilardino resmi dipecat dari posisi pelatih karena Pisa bertengger di posisi 19. Pemecatan ini mengakhiri 7 bulan kiprah sang pelatih bersama klub promosi Serie A Italia 2025/2026. Sebagai pengganti eks penyerang Timnas Italia itu, manajemen Pisa pun menunjuk Oscar Hiljemark sebagai pelatih baru.
2. Horst Steffen gagal membawa Werder Bremen menang dalam sepuluh laga Bundesliga
Sama seperti Alberto Gilardino, Horst Steffen juga dipecat Werder Bremen pada 1 Februari 2026. Ia dipecat karena Werder Bremen tak kunjung meraih kemenangan dalam sepuluh laga terakhir Bundesliga Jerman 2025/2026. Untuk menggantikan pelatih asal Jerman itu, Werder Bremen menunjuk Daniel Thioune.
3. Paolo Zanetti membuat Hellas Verona berada di dasar klasemen
Manajemen Hellas Verona memutuskan memecat Paolo Zanetti pada 2 Februari 2026. Ini mengakhiri 1,5 tahun pengabdian sang pelatih terhadap Hellas Verona. Alasan pemecatannya karena Hellas Verona terdampar di dasar klasemen. Paolo Sammarco pun ditunjuk sebagai pelatih baru.
4. Habib Beye (Stade Rennes) menelan empat kekalahan beruntun
Posisi Stade Rennes di bawah asuhan Habib Beye sebetulnya aman. Saat dipecat pada 9 Februari 2026, Rennes bertengger di posisi enam klasemen Ligue 1 Prancis 2025/2026. Namun, pelatih asal Senegal itu kalah empat kali beruntun. Untuk memotong tren buruk tersebut, manajemen Stade Rennes menunjuk Franck Haise sebagai pelatih baru.
5. Roberto De Zerbi mengundurkan diri dari Olympique Marseille
Roberto De Zerbi mengundurkan diri dari jabatan pelatih Olympique Marseille pada 11 Februari 2026. Kegagalan di Liga Champions Eropa dan kekalahan dari Paris Saint-Germain (PSG) di Ligue 1 menjadi alasan utamanya. Hal ini mengakhiri 1,5 tahun kiprahnya di Marseille. Sebagai pengganti, Marseille menunjuk eks pelatih Stade Rennes, Habib Beye sebagai pelatih anyar.
6. Thomas Frank membuat Tottenham Hotspur berada dalam bahaya
Tottenham Hotspur biasanya berada di papan atas. Namun, saat dipecat pada 11 Februari 2026, Thomas Frank hanya menempatkan tim ini di posisi 16 English Premier League 2025/2026. Manajemen Spurs pun memecatnya dan menunjuk Igor Tudor sebagai pelatih baru.
7. Sean Dyche hanya bertahan 4 bulan di Nottingham Forest
Sean Dyche hanya sanggup bertahan 4 bulan di Nottingham Forest. Ia baru ditunjuk sebagai pelatih pada 21 Oktober 2025. Namun, pada 12 Februari 2026, ia telah dipecat dan digantikan oleh Vitor Pereira. Ia dianggap tak bisa membawa Nottingham Forest bangkit secara signifikan.
8. Stephane Gilli dan Paris FC mengakhiri kerja sama setelah 2,5 tahun
Stephane Gilli yang dipecat oleh Paris FC. Ia dipecat pada 22 Februari 2026 akibat enam laga tanpa kemenangan. Kesepakatan ini mengakhiri kerja sama yang telah berlangsung selama 2,5 tahun. Untuk mengganti posisi Gili, Paris FC menunjuk Antoine Kombouare.
9. Marco Baroni (Torino) kalah 7 kali dari 10 laga terakhir
Torino memutuskan untuk memecat Marco Baroni pada 23 Februari 2026. Hal ini terjadi karena Torino kalah 7 kali dari 10 laga terakhir. Sedangkan, 3 laga lain menghasilkan 2 kemenangan dan 1 keimbangan. Setelah 7 bulan, Torino menggantikan Baroni dengan Roberto D’Aversa.
10. Jagoba Arraseta (RCD Mallorca) menjadi satu-satunya pelatih LaLiga yang dipecat pada Februari 2026
Satu-satunya pelatih yang dipecat oleh klub LaLiga Spanyol 2025/2026 pada Februari 2026 adalah Jagoba Arraseta. Pelatih asal Spanyol itu dipecat RCD Mallorca pada 23 Februari 2026. Ia dipecat karena menempatkan RCD Mallorca di posisi 18. Ia pun digantikan oleh Martin Demichelis.
Badai pemecatan sepanjang Februari 2026 menjadi bukti nyata betapa kejamnya standar hasil instan di kasta tertinggi sepak bola Eropa. Kini, beban berat berpindah ke pundak para pelatih anyar untuk menyelamatkan sisa musim yang semakin krusial.