Keberhasilan sebuah akademi kerap diukur dari jumlah pemain yang menembus tim utama, dan dalam konteks ini, era Per Mertesacker memberikan bukti konkret. Bukayo Saka dan Emile Smith Rowe menjadi contoh paling menonjol dari generasi awal Hale End di bawah kepemimpinannya. Keduanya berkembang menjadi pemain inti Arsenal hingga mencapai level internasional.
Gelombang berikutnya datang melalui nama-nama seperti Ethan Nwaneri, Myles Lewis-Skelly, Max Dowman, dan Marli Salmon. Mereka bukan produk instan, melainkan hasil proses hampir 1 dekade sejak direkrut pada usia sangat muda. Debut Nwaneri dan Lewis-Skelly bersama tim utama menunjukkan kesinambungan sistem yang dirancang sejak fase usia dini.
Integrasi pemain-pemain ini ke tim utama tidak terjadi secara seragam. Mertesacker dan staf akademi menekankan fleksibilitas posisi sebagai bagian dari pengembangan, dengan banyak pemain diuji di berbagai peran sebelum menemukan posisi ideal. Lewis-Skelly, misalnya, dikembangkan sebagai gelandang sebelum diuji sebagai full-back di level lebih tinggi.
Kesiapan mental juga menjadi aspek krusial dalam proses transisi. Mertesacker secara terbuka menekankan pentingnya manajemen emosi setelah debut, ketika pemain muda harus kembali ke level usia mereka dan menghadapi potensi kesalahan. Pendekatan ini membantu pemain memahami, pengalaman di tim utama bukan akhir perjalanan, melainkan bagian dari proses belajar yang berkelanjutan.
Dampak akademi terhadap Arsenal tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga finansial. Kehadiran lulusan Hale End menghemat ratusan juta pound sterling potensial dalam belanja transfer, sekaligus memberi fleksibilitas dalam perencanaan skuad. Selain pemain yang bertahan, penjualan nama-nama seperti Joe Willock, Folarin Balogun, Emile Smith Rowe, dan Eddie Nketiah turut menghasilkan pemasukan signifikan.
Dalam era regulasi keuangan yang makin ketat, kontribusi akademi menjadi penopang daya saing Arsenal. Tim utama dapat berkembang tanpa ketergantungan penuh pada pasar transfer, sementara identitas klub tetap terjaga. Dalam hal inilah peran Mertesacker melampaui fungsi administratif dan menyentuh inti strategi klub.