Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Sanksi FIFA ke Israel Lemah, Proposal Palestina Justru Minta Dibekukan
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto menerima kunjungan Presiden Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) Gianni Infantino di New York, Amerika Serikat, pada Rabu, 24 September 2025. (Foto: BPMI Setpres)
  • FIFA menjatuhkan sanksi kepada Israel berupa denda 150 ribu Swiss Franc dan kewajiban membentangkan spanduk anti-diskriminasi dalam tiga laga resmi.
  • Federasi Sepak Bola Palestina sebelumnya menuntut pembekuan keanggotaan Israel karena pelanggaran di Gaza, namun tuntutan itu hanya berujung pada sanksi ringan.
  • Presiden FIFA Gianni Infantino memilih membentuk tim penilai independen alih-alih langsung memutuskan, membuat respons FIFA dinilai lemah dibanding kasus Rusia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - FIFA baru saja menjatuhkan sanksi kepada Israel. Mereka didenda oleh FIFA karena terbukti melakukan pelanggaran atas Kode Disiplin yang berlaku terkait kampanye anti-diskriminasi.

Israel diwajibkan membayar denda sebesar 150 ribu Swiss Franc atau senilai Rp3,21 miliar atas pelanggaran Pasal 13 dan 15 Kode Disiplin FIFA. Tak cuma itu, FIFA juga menuntut Israel dalam tiga laga FIFA A untuk membentangkan spanduk bernada anti-diskriminasi dengan bunyi Football Unites the World – No to Discrimination.

1. Sanksi FIFA ke Israel lebih ringan dari tuntutan Palestina

Sebenarnya, sanksi FIFA kepada Israel lemah. Sanksi ini muncul sebagai tindak lanjut dari tuntutan Palestina ketika menghadiri Kongres FIFA ke-74 di Bangkok, Thailand, awal Mei 2024 lalu.

Nyaris dua tahun, proposal itu dikabulkan, tapi bentuknya tak sesuai harapan. Ketika berbicara di depan podium, Presiden Federasi Sepak Bola Palestina, Jibril Rajoub, meminta agar status keanggotaan Israel dibekukan karena sudah melakukan pelanggaran di wilayah Gaza.

Mereka menduduki dan menggelar pertandingan di wilayah Gaza milik Palestina, hingga melakukan aksi-aksi diskriminatif terhadap warga.

Saat itu, Rajoub juga mengingatkan tentang aksi represif Israel dengan tentaranya di wilayah Gaza. Dia meminta agar FIFA bertindak keras untuk menjatuhkan sanksi berbentuk pembekuan status keanggotaan Israel.

2. Respons Infantino gak tegas

Respons Presiden FIFA, Gianni Infantino, saat itu juga sangat lemah. Dia tak langsung menggelar voting atau jajak pendapat di dalam forum.

Tapi, Infantino malah membentuk tim penilai independen untuk menindaklanjuti proposal dari Palestina. Proposal ini juga baru dikerjakan mulai 20 Juli 2024.

3. Hukumannya malah bayar denda dan tindakan sosial

Yang terjadi, pada Kamis (19/3/2026), Israel malah hanya disuruh membayar denda dan melakukan tindakan sosial. Tentu, hal tersebut berbeda dengan sanksi terhadap Rusia usai menyerang Ukraina.

Hanya beberapa saat setelah Rusia melakukan serangan, status keanggotaannya oleh FIFA langsung dibekukan.

Editorial Team