Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Seberapa Besar Transformasi Real Madrid di Bawah Alvaro Arbeloa?
potret jersei Real Madrid (pexels.com/Simon Reza)

  • Alvaro Arbeloa menonjolkan fleksibilitas posisi untuk memaksimalkan kemampuan pemain

  • Pendekatan taktis Alvaro Arbeloa mirip dengan filosofi kepelatihan era Carlo Ancelotti

  • Alvaro Arbeloa mampu meredakan suasana ruang ganti usai kepergian Xabi Alonso

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Pergantian pelatih Real Madrid dari Xabi Alonso ke Alvaro Arbeloa menandai babak baru tim dalam menemukan stabilitas. Selain mengubah fondasi cara tim memahami permainan, pergantian ini juga memengaruhi bagaimana pelatih mengontrol ruang ganti. Arbeloa menghadirkan pendekatan yang berbeda, dengan orientasi yang lebih fleksibel dan berbasis karakter pemain.

Perubahan ini terjadi dalam situasi internal yang kompleks, ketika dinamika ruang ganti memainkan peran yang sama pentingnya dengan keputusan taktis. Arbeloa tidak hanya mengubah sistem permainan, tetapi juga mengubah cara tim berfungsi secara emosional dan interpersonal. Ia membawa pendekatan yang lebih intuitif, pragmatis, dan lebih dekat dengan tradisi manajerial Real Madrid era Carlo Ancelotti.

1. Alvaro Arbeloa menonjolkan fleksibilitas posisi untuk memaksimalkan kemampuan pemain

Perubahan paling mencolok dari era Xabi Alonso ke Alvaro Arbeloa muncul dalam struktur organisasi permainan Real Madrid. Alonso membangun sistem yang mengutamakan kontrol posisi dan keseimbangan kolektif dalam setiap fase permainan. Sebaliknya, Arbeloa memperkenalkan pendekatan yang lebih cair dengan memberikan kebebasan posisi yang jauh lebih besar. 

Kendati pendekatan ini menciptakan fleksibilitas, tetapi secara bersamaan memunculkan ketidakteraturan dalam beberapa momen krusial. Real Madrid masih kerap kehilangan struktur rest defence, terutama saat menghadapi transisi bertahan. Dalam satu situasi, lini pertahanan terlihat kosong dan hanya Gonzalo Garcia yang berusaha mengejar pemain lawan, yang menunjukkan lemahnya organisasi defensif. Situasi ini menggambarkan absennya struktur perlindungan yang sebelumnya menjadi bagian penting dalam sistem Alonso. 

Arbeloa juga menunjukkan kecenderungan menempatkan pemain di luar posisi natural mereka demi menjaga komposisi pemain terbaik di lapangan. Federico Valverde, Aurelien Tchouameni, dan Eduardo Camavinga sering bermain di lini pertahanan, meskipun mereka merupakan gelandang natural. Keputusan ini memperlihatkan prioritas Arbeloa yang memilih memaksimalkan talenta yang tersedia daripada mempertahankan sistem.

Pendekatan berbasis pemain ini juga terlihat dari fleksibilitas ekstrem dalam distribusi posisi menyerang. Kylian Mbappe dapat bermain melebar tanpa batasan posisi tetap, sementara Valverde berpindah sisi sesuai kebutuhan situasi permainan. David Alaba bahkan muncul sebagai striker darurat dalam situasi tertentu, yang menunjukkan absennya batasan posisi konvensional. Dalam hal ini, fleksibilitas posisi membuat lawan sulit membaca pergerakan tim, tetapi juga meningkatkan risiko disorganisasi internal.

Namun, Arbeloa membawa satu perubahan positif yang signifikan, yaitu peningkatan intensitas dan energi permainan. Para pemain menunjukkan komitmen defensif yang lebih tinggi dibanding periode akhir Alonso. Intensitas pressing meningkat dan reaksi terhadap kehilangan bola menjadi lebih agresif. Meski demikian, peningkatan energi ini belum sepenuhnya diimbangi dengan koordinasi struktural yang konsisten.

Perbedaan ini mencerminkan pergeseran filosofis antara dua pelatih dengan pendekatan yang berbeda. Alonso berperan sebagai arsitek sistem yang membangun struktur kolektif sebagai fondasi permainan, sementara Arbeloa berperan sebagai pelatih individu yang mengandalkan kecerdasan dan kualitas pemain untuk menentukan hasil. Pergeseran ini mengubah identitas Real Madrid dari tim berbasis sistem menjadi tim berbasis insting.

2. Pendekatan taktis Alvaro Arbeloa mirip dengan filosofi kepelatihan era Carlo Ancelotti

Pendekatan Alvaro Arbeloa memiliki kemiripan yang jelas dengan filosofi era Pelatih Carlo Ancelotti. Arbeloa menunjukkan kecenderungan membangun sistem di sekitar pemain terbaiknya, bukan memaksa pemain menyesuaikan diri dengan struktur kaku. Ia berusaha memastikan pemain seperti Vinicius Junior, Kylian Mbappe, dan Jude Bellingham dapat bermain secara bersamaan yang menempatkan kualitas individu sebagai pilar utama performa tim.

Arbeloa juga menunjukkan kepercayaan tinggi terhadap kecerdasan taktis pemainnya. Ia memberikan kebebasan kepada pemain dalam membaca situasi permainan secara mandiri. Filosofi ini identik dengan pendekatan Ancelotti yang mengutamakan hubungan interpersonal dan kepercayaan terhadap pemain.

Terlebih lagi, Arbeloa tidak memandang posisi sebagai batasan tetap, melainkan sebagai alat taktis yang fleksibel. Ia secara eksplisit menginginkan full-back seperti Trent Alexander-Arnold untuk bermain lebih ke dalam sebagai pengumpan, bukan hanya melebar di sisi lapangan. Peran hibrida ini mencerminkan pendekatan pragmatik yang beradaptasi dengan kebutuhan situasional permainan. 

Pendekatan ini menegaskan orientasi Arbeloa pada hasil dan kekuatan mental tim. Ia menjadikan sikap, komitmen, dan mentalitas sebagai pilar utama performa kolektif. Arbeloa memahami, Real Madrid memiliki budaya menang yang tidak selalu bergantung pada kesempurnaan sistem.

Arbeloa berupaya mengoptimalkan kualitas pemain tanpa mengekang kreativitas mereka, selaras dengan kesinambungan filosofi era Ancelotti. Ia menempatkan efektivitas dan kesiapan psikologis di atas kerapian struktur taktis. Pendekatan pragmatis ini memungkinkan keseimbangan antara kebebasan individu dan kepentingan tim.

3. Alvaro Arbeloa mampu meredakan suasana ruang ganti usai kepergian Xabi Alonso

Kehadiran Alvaro Arbeloa membawa perubahan konkret terhadap suasana ruang ganti Real Madrid. Ketegangan yang sempat muncul pada akhir masa kepelatihan Xabi Alonso perlahan menghilang. Para pemain kemudian memperlihatkan sikap yang lebih konstruktif serta intensitas yang lebih baik dalam latihan maupun pertandingan.

Arbeloa menerapkan relasi berbasis personal dalam mengelola skuadnya. Ia secara konsisten berdialog langsung dengan pemain, termasuk figur senior seperti Dani Carvajal dan David Alaba. Pendekatan ini mempererat hubungan profesional sekaligus membangun kepercayaan melalui komunikasi yang terbuka.

Vinicius Junior menjadi gambaran paling nyata dari dampak positif kepemimpinan Arbeloa. Pada era Alonso, pemain asal Brasil ini kerap terlihat bersitegang dengan sang pelatih saat ditarik keluar. Kini, ia menampilkan performa yang lebih optimal dan menunjukkan kenyamanan dalam sistem kepelatihan baru. Respons positif dari pemain penting seperti dirinya memperkuat posisi Arbeloa di dalam struktur internal tim.

Meskipun begitu, Arbeloa tetap menghadapi tantangan besar dalam mengelola karakter pemain bintang. Ia memahami bahwa ruang ganti Real Madrid dipenuhi figur elite dengan ekspektasi tinggi dan sensitivitas yang kompleks. Oleh karena itu, ia mengandalkan empati, fleksibilitas, dan pemahaman budaya klub untuk menjaga stabilitas serta membangun fondasi psikologis jangka panjang.

Alvaro Arbeloa memilih untuk mengubah warisan Xabi Alonso melalui pendekatan yang lebih humanis dan dinamis. Masa depan kepelatihannya kini bertumpu pada kemampuan menjaga harmoni antara otonomi pemain dan kebutuhan akan stabilitas tim secara keseluruhan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team