Perubahan paling mencolok dari era Xabi Alonso ke Alvaro Arbeloa muncul dalam struktur organisasi permainan Real Madrid. Alonso membangun sistem yang mengutamakan kontrol posisi dan keseimbangan kolektif dalam setiap fase permainan. Sebaliknya, Arbeloa memperkenalkan pendekatan yang lebih cair dengan memberikan kebebasan posisi yang jauh lebih besar.
Kendati pendekatan ini menciptakan fleksibilitas, tetapi secara bersamaan memunculkan ketidakteraturan dalam beberapa momen krusial. Real Madrid masih kerap kehilangan struktur rest defence, terutama saat menghadapi transisi bertahan. Dalam satu situasi, lini pertahanan terlihat kosong dan hanya Gonzalo Garcia yang berusaha mengejar pemain lawan, yang menunjukkan lemahnya organisasi defensif. Situasi ini menggambarkan absennya struktur perlindungan yang sebelumnya menjadi bagian penting dalam sistem Alonso.
Arbeloa juga menunjukkan kecenderungan menempatkan pemain di luar posisi natural mereka demi menjaga komposisi pemain terbaik di lapangan. Federico Valverde, Aurelien Tchouameni, dan Eduardo Camavinga sering bermain di lini pertahanan, meskipun mereka merupakan gelandang natural. Keputusan ini memperlihatkan prioritas Arbeloa yang memilih memaksimalkan talenta yang tersedia daripada mempertahankan sistem.
Pendekatan berbasis pemain ini juga terlihat dari fleksibilitas ekstrem dalam distribusi posisi menyerang. Kylian Mbappe dapat bermain melebar tanpa batasan posisi tetap, sementara Valverde berpindah sisi sesuai kebutuhan situasi permainan. David Alaba bahkan muncul sebagai striker darurat dalam situasi tertentu, yang menunjukkan absennya batasan posisi konvensional. Dalam hal ini, fleksibilitas posisi membuat lawan sulit membaca pergerakan tim, tetapi juga meningkatkan risiko disorganisasi internal.
Namun, Arbeloa membawa satu perubahan positif yang signifikan, yaitu peningkatan intensitas dan energi permainan. Para pemain menunjukkan komitmen defensif yang lebih tinggi dibanding periode akhir Alonso. Intensitas pressing meningkat dan reaksi terhadap kehilangan bola menjadi lebih agresif. Meski demikian, peningkatan energi ini belum sepenuhnya diimbangi dengan koordinasi struktural yang konsisten.
Perbedaan ini mencerminkan pergeseran filosofis antara dua pelatih dengan pendekatan yang berbeda. Alonso berperan sebagai arsitek sistem yang membangun struktur kolektif sebagai fondasi permainan, sementara Arbeloa berperan sebagai pelatih individu yang mengandalkan kecerdasan dan kualitas pemain untuk menentukan hasil. Pergeseran ini mengubah identitas Real Madrid dari tim berbasis sistem menjadi tim berbasis insting.