Tak sampai di situ, kontroversi Piala Dunia 2026 meluas ke isu harga dan skema penjualan tiket. Pada awal 2026, FIFA merilis wacana pemberlakuan sistem dynamic pricing, yakni ketiadaan harga tetap. Sebagai gantinya harga bisa berubah-ubah sesuai permintaan yang datang dalam waktu sama). Saat banyak pihak mengeluhkan dan memprotesnya, FIFA sempat mencabut sementara wacana tersebut.
Namun, proses penjualan tiket dengan sistem harga dinamis tadi nyatanya tetap berjalan. FIFA memang menyediakan beberapa tiket khusus dengan harga relatif murah, yakni 60 dollar AS (sekitar Rp1 juta) dengan nama Supporter Entry Tier. Namun, pembeliannya agak rumit. Kamu harus terdaftar sebagai suporter timnas yang berpartisipasi di Piala Dunia 2026 dan alokasinya hanya 1 persen dari total kapasitas stadion. Posisi duduknya pun tak bisa dibilang strategis. Pada akhirnya, penonton bakal diarahkan untuk membeli tiket umum yang harganya dinamis tadi, yakni mulai 120-300 dollar AS (Rp2-5 jutaan). Namun, menurut amatan The Athletic per April 2026, harga tiket rata-rata ada di angka 400-700 dollar AS (Rp7-12 jutaan). Tiket untuk beberapa pertandingan sudah menembus 1.000-4.000 dollar AS (Rp17-69 jutaan). Tiket premium dengan tambahan fasilitas bisa lebih mahal lagi.
Ada lagi sistem penjualan yang bikin kesal penggemar, yakni resale dan exchange. Di sini, pembeli tiket yang melakukan pembelian di situs resmi diperbolehkan menjual ulang dan menukar tiket Piala Dunia 2026. Meski, terlihat tak berbahaya, sebenarnya ini bisa jadi celah untuk para calo dan pihak-pihak yang ingin mengambil untung dengan menjual tiket lebih mahal dari harga beli. Mirisnya, FIFA bisa tetap kebagian untung lewat pemotongan biaya administrasi dan pembatalan mengingat prosesnya hanya bisa dilakukan lewat situs resmi mereka.
Untuk pertama kalinya pula, FIFA memberlakukan tiket masuk untuk Fan Fest yang biasanya gratis pada edisi-edisi sebelumnya. Namun, tidak untuk beberapa lokasi di Piala Dunia 2026 nanti, seperti Los Angeles dan Toronto. Harga tiketnya bervariasi, tetapi tetap memberatkan. Istilah apa yang tepat untuk mendefinisikan berbagai fenomena tadi kalau bukan kapitalisme?