Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Tinggal Sebulan Lagi, Piala Dunia 2026 Masih Anyep?
ilustrasi suporter sepak bola (Pexels.com/ Omar Ramadan)
  • Isu keamanan, visa, dan rasisme di Amerika Serikat serta kekerasan kartel di Meksiko membuat publik khawatir terhadap penyelenggaraan Piala Dunia 2026.
  • Sistem dynamic pricing dan tiket Fan Fest berbayar bikin penggemar kecewa karena harga melonjak tinggi dan akses jadi terbatas bagi penonton biasa.
  • Kondisi global yang penuh konflik, inflasi, dan daya beli menurun membuat antusiasme masyarakat terhadap Piala Dunia 2026 terasa lesu.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Piala Dunia 2026 tinggal sebulan lagi, tetapi ada yang aneh dari ajang sepak bola akbar satu ini. Tak seperti edisi-edisi sebelumnya yang sambutannya meriah, Piala Dunia kali ini terasa lebih anyep alias sepi. Tak ada gegap gempita yang bikin kita ikut tak sabar menanti turnamen dimulai.

Apa sebab di balik ini semua? Apakah ini kesalahan FIFA dan tuan rumah? Atau ada faktor lain yang membuat Piala Dunia 2026 terasa anyep? Mari bahas lebih jauh.

1. Masalah keamanan dan visa tidak diakomodasi sesuai harapan

Sejatinya tiap tuan rumah Piala Dunia juga menyimpan kontroversinya sendiri. Qatar disorot karena alegasi perlakuan buruk terhadap pekerja migran selama pembangunan infrastruktur Piala Dunia 2022. Rusia pada 2018 sebenarnya hampir dioboikot karena aneksasi ilegal terhadap Krimea yang secara yurisdiksi adalah bagian dari Ukraina. Brasil juga dikritik karena indikasi korupsi selama persiapan Piala Dunia 2014 dan masih banyak lainnya. Khusus untuk Amerika Serikat, kontroversi awalnya masih seputar keamanan (kekhawatiran akan penembakan massal dan rasisme) dan visa (izin masuk ke teritori negara).

Namun, bukannya direspons dengan bijak, administrasi Donald Trump sejak 2026 justru memperumit kekhawatiran tersebut. Misal dengan pemberlakuan visa bond deposit (kewajiban membayar deposit saat mendaftar visa turis dan bisnis) untuk warga negara tertentu yang dianggap kerap melanggar peraturan imigrasi. Isu rasisme dan tekanan untuk segera melakukan restriksi kepemilikan senjata pun sepertinya bakal dianggap angin lalu seiring lekatnya Trump dan partainya dengan kelompok konservatif di AS yang biasa disebut suporter MAGA (Make America Great Again). Isu keamanan juga jadi perhatian penggemar yang ingin menonton di Meksiko mengingat riwayat kekerasan kartel narkoba yang cukup brutal. Namun, sudah tertebak, cara termudah dan tercepat untuk meresponsnya tentu penempatan personel khusus dan terlatih secara besar-besaran di sekitar venue.

2. Penentuan harga dan skema penjualan tiket yang kapitalistik

Tak sampai di situ, kontroversi Piala Dunia 2026 meluas ke isu harga dan skema penjualan tiket. Pada awal 2026, FIFA merilis wacana pemberlakuan sistem dynamic pricing, yakni ketiadaan harga tetap. Sebagai gantinya harga bisa berubah-ubah sesuai permintaan yang datang dalam waktu sama). Saat banyak pihak mengeluhkan dan memprotesnya, FIFA sempat mencabut sementara wacana tersebut.

Namun, proses penjualan tiket dengan sistem harga dinamis tadi nyatanya tetap berjalan. FIFA memang menyediakan beberapa tiket khusus dengan harga relatif murah, yakni 60 dollar AS (sekitar Rp1 juta) dengan nama Supporter Entry Tier. Namun, pembeliannya agak rumit. Kamu harus terdaftar sebagai suporter timnas yang berpartisipasi di Piala Dunia 2026 dan alokasinya hanya 1 persen dari total kapasitas stadion. Posisi duduknya pun tak bisa dibilang strategis. Pada akhirnya, penonton bakal diarahkan untuk membeli tiket umum yang harganya dinamis tadi, yakni mulai 120-300 dollar AS (Rp2-5 jutaan). Namun, menurut amatan The Athletic per April 2026, harga tiket rata-rata ada di angka 400-700 dollar AS (Rp7-12 jutaan). Tiket untuk beberapa pertandingan sudah menembus 1.000-4.000 dollar AS (Rp17-69 jutaan). Tiket premium dengan tambahan fasilitas bisa lebih mahal lagi.

Ada lagi sistem penjualan yang bikin kesal penggemar, yakni resale dan exchange. Di sini, pembeli tiket yang melakukan pembelian di situs resmi diperbolehkan menjual ulang dan menukar tiket Piala Dunia 2026. Meski, terlihat tak berbahaya, sebenarnya ini bisa jadi celah untuk para calo dan pihak-pihak yang ingin mengambil untung dengan menjual tiket lebih mahal dari harga beli. Mirisnya, FIFA bisa tetap kebagian untung lewat pemotongan biaya administrasi dan pembatalan mengingat prosesnya hanya bisa dilakukan lewat situs resmi mereka.

Untuk pertama kalinya pula, FIFA memberlakukan tiket masuk untuk Fan Fest yang biasanya gratis pada edisi-edisi sebelumnya. Namun, tidak untuk beberapa lokasi di Piala Dunia 2026 nanti, seperti Los Angeles dan Toronto. Harga tiketnya bervariasi, tetapi tetap memberatkan. Istilah apa yang tepat untuk mendefinisikan berbagai fenomena tadi kalau bukan kapitalisme?

3. Kondisi dunia yang sedang tidak baik-baik saja

Alasan ketiga yang bikin penonton seolah tak antusias menyambut Piala Dunia 2026 tentu kondisi dunia yang tak baik-baik saja. Ketegangan regional belum mereda, ditandai banyaknya konflik bersenjata yang tak kunjung usai. Sejumlah mata uang melemah dan bisa jadi awal mula krisis di beberapa negara, termasuk Indonesia.

Pasar kerja sedang buruk di mana-mana. Inflasi harga menggila dan daya beli global turun. Manusia sedang sibuk bertahan hidup hingga Piala Dunia 2026 terasa kurang berarti. Mungkin kita akan tetap menikmati dan menontonnya sekilas, tetapi untuk menyambutnya dengan penuh suka cita, rasanya kurang pas. Piala Dunia yang biasanya dinikmati secara gratis lewat televisi dan bisa menjangkau semua orang kini rasanya lebih eksklusif dan elitis.

Mungkin ini hanya perasaan penulis saja, atau sebuah analisa prematur. Piala Dunia 2026 belum juga berjalan dan mungkin akan ada perkembangan positif nantinya. Namun, yang pasti kita akan melihat ajang olahraga beroperasi layaknya korporasi, bukan lagi sebuah organisasi nonprofit berbasis komunitas. Bagaimana menurutmu?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team