Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Tribute ke Cape Verde: Saat David Kejutkan Goliath di Piala Dunia 2026
Kiper Cape Verde, Vozinha, saat menyelamatkan gawangnya dari tandukan Mikel Oyarzabal di laga kontra Spanyol (AFP / Roberto Schmidt)
  • Cape Verde tampil mengejutkan di Piala Dunia 2026 dengan menahan imbang Spanyol dan Uruguay, lalu melaju ke babak 32 besar sebelum kalah dramatis dari Argentina.
  • Tim asuhan Bubista mencetak sejarah sebagai negara terkecil yang mencapai fase gugur dan mencetak gol di babak tersebut, membuktikan kekuatan semangat dalam sepak bola.
  • Pemain dan legenda sepak bola memuji Cape Verde karena menginspirasi dunia, menunjukkan bahwa negara kecil pun bisa bersaing dengan tim raksasa lewat format baru turnamen FIFA.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Cape Verde sudah tersingkir dari Piala Dunia 2026. Namun, aksinya sepanjang turnamen ternyata berhasil merebut hati publik dan kini menyandang status people champion.

Bukan tanpa alasan, sejak fase grup, Cape Verde sudah mencuri perhatian publik. Mereka secara mengejutkan mampu menahan dua tim raksasa, Spanyol (peringkat 3 dunia) dan Uruguay (peringkat 19 dunia).

Setelahnya, Cape Verde melaju ke babak 32 besar dan menantang Argentina. Sepanjang duel, Cape Verde mampu tampil eksplosif. Mereka merepotkan Argentina, dengan memaksanya memainkan perpanjangan waktu, meski pada akhirnya kalah.

1. Kebanggaan tersendiri buat Cape Verde

Sederet rekor dicetak Cape Verde sepanjang penampilannya di Piala Dunia 2026. Mereka menjadi negara terkecil di dunia yang main pada fase gugur, kemudian mencetak gol pula pada momen tersebut.

Cape Verde juga tak pernah kalah dalam 90 menit. Mereka berhasil mencetak empat gol, dengan dua di antaranya diciptakan di fase gugur. Hal itu menjadi pencapaian ketika Cape Verde merupakan negara terkecil yang mampu mencetak gol di fase gugur Piala Dunia.

Pelatih Cape Verde, Bubista, merasa bangga dengan performa anak-anak asuhnya. Dia menegaskan, apa yang dilakukan Cape Verde menjadi bukti dari keajaiban sepak bola.

"Kami membuktikan, negara kecil bisa melawan tim terbaik dunia. Kami mencetak sejarah untuk negara. Mereka akan bangga dengan kami yang mewakilinya," ujar Bubista, dilansir BBC Sport.

Bubista mengaku saat melawan Argentina tak memiliki harapan yang tinggi. Tanpa beban, tampil lepas, namun pada akhirnya Cape Verde bisa menyusul Argentina dua kali, meski akhirnya kalah dengan skor 2-3.

"Bisa main dan mengimbangi juara dunia, dua kali menyusul, itu luar biasa," kata Bubista.

2. Tak terdeteksi, kini sudah taruh sendiri Cape Verde di peta

Kiper Cape Verde, Vozinha, merayakan keberhasilan tahan imbang Spanyol (AFP / Roberto Schmidt)

Sementara, bek Shamrock Rovers, Roberto "Pico" Lopes, yang selalu main buat Cape Verde dalam empat laga di Piala Dunia 2026, merasa bangga dengan permainan tim sepanjang turnamen. Bagi Pico, kunci dari performa gemilang Cape Verde adalah jauh dari radar media dan tak menjadi unggulan atau masuk hitungan kuda hitam.

"Salah satu hal terbaik dari Piala Dunia kali ini adalah, tak ada satu pun yang bertanya di mana Cape Verde di peta. Ini sejarah buat kami. Kami yang menempatkan Cape Verde di peta dengan sendirinya. Kami negara kecil, tapi bisa menunjukkan hal yang mustahil menjadi mungkin. Jika Anda percaya, maka bisa melakukannya," kata Pico.

3. Bukti efektivitas format 48 tim

Aksi Cape Verde kini membuat mata dunia terbuka dengan format 48 tim. Lewat sistem turnamen baru, kini mulai terbuka kekuatan-kekuatan tak terdeteksi yang mampu merepotkan dan mengejutkan tim-tim raksasa.

"Inilah waktunya FIFA bisa memastikan uangnya mengarah ke setiap orang. Apa yang sudah ditunjukkan, memberikan harapan kepada orang-orang jika negara kecil bisa bersanding dengan juara dunia, pemain terhebat sepanjang masa," kata legenda Arsenal dan Inggris, Ian Wright.

Editorial Team

Related Article