Keberhasilan Charles Leclerc naik podium di GP Jepang 2026 mendapat atensi positif dari Frederic Vasseur. Ia terkesan dengan taktik Leclerc selama berduel dengan George Russell. Usaha Leclerc menahan serangan Russell membuktikan Ferrari punya kans bersaing dengan Mercedes yang dikenal memiliki keunggulan pada aspek pengelolaan energi.
"Secara keseluruhan, itu adalah pertarungan yang sengit. Ia menampilkan kecerdikan dengan sesekali membiarkan Russell menyalip di chicane terakhir agar bisa menyalip di tikungan pertama. Dia berhasil memanfaatkannya secara efektif dengan mode overtaking. Kami senang dan dia bisa bangga terhadap kinerjanya. Itu penampilan yang menakjubkan," kata Frederic Vasseur dilansir Autosport.
Leclerc dan Ferrari menerapkan strategi jitu perihal penggunaan daya baterai. Salah satunya yang terjadi di chicane sebelum tikungan terakhir. Leclerc tidak terlalu menguras banyak energi baterai sehingga Russell menyalipnya di area tersebut. Itu menjadi hal wajar mengingat Russell dalam posisi mengejar Leclerc sehingga memaksimalkan penggunaan energi baterai selepas tikungan 14 hingga mencapai chicane pemungkas.
Akan tetapi, strategi yang Russell pakai punya risiko besar. Ia kesulitan bertahan dari serangan Leclerc apabila terlalu banyak menggunakan energi baterai sebelum memasuki chicane terakhir. Situasi tersebut menjadi senjata bagi Leclerc untuk menyerang balik. Apalagi, titik deteksi mode overtake terdapat di area tikungan 17.
Leclerc bisa memanfaatkannya untuk memperoleh mode overtake karena berada di belakang Russell. Kemudian, ia dapat menggabungkan mode tersebut dengan mode boost saat melewati trek lurus start-finis. Gabungan kedua mode tersebut dapat menghasilkan selisih kecepatan mencapai 40 km/jam. Hal tersebut tentu menyulitkan Russell menahan serangan balik Leclerc karena tak punya sisa baterai yang memadai.