Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Lift and Coast, Teknik Populer yang Kontroversial di Formula 1 2026

Lift and Coast, Teknik Populer yang Kontroversial di Formula 1 2026
mobil balap Formula 1 (pexels.com/Jonathan Borba)
Intinya Sih
  • Formula 1 2026 memperkenalkan regulasi baru tanpa MGU-H, meningkatkan tenaga listrik hingga 50%, serta menghadirkan teknik lift and coast untuk memanen energi dan mendukung fitur Boost serta Overtake Mode.
  • Teknik lift and coast membantu pembalap menghemat bahan bakar, menjaga kondisi ban dan rem, sekaligus menyesuaikan strategi balapan dengan muatan bensin yang lebih ringan demi performa optimal.
  • Meskipun awalnya dikhawatirkan, mobil Formula 1 2026 terbukti lebih gesit dan bebas porpoising, namun perbedaan kecepatan akibat lift and coast menimbulkan risiko kecelakaan seperti insiden Oliver Bearman di GP Jepang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Formula 1 2026 memperkenalkan regulasi unit tenaga terbaru. Perubahan itu menghapus komponen Motor Generator Unit–Heat (MGU-H) dari unit tenaga. Aturan itu menaikkan porsi tenaga listrik hingga 50 persen.

Lewat regulasi terbaru, para pembalap Formula 1 menerapkan teknik lift and coast. Dalam teknik itu, mereka melepas gas lebih awal. Teknik itu bertujuan memanen energi untuk baterai mobil balap.

1. Lift and coast populer bersamaan dengan diperkenalkannya Boost dan Overtake Mode yang menggantikan DRS untuk membantu aksi menyalip

Pembalap Formula 1 mengendalikan teknik lift and coast melalui peta mesin (engine maps) otomatis. Mereka menabung cadangan energi untuk kebutuhan balapan. Kemudian, mereka menyalurkan tenaga listrik itu ke fitur Boost dan Overtake Mode.

Pada mobil balap Formula 1, tombol Boost memicu perubahan pengaturan tenaga. Pembalap menekan tombol itu di berbagai bagian lintasan. Fitur itu membantu mereka saat menyerang lawan.

Selain Boost, Formula 1 juga mengesahkan fitur Overtake Mode pada regulasi 2026. Sistem itu menggantikan teknologi Drag Reduction System (DRS) di lintasan. Alat itu memberikan tenaga listrik tambahan untuk aksi menyalip.

2. Lift and coast berfungsi menghemat bensin dan rem serta menjaga ban sehingga akan sangat berguna di Formula 1 2026

Di Formula 1 2026, tim-tim mengurangi muatan bensin demi catatan waktu tercepat. Oleh karena itu, pembalap mengaplikasikan teknik lift and coast selama jalannya balapan. Teknik itu terbukti menghemat konsumsi bensin mobil balap hingga garis finis.

Saat berkendara, pembalap memberikan tekanan besar kepada ban mobil balap. Gaya berkendara itu merusak kualitas karet ban secara cepat. Dengan demikian, mereka menerapkan lift and coast untuk mencegah keausan ban.

Tak lupa, pembalap Formula 1 juga menghadapi ancaman keausan rem saat berkompetisi. Manuver coasting menurunkan beban kerja rem sepanjang durasi balapan. Lantas, semua pembalap memprioritaskan gaya berkendara itu pada 2026.

3. Sempat menjadi kekhawatiran karena lift and coast, mobil balap Formula 1 2026 dianggap lebih gesit dan tidak memiliki masalah porpoising

Berkaitan lift and coast, para pembalap Formula 1 sempat mengeluh saat menggunakan simulator. Mereka kemudian menguji mobil balap musim 2026 dalam sesi uji coba lintasan pertama. Hasilnya, mereka merasakan pengalaman berkendara positif yang di luar dugaan buruk.

Regulasi Formula 1 terbaru memangkas bobot mobil balap hingga 30 kilogram. Para pembalap mengendarai mobil balap yang lebih kecil itu dengan sangat gesit. Mereka mengubah arah laju mobil balap secara mudah di tikungan lambat.

Mobil balap Formula 1 2026 dilaporkan menghilangkan masalah porpoising secara keseluruhan. Tim-tim mengatur tingkat ketinggian mobil balap tanpa batasan ketat seperti musim sebelumnya. Oleh karena itu, para pembalap merasakan kenyamanan fisik yang lebih baik pada area punggung.

4. Akan tetapi, lift and coast menimbulkan perbedaan kecepatan hingga 50 km/jam dan bisa memicu kecelakaan seperti Oliver Bearman

Pembalap Formula 1 sering mempraktikkan lift and coast dalam sesi kualifikasi. Tindakan itu menciptakan perbedaan kecepatan mobil balap hingga 50 km/jam di ujung lintasan lurus. Situasi itu bisa memicu kecelakaan dalam kecepatan tinggi, seperti di Grand Prix Jepang 2026.

Di Formula 1 Grand Prix Jepang 2026, Oliver Bearman menghadapi perbedaan kecepatan ekstrem dengan Franco Colapinto. Pembalap Inggris itu mengalami kecelakaan karena rentang kecepatan ini. Oleh karena itu, Formula 1 mencari solusi pencegahan masalah keselamatan ini.

Dalam pertemuan teknis mendatang, Formula 1 mempertimbangkan pembaruan regulasi aerodinamika aktif. Dalam konteks itu, tim memakai mode lintasan lurus untuk mengurangi hambatan udara. Teknologi itu memangkas tingkat pengeluaran daya baterai mobil balap.

Kesimpulannya, pembalap Formula 1 menggunakan teknik lift and coast yang sangat populer pada 2026. Akan tetapi, manuver itu memicu perbedaan kecepatan ekstrem. Situasi itu berpotensi mengancam keselamatan pembalap.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Gagah N. Putra
EditorGagah N. Putra
Follow Us

Latest in Sport

See More