Untuk TV berpanel OLED memang ada kekhawatiran soal burn-in alias gambar yang "membekas" permanen di layar, tapi sejumlah TV modern saat ini sudah dibekali fitur pembersihan piksel otomatis yang membuat masalah itu hampir tidak relevan lagi. Soal harga? TV OLED memang lebih mahal dari TV LCD, tapi itu wajar mengingat kualitasnya pun jauh di atas. Dengan segala keunggulannya, tentu sangat sulit untuk kembali ke TV LCD setelah mata atau kenyamanan penggunaan dimanjakan dengan berbagai fitur canggih yang dimiliki TV OLED. Berikut alasan mengapa sulit kembali ke TV LCD setelah beralih ke TV OLED.
5 Alasan Mengapa Sulit Kembali ke TV LCD Setelah Beralih ke TV OLED

1. Kedalaman warna hitam yang lebih baik
Salah satu keunggulan terbesar OLED dibanding LCD terletak pada kemampuannya menampilkan warna hitam yang benar-benar pekat dan sempurna. Hal ini bisa terjadi karena setiap piksel di OLED mampu mematikan dirinya sendiri secara mandiri ketika menampilkan konten yang gelap, sehingga tidak ada cahaya yang "bocor" sama sekali. LCD di sisi lain, mengandalkan backlight sebagai sumber cahaya dan karena cahaya tersebut tidak bisa dipadamkan sepenuhnya, maka warna hitam di layar seringkali terlihat seperti abu-abu kusam, lengkap dengan kebocoran cahaya di sudut layar. Singkatnya, dalam hal kedalaman warna hitam, OLED jelas unggul jauh di atas LCD.
2. Keseragaman layar yang superior
Dari segi kualitas layar, OLED dan LCD memiliki kelemahan masing-masing. Pada OLED, ada fenomena yang disebut banding yaitu munculnya garis-garis vertikal samar yang meski mengganggu, tapi masih lebih bisa ditoleransi dibanding burn-in. Untungnya, masalah ini semakin jarang ditemui di TV OLED modern, dan secara keseluruhan keseragaman layar OLED tetap tergolong sangat baik. Lain ceritanya dengan LCD, yang punya masalah tersendiri bernama Dirty Screen Effect (DSE) yaitu efek kotor pada layar yang tampak seperti bercak-bercak tidak merata. Ini terjadi karena cahaya dari backlight LCD tidak bisa tersebar secara sempurna, sehingga ketika menampilkan konten berlatar belakang seragam muncullah noda-noda mengganggu yang sangat merusak pengalaman menonton.
3. Lebih sempurna untuk bermain game
Keunggulan OLED dibanding LCD juga sangat terasa ketika digunakan bermain. Waktu respons TV OLED yang bisa mencapai 0,1ms jauh lebih cepat dibanding TV LCD yang rata-rata masih di kisaran 5ms atau lebih. Selain itu, tingkat keseragaman warna OLED yang lebih baik membuat pergerakan kamera terasa lebih natural, sementara kemampuannya menampilkan warna hitam yang benar-benar pekat meningkatkan pengalaman bermain, khususnya di game horor. Ketika bermain di TV LCD, sudut gelap di game seperti Resident Evil Requiem yang seharusnya mencekam malah terlihat seperti abu-abu pudar yang tentunya kurang imersif. Di OLED, kegelapan terasa seperti kegelapan sungguhan.
4. Kontras yang lebih mengesankan
OLED unggul jauh dibanding LCD dalam hal kualitas gambar, terutama soal kontras. OLED bisa menampilkan warna hitam yang benar-benar pekat karena setiap pikselnya bisa mati total, sehingga perbedaan antara area terang dan gelap dalam satu gambar tampak dramatis dan memukau. Selain itu, warnanya pun juga jadi lebih hidup dan "nendang". Sebaliknya, LCD mengandalkan lampu latar yang tidak bisa sepenuhnya padam, sehingga area gelap hanya terlihat abu-abu, bukan hitam sungguhan. Inilah yang membuat gambar di TV LCD cenderung datar dan kurang memiliki "nyawa".
5. Sudut pandang yang lebih luas
Salah satu kelemahan utama TV LCD adalah kualitas gambarnya menurun drastis ketika ditonton dari samping. Warna jadi pucat dan kontras berkurang, karena cahaya dari backlight harus menembus beberapa lapisan sebelum sampai ke mata pengguna, dan proses itu mudah terganggu oleh sudut pandang. Berbeda jauh dengan TV OLED yang menjadi favorit banyak orang, karena setiap pikselnya memancarkan cahaya sendiri tanpa bergantung pada backlight. Hasilnya, warna dan kontras tetap tajam dan akurat meski pengguna menontonnya dari sudut padang yang cukup ekstrem sekalipun.
Demikian tadi ulasan mengenai beberapa alasan mengapa sulit kembali ke TV LCD setelah beralih ke TV OLED. Setuju dengan ulasan di atas?