Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
IMG_1068.jpeg
Acara "Digital Economy & Telco Outlook 2026" di Jakarta, pada Kamis (26/11/2025) (IDN Times/Misrohatun)

Intinya sih...

  • Konsumen smartphone beralih dari "yang paling murah" ke konsep "smart value" yang menekankan kualitas, daya tahan, dan manfaat dalam pemakaian sehari-hari.

  • Value for money menjadi faktor terpenting bagi konsumen, dengan penekanan pada kualitas tinggi, daya tahan produk, kemudahan hidup, dan kepercayaan terhadap merek.

  • Pasar smartphone Indonesia mengalami pergeseran dari segmen harga rendah ke segmen menengah-atas, dengan preferensi terhadap smart value yang menawarkan paket manfaat lengkap.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Di tengah tekanan ekonomi dan harga yang makin sensitif, konsumen smartphone justru bergerak menjauhi “yang paling murah” menuju konsep “smart value” yang lebih kompleks. Data NIQ Consumer Life 2025 menunjukkan sekitar 6 dari 10 konsumen global kini menempatkan value for money sebagai faktor terpenting dalam menilai sebuah brand, mengungguli sekadar tampilan stylish atau harga serendah mungkin.

Dalam konteks pasar smartphone, pergeseran ini tercermin pada meningkatnya kontribusi segmen mid–high dan premium, ketika pengguna rela naik kelas asalkan mendapatkan kombinasi kualitas, daya tahan, dan fitur yang benar-benar terasa manfaatnya dalam pemakaian sehari-hari.

Value for money jadi penting

Survei yang mencakup 18 negara menunjukkan sekitar 60 persen responden setuju bahwa hal paling penting dari sebuah brand adalah kemampuan memberi good value for money dan angka ini naik sekitar 1,5 poin dibanding 2024. Menariknya, ketika diminta merinci apa yang dimaksud dengan value, konsumen justru lebih menekankan kualitas tinggi, daya tahan produk, kemudahan hidup (makes life easier), dan kepercayaan terhadap merek.

Sementara aspek “inexpensive” dan “stylish” berada di posisi terbawah dalam daftar prioritas. Temuan ini mengindikasikan bahwa di pasar smartphone, konsumen tidak lagi puas dengan perangkat yang hanya murah, mereka menuntut paket manfaat yang utuh dan berjangka panjang dari setiap rupiah yang dikeluarkan.

Bramantiyoko Sasmito, Director Tech and Durables Commercial Lead, NielsenIQ Indonesia mengatakan pertumbuhan pasar gadget di Indonesia mengalami peningkatan ada kuartal kedua dan ketiga di tahun 2025 ini. 

"Berpatokan pada dua kuartal tersebut, kami optimis di tahun 2026 nanti masih ada peningkatan pertumbuhan. Tetapi dari survei kami, brand harus menyediakan produk yang diinginkan konsumen. Misalnya durability, kualitas yang bagus hingga membangun kepercayaan konsumen terhadap brand," ujarnya dalam acara "Digital Economy & Telco Outlook 2026" di Jakarta, pada Kamis (26/11/2025).

Implikasi ke pasar HP

Ilustrasi memegang ponsel (Freepik/press foto)

Di pasar smartphone Indonesia, preferensi terhadap smart value tercermin pada pergeseran kontribusi nilai dari segmen harga rendah ke segmen menengah–atas, di mana porsi value mid–high kini sudah melampaui segmen low price. Hal ini bisa terjadi meskipun secara total kategori Telecom sempat mencatat pertumbuhan nilai negatif, yang berarti konsumen memilih membeli lebih sedikit perangkat tetapi dengan harga dan kualitas lebih tinggi ketika akhirnya memutuskan upgrade.

Data pertumbuhan segmen premium di berbagai kategori teknologi juga menguatkan tren tersebut di mana  smartphone dengan spesifikasi lebih tinggi (misalnya kapasitas penyimpanan besar dan fitur lebih lengkap) mencatat pertumbuhan nilai positif, sementara total kategori smartphone masih relatif tertekan.

Bagi konsumen, keputusan naik kelas ke perangkat mid–high menjadi cara untuk memaksimalkan manfaat jangka panjang—mulai dari performa, kamera, hingga kesiapan 5G dan AI—sehingga setiap pembelian terasa sebagai investasi, bukan sekadar pengeluaran rutin.

"Kondisi ekonomi yang menekan memang membuat segmen low-end terkontraksi. Namun konsumen yang punya kebutuhan lebih tinggi tetap mencari produk premium yang relevan dan berkualitas," lanjut Bramantiyoko.

Seperti apa smart value?

Dalam konteks smartphone, smart value dapat dipahami sebagai titik temu antara harga yang masih masuk akal dengan paket manfaat yang terasa lengkap, mulai dari kualitas material, performa harian yang stabil, hingga dukungan software dan layanan purna jual yang membuat perangkat nyaman dipakai dalam jangka panjang. Konsumen tidak hanya menimbang harga awal, tetapi juga umur pakai perangkat, risiko cepat rusak, dan seberapa besar smartphone tersebut benar-benar membantu aktivitas harian seperti kerja, belajar, dan hiburan.

Data NIQ menunjukkan bahwa segmen premium di berbagai kategori teknologi–termasuk smartphone dengan kapasitas penyimpanan lebih besar dan fitur lebih lengkap–mencatat pertumbuhan nilai positif ketika total kategori masih tertekan, menandakan willingness to pay untuk spesifikasi yang jelas manfaatnya.

Pada smartphone, smart value sering diwujudkan lewat kombinasi kapasitas penyimpanan besar (misalnya varian di atas 512 GB di kelas tertentu), kamera dan performa gaming yang mumpuni, serta kesiapan fitur masa depan seperti 5G dan AI CPU yang membuat perangkat tetap relevan beberapa tahun ke depan tanpa perlu cepat upgrade.

Strategi brand

Ilustrasi ponsel (pexels.com/thomas vanhaecht)

Strategi pemasaran brand smartphone harus bertransformasi dari sekadar menawarkan harga termurah ke arah menonjolkan nilai atau value yang dapat dirasakan konsumen secara menyeluruh. Narasi termurah di kelasnya mulai kurang efektif karena konsumen kini lebih mengedepankan bagaimana perangkat tersebut dapat menunjang aktivitas harian dengan kualitas dan daya tahan yang terjamin.

Brand dapat memperkuat persepsi value for money dengan mengedepankan keunggulan lain seperti garansi panjang, program trade-in, bundling paket data, dan kemudahan cicilan tanpa kartu kredit. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan loyalitas, tetapi juga membangun citra sebagai merek yang peduli dan dapat dipercaya dalam jangka panjang.

Selain itu, penyampaian cerita yang fokus pada daya tahan, pembaruan software berkala, dan manfaat fitur AI membuat konsumen merasa investasi pembelian mereka semakin bernilai dibandingkan sekadar harga di awal.

Pasar smartphone Indonesia diperkirakan akan tumbuh positif sebesar 1,0 hingga 3,5 persen secara nilai pada 2026, menandai pemulihan pasca tekanan ekonomi di tahun-tahun sebelumnya. Dalam konteks ini, pertarungan pasar tidak lagi hanya soal harga paling rendah, melainkan siapa yang mampu menyajikan value sesuai harapan konsumen modern yang semakin selektif.

Brand dan retailer perlu melihat value sebagai ekosistem yang utuh, mencakup kualitas produk, layanan purna jual, pengalaman pembelian, serta penyesuaian kanal distribusi, terutama peran penting modern retailer yang semakin dominan pada segmen mid–high.

Pendekatan ini memastikan bahwa konsumen tidak hanya puas dengan produk yang dibeli, tetapi juga merasa bahwa investasi mereka memiliki nilai jangka panjang, memperkuat loyalitas dan potensi pertumbuhan bisnis.

Prediksi ekonomi digital 2026

ilustrasi ponsel

Dalam kesempatan yang sama Founder dan CEO Toco mengatakan terkait fenomena e-commerce yang muncul hingga tutup di Indonesia.

"Saya masih meyakini e-commerce masih tetap bertumbuh di Indonesia untuk tahun 2026, meski banyak yang sudah tutup saat ini. Toco sendiri baru berusia 12 bulan, tetapi kunci untuk terus bertumbuh yakni terus berimprovisasi dan kami tidak ada biaya administrasi yang membantu UMKM juga untuk bertumbuh," imbuhnya.

Sementara Kelik Fidwiyanto, Channel Partnership Senior Specialist DANA, juga setuju jika improvisasi harus terus dilakukan termasuk untuk sektor finansial digital (fintech). Dia menyebut salah satu contoh improvisasi yang harus dilakukan yakni penerapan kecerdasan buatan (AI).

Menurutnya, DANA sudah menerapkan teknologi akal imitasi (artificial intelligence/AI) untuk berbagai keperluan pelanggan hingga mengantisipasi penipuan scam. Perusahaan juga sudah mengembangkan QRIS Tap.

Di sisi lain, Teuku Riefky, Pengamat Ekonomi dan Peneliti LPEM UI menyebut jika pertumbuhan ekonomi di Indonesia masih akan stagnan. Riefky mengatakan salah satu penyebabnya karena lapangan pekerjaan yang masih belum baik.

"Perlu banyak investasi jika ingin membuka sebanyak-banyaknya lapangan pekerjaan, dan untuk membuka investasi maka perlu kepastian hukum, sehingga pemerintah harus memperhatikan hal tersebut di tahun 2026," kata Teuku.

Editorial Team