iPhone Air Gagal, Tren Smartphone Tipis Mulai Redup di 2026?

- Penjualan iPhone Air yang melempem membuat pabrikan smartphone kompak berputar arah
- Pabrikan smartphone China dan Samsung ikut menunda pengembangan smartphone tipis
- Mengapa kegagalan ini justru menguntungkan konsumen?
Geliat smartphone tipis yang sempat digembar-gemborkan beberapa tahun terakhir mulai meredup setelah iPhone Air gagal menarik perhatian pasar global. Saat Apple memperkenalkan iPhone Air pada September 2025, desain super-tipis itu diprediksi menjadi gebrakan baru yang akan mengubah arah tren industri smartphone. Namun, realita di lapangan justru berkata lain. Pemangkasan produksi, ketersediaan stok yang berlebih di sejumlah negara, dan minimnya antusiasme pembeli menjadi indikator kuat bahwa konsep lebih tipis selalu lebih baik tidak lagi sesuai dengan kebutuhan konsumen saat ini.
Melansir Wfftech, Japan’s Mizuho Securities mengungkap data yang ditemukan oleh The Elec terkait penurunan penjualan iPhone Air Lemahnya performa penjualan membuat analis memangkas proyeksi produksi iPhone untuk 2025. Target pengapalan tahunan Apple yang awalnya diperkirakan mencapai 246 juta unit tahun ini diturunkan sekitar 7 persen menjadi 229 juta unit untuk 2026. Khusus iPhone Air, proyeksi produksinya dipangkas 1 juta unit, meskipun produksi total iPhone untuk tahun tersebut justru naik dari 88 juta unit menjadi 94 juta unit. Untungnya, Apple masih memiliki keunggulan melalui tingginya penjualan iPhone secara umum di pasar China, yang saat ini menjadi pasar smartphone terbesar di dunia.
Situasi ini membuat banyak produsen smartphone berpikir dua kali untuk melanjutkan rencana perilisan perangkat tipis mereka. Sejumlah smartphone bergay “Air-style” yang sebelumnya dirumorkan meluncur pada 2026 kini dikabarkan dihentikan atau ditunda. Lantas, apakah kegagalan iPhone Air ini akan menjadi titik balik yang membuat tren smartphone super tipis meredup pada tahun 2026?
1. Penjualan iPhone Air yang melempem membuat pabrikan smartphone kompak berputar arah

Peluncuran iPhone Air semula dipandang sebagai langkah Apple dalam menyegarkan desain iPhone, mengingat ini merupakan pembaruan visual paling signifikan sejak era iPhone X. Namun, upaya menghadirkan bodi yang sangat tipis membuat Apple harus mengambil banyak jalan pintas. Kapasitas baterai dikurangi cukup drastis, konfigurasi kamera disederhanakan menjadi satu lensa, dan sejumlah fitur lain ikut dipangkas demi mencapai profil yang lebih ramping. Lebih membingungkan lagi, iPhone Air tetap dijual pada harga premium mulai Rp21 juta yang selisihnya sedikit dari iPhone 17 Pro seharga Rp23 juta. Padahal, model Pro justru menawarkan fitur yang jauh lebih lengkap
Sejak rilis pada September lalu, performa penjualan iPhone Air dikabarkan kurang memuaskan. Inilah sebabnya Apple memang tidak lagi memublikasikan angka penjualan iPhone. Namun, beberapa laporan dari pemasok menunjukkan adanya pemangkasan produksi.
Foxconn selaku perakit utama dikabarkan telah membongkar seluruh lini produksi iPhone Air, sementara Luxshare menghentikan produksi pada akhir Oktober. Tidak berhenti sampai di situ, laporan The Information menyebut bahwa Apple menunda pengembangan iPhone Air generasi kedua untuk merancang ulang perangkat agar mampu memuat kapasitas baterai lebih besar dan memasukkan kamera tambahan. Serangkaian keputusan ini menunjukkan bahwa Apple menyadari desain super tipis saat ini belum mampu memenuhi ekspektasi pengguna maupun standar kualitas untuk perangkat premium.
2. Pabrikan smartphone China dan Samsung ikut menunda pengembangan smartphone tipis

Dampak kegagalan iPhone Air ternyata tidak hanya dirasakan oleh Apple, tetapi juga merembet ke produsen smartphone besar asal China. Berdasarkan laporan MacRumors dan DigiTimes, Sabtu (29/11/2025), sejumlah kompetitor memilih menarik diri secara perlahan dari rencana pengembangan smartphone tipis. Xiaomi yang sebelumnya menargetkan peluncuran “true Air model” kini menghentikan seluruh proses pengembangannya. Sementara itu, vivo yang berniat menghadirkan desain super tipis pada seri S juga menunda proyek tersebut setelah melihat performa pasar yang jauh dari harapan. OPPO dan beberapa pabrikan lainnya pun ikut mengalihkan komponen yang awalnya disiapkan untuk perangkat tipis, termasuk modul eSIM ke seri produk lain yang dinilai lebih menjanjikan.
Fenomena serupa juga dialami Samsung melalui Galaxy S25 Edge. Mengutip laporan Digital Trends, lemahnya penjualan membuat Samsung memutuskan menghentikan seluruh pengembangan Galaxy S26 Edge. Keputusan ini menunjukkan bahwa bahkan perusahaan yang dikenal berani bereksperimen dalam desain akhirnya turut mundur dari perlombaan smartphone tipis. Secara keseluruhan, langkah berbagai pabrikan besar ini menandakan semakin kuatnya pergeseran industri menuju perangkat yang lebih fungsional dan tidak lagi mengejar ketipisan ekstrem sebagai nilai jual utama.
3. Mengapa kegagalan ini justru menguntungkan konsumen?

Situasi merosotnya penjualan iPhone Air sebenarnya menghadirkan sisi positif bagi konsumen. Selama beberapa tahun terakhir, obsesi industri menghadirkan smartphone super tipis memaksa produsen membuat berbagai kompromi yang justru merugikan pengguna. Kondisi tersebut memungkinkan pengguna menikmati smartphone yang benar-benar mengutamakan fungsi dan mendukung kebutuhan harian, bukan sekadar menarik dari segi tampilan.
Selain itu, pabrikan smartphone juga bisa mengurangi kejenuhan produk. Pasar global kian jengah karena dipenuhi banyak model yang memiliki pendekatan desain serupa tanpa adanya nilai tambah yang signifikan. Jika produk smartphone bergaya air-style semakin sedikit di pasaran, konsumen bisa memilih perangkat lebih mudah tanpa terjebak dalam gimmick desain.
4. Harapan untuk 2026 kepada pabrikan smartphone untuk lebih realistis dalam menghadirkan perangkat

Memasuki 2026, industri smartphone diharapkan mulai bergerak menuju pendekatan yang lebih realistis dan berorientasi pada kebutuhan pengguna. Para produsen diprediksi akan merilis perangkat yang menawarkan keseimbangan antara daya tahan baterai, kualitas kamera, hingga ketangguhan bodi. Apple pun disebut tengah meninjau ulang desain iPhone Air generasi berikutnya agar lebih sesuai dengan ekspektasi pasar. Sementara itu, merek seperti Motorola dan TECNO kabarnya masih akan mencoba bereksperimen pada konsep smartphone tipis, meski tren tersebut tak lagi mendominasi perhatian publik.
Untuk saat ini, langkah paling bijak adalah menunggu bocoran awal tahun 2026 guna melihat bagaimana produsen menyusun ulang portofolio produk mereka. Jika tren “balanced phones” benar-benar menjadi arah baru industri, konsumen berpeluang mendapatkan perangkat yang lebih matang dan proporsional. Pengalaman di tahun ini memperlihatkan bahwa desain super tipis tidak lagi cukup kuat untuk menjadikan sebuah smartphone berbeda tanpa dukungan fitur yang solid. Karena itu, perkembangan menarik yang perlu diamati ke depan adalah apakah produsen akan tetap mengikuti pendekatan fungsional atau kembali tergoda mencoba desain ekstrem lainnya.
Meredupnya hype smartphone bergaya air-style menjadi pelajaran besar bagi hampir semua pabrikan setelah apa yang terjadi pada iPhone Air. Situasi ini membuktikan bahwa tidak semua inovasi dapat diterima pasar, terlebih jika pengorbanan fungsi dianggap terlalu besar. Produsen kini tampaknya semakin memahami prioritas konsumen yang menempatkan daya tahan baterai, kualitas kamera, dan build quality sebagai kebutuhan utama. Menurunnya minat terhadap HP tipis juga membuka ruang bagi perangkat yang memiliki harga lebih kompetitif tetapi tetap mengedepankan kualitas.
Secara visual, smartphone tipis memang tampak menarik dan elegan. Namun, sebagian besar pengguna ternyata lebih memprioritaskan fungsi dibanding tampilan semata. Di sinilah produsen perlu lebih jeli dalam membaca kebutuhan sehingga konsumen memperoleh perangkat yang cocok untuk pemakaian sehari-hari, bukan hanya mengikuti tren desain jangka pendek. Menarik untuk ditunggu apakah 2026 mendatang menjadi momen refleksi bagi pabrikan untuk menghadirkan smartphone yang lebih seimbang dan memiliki nilai terbaik. Kalau kamu sendiri, lebih tertarik smartphone tipis atau perangkat yang menawarkan paket lengkap?


















