Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Gak Cuma BBM, Efek Konflik Iran Merembet ke Harga Gadget
ilustrasi rak di toko elektronik (magnific.com/mrsiraphol)
  • Konflik Iran memicu gangguan rantai pasok elektronik global, menaikkan harga bahan baku seperti PCB dan copper foil hingga puluhan persen serta memperlambat distribusi material penting industri teknologi.
  • Produsen masih menahan lonjakan biaya agar harga gadget tetap stabil, namun analis memperkirakan kenaikan harga dan potensi kelangkaan produk akan mulai terasa dalam beberapa bulan mendatang.
  • Permintaan tinggi dari sektor AI memperketat persaingan komponen dengan industri elektronik konsumen, menciptakan tekanan jangka panjang terhadap biaya produksi dan harga perangkat teknologi modern.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Konflik geopolitik di Timur Tengah mulai memunculkan dampak yang lebih luas dari kenaikan harga minyak dan bahan bakar. Industri teknologi global juga ikut terkena imbas setelah rantai pasok komponen elektronik mengalami tekanan akibat konflik Iran. Situasi tersebut memicu kekhawatiran baru karena harga gadget dan perangkat elektronik diprediksi ikut naik dalam beberapa bulan ke depan. Konsumen yang berencana membeli smartphone, laptop, atau perangkat rumah tangga elektronik kemungkinan akan mulai merasakan efeknya secara perlahan.

Selama ini, banyak orang menganggap konflik di kawasan Timur Tengah hanya berdampak pada sektor energi. Namun, industri teknologi juga sangat bergantung pada stabilitas rantai pasok global, terutama untuk bahan baku elektronik. Ketika distribusi material terganggu, biaya produksi perangkat teknologi ikut meningkat. Para analis bahkan mulai memperingatkan bahwa konsumen bisa menghadapi harga lebih mahal, diskon yang lebih sedikit, hingga stok produk yang makin terbatas.

1. Harga komponen elektronik mulai naik

ilustrasi soldering sirkuit (pexels.com/Quang Nguyen Vinh)

Mengutip Fox Business, Senin (11/5/2026), salah satu sektor yang paling terdampak adalah produksi printed circuit board (PCB), komponen penting yang digunakan hampir di seluruh perangkat elektronik modern. PCB berfungsi sebagai “sistem saraf” perangkat elektronik karena menghubungkan berbagai komponen di dalam smartphone, komputer, mobil, hingga server AI. Ketika pasokan bahan bakunya terganggu, biaya produksi industri teknologi langsung ikut terdorong naik. Kondisi ini kemudian memicu efek berantai ke berbagai sektor elektronik global.

Menurut laporan Goldman Sachs, harga circuit board melonjak hingga 40 persen hanya dalam April 2026. Di saat yang sama, harga copper foil atau lembaran tembaga yang menjadi bahan utama PCB juga naik sekitar 30 persen sepanjang tahun ini. Kenaikan tersebut membuat produsen mulai menghadapi biaya produksi yang jauh lebih tinggi dibanding sebelumnya. Situasi itu memperlihatkan bagaimana gangguan di satu bagian rantai pasok bisa berdampak luas terhadap industri teknologi secara keseluruhan.

Pemicunya disebut berasal dari serangan Iran terhadap kompleks petrokimia Jubail di Arab Saudi pada awal April lalu. Serangan tersebut mengganggu produksi resin penting yang digunakan dalam pembuatan PCB dan memperketat pasokan global. Selain itu, jalur pengiriman di kawasan Teluk juga ikut mengalami hambatan akibat konflik yang terus memanas. Kondisi tersebut membuat proses distribusi material menjadi lebih lambat dan memicu keterlambatan produksi di berbagai sektor teknologi.

Produsen elektronik kini berlomba mengamankan bahan baku agar proses produksi tetap berjalan normal. Beberapa bahan kimia bahkan mengalami lonjakan waktu tunggu pengiriman dari tiga minggu menjadi hingga 15 minggu. Tekanan tersebut memperlihatkan bahwa gangguan tidak hanya terjadi pada satu komponen saja, tetapi mulai menyebar ke seluruh rantai pasok teknologi. Biaya produksi memori, storage, hingga wafer semikonduktor juga dilaporkan ikut mengalami kenaikan.

2. Dampaknya belum langsung terasa tapi mulai mendekat

ilustrasi baterai lithium (unsplash.com/Tyler Lastovich)

Meski kondisi rantai pasok mulai terganggu, konsumen kemungkinan belum langsung melihat kenaikan harga secara drastis dalam waktu dekat. Banyak perusahaan teknologi masih mencoba menahan lonjakan biaya dengan menyerap sebagian beban produksi atau melakukan negosiasi ulang kontrak pasokan. Langkah tersebut dilakukan agar harga jual perangkat tetap kompetitif di pasar. Namun, para analis menilai kemampuan perusahaan untuk menahan kenaikan biaya memiliki batas tertentu.

Analis IDC (International Data Corporation), Galen Zeng, mengatakan dampak ke konsumen kemungkinan baru akan mulai terlihat dalam beberapa bulan ke depan. Dan Ives dari Wedbush Securities juga memperkirakan efek kenaikan harga akan lebih terasa pada paruh kedua tahun ini. Momentum tersebut berpotensi bertepatan dengan musim belanja besar seperti back-to-school dan awal musim liburan akhir tahun. Ketika permintaan elektronik meningkat, tekanan harga bisa menjadi semakin besar karena pasokan yang terbatas.

Selain harga yang berpotensi naik, konsumen juga bisa menghadapi masalah ketersediaan produk. Jika gangguan rantai pasok terus berlangsung, beberapa perangkat elektronik mungkin mengalami keterlambatan distribusi atau bahkan kehabisan stok di sejumlah pasar. Situasi tersebut sebelumnya juga pernah terjadi saat pandemi global mengganggu industri semikonduktor. Karena itu, risiko kelangkaan produk kini kembali menjadi perhatian pelaku industri teknologi.

Data dari Institute for Supply Management menunjukkan perusahaan biasanya akan meneruskan sebagian kenaikan biaya kepada konsumen. Walaupun produsen berusaha menyerap sebagian tekanan melalui margin keuntungan, kenaikan harga tetap sulit dihindari sepenuhnya. Historisnya, gangguan rantai pasok global jarang benar-benar hilang tanpa meninggalkan dampak pada harga ritel. Konsumen pun kemungkinan tetap harus menghadapi kenaikan harga gadget secara bertahap.

3. AI ikut memperparah persaingan komponen

ilustrasi sales HP di sebuah gerai (freepik.com/ASphotofamily)

Tekanan terhadap rantai pasok elektronik sebenarnya sudah muncul bahkan sebelum konflik Timur Tengah memanas. Permintaan tinggi terhadap infrastruktur AI membuat kebutuhan komponen elektronik meningkat drastis dalam beberapa tahun terakhir. Server AI membutuhkan PCB dan komponen performa tinggi dalam jumlah besar sehingga pasokan global semakin ketat. Kondisi tersebut membuat industri elektronik konsumen dan sektor AI kini saling bersaing mendapatkan material yang sama.

Akibatnya, produsen smartphone, laptop, dan perangkat elektronik lainnya harus berebut komponen dengan perusahaan pengembang AI dan pusat data. Ketika pasokan terbatas, harga komponen otomatis ikut terdorong naik. Situasi tersebut memperburuk tekanan yang sebelumnya sudah muncul akibat gangguan rantai pasok global. Para analis menilai kombinasi konflik geopolitik dan lonjakan kebutuhan AI menjadi tantangan besar bagi industri teknologi saat ini.

Beberapa analis bahkan menilai kondisi ini bukan sekadar kenaikan harga sementara. IDC menyebut industri teknologi sedang memasuki siklus kenaikan biaya jangka panjang yang dipicu oleh pertumbuhan AI global. Artinya, harga dasar perangkat elektronik modern kemungkinan akan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan. Permintaan besar terhadap AI diperkirakan tetap tinggi sehingga tekanan terhadap pasokan komponen belum akan mereda dalam waktu dekat.

Pada akhirnya, dampak konflik Iran kemungkinan akan terasa langsung di pasar elektronik konsumen. Harga gadget berpotensi menjadi lebih mahal, promo dan diskon bisa semakin berkurang, sementara stok perangkat tertentu mungkin menjadi lebih sulit ditemukan. Gangguan yang awalnya terjadi jauh di dalam rantai pasok global perlahan mulai bergerak menuju pasar ritel. Jika kondisi geopolitik dan permintaan AI terus meningkat, pemulihan industri teknologi juga diperkirakan tidak akan terjadi dengan cepat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team