ilustrasi soldering sirkuit (pexels.com/Quang Nguyen Vinh)
Mengutip Fox Business, Senin (11/5/2026), salah satu sektor yang paling terdampak adalah produksi printed circuit board (PCB), komponen penting yang digunakan hampir di seluruh perangkat elektronik modern. PCB berfungsi sebagai “sistem saraf” perangkat elektronik karena menghubungkan berbagai komponen di dalam smartphone, komputer, mobil, hingga server AI. Ketika pasokan bahan bakunya terganggu, biaya produksi industri teknologi langsung ikut terdorong naik. Kondisi ini kemudian memicu efek berantai ke berbagai sektor elektronik global.
Menurut laporan Goldman Sachs, harga circuit board melonjak hingga 40 persen hanya dalam April 2026. Di saat yang sama, harga copper foil atau lembaran tembaga yang menjadi bahan utama PCB juga naik sekitar 30 persen sepanjang tahun ini. Kenaikan tersebut membuat produsen mulai menghadapi biaya produksi yang jauh lebih tinggi dibanding sebelumnya. Situasi itu memperlihatkan bagaimana gangguan di satu bagian rantai pasok bisa berdampak luas terhadap industri teknologi secara keseluruhan.
Pemicunya disebut berasal dari serangan Iran terhadap kompleks petrokimia Jubail di Arab Saudi pada awal April lalu. Serangan tersebut mengganggu produksi resin penting yang digunakan dalam pembuatan PCB dan memperketat pasokan global. Selain itu, jalur pengiriman di kawasan Teluk juga ikut mengalami hambatan akibat konflik yang terus memanas. Kondisi tersebut membuat proses distribusi material menjadi lebih lambat dan memicu keterlambatan produksi di berbagai sektor teknologi.
Produsen elektronik kini berlomba mengamankan bahan baku agar proses produksi tetap berjalan normal. Beberapa bahan kimia bahkan mengalami lonjakan waktu tunggu pengiriman dari tiga minggu menjadi hingga 15 minggu. Tekanan tersebut memperlihatkan bahwa gangguan tidak hanya terjadi pada satu komponen saja, tetapi mulai menyebar ke seluruh rantai pasok teknologi. Biaya produksi memori, storage, hingga wafer semikonduktor juga dilaporkan ikut mengalami kenaikan.