Saat ini Apple masih menawarkan MacBook Neo dalam dua pilihan kapasitas penyimpanan, yakni 256GB dan 512GB. Varian 256GB dijual mulai 599 dolar AS atau 10,5 juta rupiah, sedangkan versi 512GB dibanderol sekitar 699 dolar AS atau setara 12 juta rupiah. Namun, meningkatnya biaya produksi memunculkan dugaan bahwa Apple bisa saja menghentikan model termurah demi menjaga margin keuntungan perusahaan.
Strategi serupa sebenarnya pernah dilakukan Apple pada lini Mac Mini. Perusahaan sebelumnya menghentikan model 256GB lalu hanya menyisakan varian 512GB berharga lebih tinggi. Langkah tersebut dinilai membantu Apple mengurangi tekanan margin di tengah kenaikan biaya komponen. Karena itu, tidak sedikit pengamat yang memprediksi pendekatan serupa bisa diterapkan pada MacBook Neo.
Selain kemungkinan menghapus model murah, Apple juga disebut sedang mempertimbangkan strategi lain untuk menjaga daya tarik produk. Salah satu opsi yang muncul ialah menghadirkan pilihan warna baru untuk MacBook Neo. Langkah ini dinilai dapat membantu meningkatkan antusiasme konsumen sekaligus mengalihkan perhatian dari potensi kenaikan harga pada masa mendatang.
Meski begitu, hingga saat ini Apple masih belum memberikan konfirmasi resmi terkait perubahan harga maupun penghentian salah satu varian MacBook Neo. Perusahaan tampaknya masih fokus memastikan pasokan perangkat tetap tersedia di tengah tingginya permintaan pasar global. Jika tren penjualan terus berlanjut, MacBook Neo berpotensi menjadi salah satu produk Mac paling sukses Apple dalam beberapa tahun terakhir.
Popularitas MacBook Neo menunjukkan bahwa pasar laptop murah premium masih memiliki peluang besar untuk berkembang. Banyak konsumen ternyata tertarik pada perangkat berharga lebih terjangkau tetapi tetap menawarkan pengalaman khas ekosistem Apple. Keberhasilan ini sekaligus memperlihatkan bagaimana strategi produk yang tepat mampu membuka segmen pengguna baru bagi perusahaan teknologi besar.
Di sisi lain, lonjakan permintaan tersebut juga menjadi tantangan serius bagi Apple dalam menjaga keseimbangan antara pasokan, biaya produksi, dan margin keuntungan. Keputusan menggandakan produksi menunjukkan perusahaan lebih memilih mempertahankan momentum pasar dibanding membatasi penjualan demi efisiensi biaya. Menarik untuk menantikan langkah Apple selanjutnya, mulai dari kemungkinan perubahan harga hingga penambahan warna baru atau penyederhanaan varian MacBook Neo pada masa depan.