Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kenapa Pasar Laptop di Indonesia Kurang Variatif Dibanding HP?

ilustrasi laptop
ilustrasi laptop (unsplash.com/Clastr Cloud Gaming)
Intinya sih...
  • Dominasi smartphone dalam kehidupan digital
  • Siklus pemakaian laptop yang lebih panjang
  • Segmentasi pasar laptop semakin spesifik
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Pasar gadget di Indonesia selalu terlihat ramai, terutama ketika berbicara soal smartphone atau HP. Setiap bulan, ada saja model baru dengan desain, fitur, dan segmentasi harga yang beragam. Semuanya tersedia dan mudah ditemukan di pasar. Kondisi ini secara tidak langsung membuat smartphone terasa jauh lebih hidup dibandingkan laptop.

Sebaliknya, saat kamu melihat pasar laptop Indonesia, pilihannya cenderung itu-itu saja. Model yang beredar sering kali hanya berputar di seri yang sama dengan penyegaran spesifikasi kecil. Inilah yang membuat banyak konsumen merasa laptop di Indonesia kurang variatif dibandingkan smartphone. Padahal, dari sisi fungsi, laptop masih memegang peran penting dalam dunia produktivitas. Lantas, apa yang menjadi penyebab pasar laptop di Indonesia kurang variatif dibanding HP?

1. Dominasi smartphone yang agresif dalam kehidupan digital

ilustrasi smartphone
ilustrasi smartphone (unsplash.com/Andrey Matveev)

Salah satu faktor terbesar dalam perbandingan pasar gadget Indonesia adalah dominasi smartphone. Dilansir dari Kompas yang sudah dirangkum oleh Exploding Topics, menunjukkan bahwa hasil hingga pertengahan 2025 penetrasi smartphone di Indonesia sudah mencapai sekitar 68,1 persen. Bahkan, sekitar 98,3 persen akses internet dilakukan melalui perangkat mobile. Artinya, hampir semua aktivitas digital harian masyarakat bertumpu pada smartphone, mulai dari komunikasi, hiburan, belanja online, hingga pekerjaan ringan. Permintaan yang sangat besar ini secara tidak langsung mendorong produsen untuk terus merilis banyak varian smartphone. 

2. Siklus pemakaian laptop yang jauh lebih panjang

ilustrasi laptop
ilustrasi laptop (unsplash.com/Shoper)

Perbedaan mendasar lainnya terletak pada siklus pemakaian. Dilansir dari Refurbished Direct, smartphone rata-rata diganti setiap 1–2 tahun. Sementara laptop bisa bertahan 4 hingga 7 tahun. Artinya, kebutuhan pembelian laptop tidak seintens pembelian smartphone.

Bagi produsen, kondisi ini membuat perputaran stok laptop jauh lebih lambat. Mereka cenderung bermain aman dengan menghadirkan model yang sudah terbukti laku. Akibatnya, variasi produk menjadi lebih terbatas. Inilah salah satu alasan utama kenapa laptop di Indonesia kurang variatif, terutama di kelas menengah.

3. Segmentasi pasar laptop yang semakin spesifik

ilustrasi laptop
ilustrasi laptop (unsplash.com/Campaign Creators)

Tren laptop dan smartphone hingga awal 2026 menunjukkan perbedaan yang cukup tajam. Hal ini terbukti karena pasar laptop sekarang makin meruncing menjadi beberapa kubu. Misalnya, laptop murah, seperti Lenovo IdeaPad, MSI modern, dan Acer Aspire menyasar para kalangan pelajar atau kantoran dengan fungsi standar. Di sisi lain, ada laptop AI premium yang fokus pada fitur kecerdasan buatan dan performa tinggi, tapi harga sering  kali tidak murah. Demikian pula di kelas laptop gaming yang menjadi pilihan solid bagi para gamer.

Masalahnya, segmen menengah yang biasanya menjadi ruang eksplorasi desain dan fitur justru semakin tipis. Penyebab lainnya adalah kenaikan harga komponen di tahun 2026, terutama RAM. Lonjakan harga ini tentu memaksa produsen akhirnya memangkas jumlah varian terbaru demi efisiensi biaya produksi.

4. Hambatan harga memengaruhi produksi laptop

ilustrasi laptop
ilustrasi laptop (unsplash.com/Elijah Pilchard)

Kalau kita melihat pasar gadget Indonesia pada tahun 2026, harga menjadi tantangan besar bagi para konsumen sebelum membeli. Smartphone bisa saja diproduksi massal mulai harga Rp1 jutaan dengan spesifikasi cukup layak. Sebaliknya, laptop hampir mustahil melakukan hal yang sama.

Faktor terbesarnya adalah karena biaya material laptop jauh lebih tinggi dengan melibatkan layar besar, keyboard, baterai besar, sistem pendingin, dan komponen PC lainnya. Akibatnya, hanya sedikit brand yang berani bermain di segmen harga sangat rendah. Meski membuat pilihan laptop di pasar Indonesia terasa lebih sempit dibandingkan smartphone, peluang pasar tetap ada. Persaingan laptop Indonesia tahun 2026 masih terbuka lebar untuk brand lokal atau pemain baru yang berani berinovasi, terutama dalam efisiensi biaya.

5. Inovasi ekosistem yang berbeda

ilustrasi smartphone
ilustrasi smartphone (unsplash.com/Amanz)

Seperti kita ketahui bersama, smartphone didukung oleh banyak pilihan chip, seperti MediaTek, Qualcomm, Exynos, Kirin, hingga Unisoc yang terus berlomba menghadirkan teknologi baru. Persaingan ini membuat inovasi berjalan sangat cepat. Apalagi, smartphone mampu terhubung secara mudah dengan perangkat lain, seperti smartwatch, smart TV, dan perangkat smart home lainnya.

Sebaliknya, laptop justru bergantung pada sedikit pemain besar yang mengakibatkan siklus inovasinya lebih lambat, seperti Intel, AMD, dan Qualcomm. Selain itu, segmentasi laptop juga punya fokus berbeda sehingga banyak konsumen akhirnya lebih mementingkan kebutuhan penggunaan daripada desain eksperimental. Oleh karena itu, wajar rasanya jika produsen akhirnya cenderung memilih untuk menghadirkan model yang fungsional bukan terlalu unik.

Meski saat ini pasar laptop di Indonesia kurang variatif dibanding HP, bukan berarti pasar ini stagnan. Justru di sinilah peluangnya. Sebab, dengan meningkatnya kebutuhan kerja jarak jauh, AI, dan pendidikan digital, laptop berpotensi mengalami transformasi besar. Pada akhirnya smartphone memang akan tetap menjadi primadona, namun laptop tetap punya peran strategis yang tidak tergantikan. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo
Follow Us

Latest in Tech

See More

Link Buku Broken Strings Karya Aurelie Moeremans, Gratis!

12 Jan 2026, 11:23 WIBTech