Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi ponsel iPhone
ilustrasi ponsel iPhone (commons.wikimedia.org/Ahmad Ali Karim)

Intinya sih...

  • Daya tarik hal baru dan dopamin

  • FOMO dan tekanan sosial

  • Ilusi peningkatan diri

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Setiap tahun, momen peluncuran iPhone selalu terasa seperti perayaan besar di dunia teknologi. Kamu mungkin melihat antrean panjang, unboxing video di mana-mana, serta media sosial penuh dengan foto perangkat terbaru. Bagi sebagian orang, kebiasaan ganti iPhone terlihat berlebihan karena ponsel lama sebenarnya masih berfungsi baik.

Meski begitu, di balik antusiasme itu ada mekanisme psikologis kuat yang ikut bermain. Keinginan membeli iPhone baru bukan sekadar soal spesifikasi, lho, tapi juga soal perasaan dan identitas diri. Dengan memahami alasan psikologis seseorang selalu ingin iPhone baru, kamu bisa lebih sadar saat memutuskan apakah benar-benar perlu upgrade atau hanya ikut arus tren.

1. Daya tarik hal baru dan dopamin

ilustrasi otak (vecteezy.com/Titiwoot Weerawong)

Otak manusia sejak dulu dirancang untuk tertarik pada hal baru. Dalam sejarah evolusi, rasa penasaran membantu manusia menemukan sumber makanan, tempat aman, serta peluang hidup lebih baik. Di era modern, dorongan itu dialihkan ke produk teknologi, termasuk iPhone terbaru. Setiap desain baru dan fitur baru memberi sensasi seolah kamu menemukan sesuatu yang lebih unggul dari sebelumnya.

Menurut penelitian dalam The Journal of Neuroscience, sistem penghargaan di otak sudah aktif bahkan saat seseorang hanya menantikan hadiah, bukan ketika sudah mendapatkannya. Hal ini menjelaskan mengapa menunggu hari peluncuran dan menonton iklan iPhone bisa terasa menyenangkan. Antisipasi itu sendiri memicu dopamin, hormon yang berhubungan dengan rasa senang. Akibatnya, keinginan membeli muncul jauh sebelum kamu benar-benar memegang produknya.

2. FOMO dan adanya tekanan sosial

ilustrasi Apple Store (unsplash.com/Andy Wang)

Peluncuran iPhone selalu dibarengi dengan narasi kelangkaan, seperti stok terbatas atau warna eksklusif. Strategi ini membuatmu merasa harus cepat bertindak sebelum kesempatan hilang. Media sosial ikut memperkuat tekanan tersebut karena feed langsung dipenuhi foto orang-orang yang sudah lebih dulu membeli. Pesan tak tertulisnya sederhana, jangan sampai kamu tertinggal.

Menurut penelitian dalam jurnal Computers in Human Behavior, rasa takut ketinggalan momen atau FOMO berkaitan dengan dorongan emosional dan perilaku konsumtif. Saat melihat teman atau influencer memamerkan iPhone baru, otak menafsirkannya sebagai standar sosial terbaru. Tanpa sadar, kamu mulai merasa ponsel lama gak lagi cukup keren. Keputusan membeli akhirnya lebih dipengaruhi oleh lingkungan dibanding kebutuhan nyata.

3. Ilusi peningkatan diri

ilustrasi ponsel iPhone (pexels.com/Zana Latif)

Ada dorongan halus yang membuat membeli iPhone baru terasa seperti memperbarui diri sendiri. Perangkat dengan desain lebih modern dan kamera lebih canggih sering dianggap mewakili versi diri yang lebih kreatif dan produktif. Walau kebutuhan sebenarnya belum mendesak, perasaan memulai sesuatu yang baru tetap muncul kuat. Benda akhirnya bukan hanya alat, tapi simbol perubahan pribadi.

Dalam kajian psikologi konsumen, barang sering dikaitkan dengan identitas dan citra diri. Saat kamu mengganti ponsel, kamu seolah memberi sinyal bahwa hidupmu ikut naik level. iPhone baru bisa menjadi penanda status sosial atau gaya hidup tertentu. Inilah sebabnya upgrade terasa emosional, bukan sekadar keputusan teknis.

4. Budaya perbaikan dan minimalisme sebagai tandingan

ilustrasi ponsel iPhone (commons.wikimedia.org/Ahmad Ali Karim)

Menariknya, dorongan membeli iPhone baru juga memunculkan gerakan kebalikannya. Sebagian orang mulai memilih memperbaiki ponsel lama atau menunda pembelian demi alasan lingkungan dan finansial. Sikap ini memberi rasa kontrol serta makna baru terhadap konsumsi teknologi. Menolak upgrade justru menjadi pernyataan identitas bahwa kamu peduli pada keberlanjutan.

Menurut penelitian dalam jurnal Energy & Environment, konsumsi berkelanjutan berkaitan dengan kebutuhan akan keaslian dan kemandirian. Gak membeli produk terbaru bisa menjadi simbol nilai hidup tertentu. Dalam konteks ini, keputusan mempertahankan iPhone lama sama kuatnya secara psikologis dengan keputusan membeli yang baru. Keduanya sama-sama berbicara tentang siapa diri kamu.

5. Cara membedakan dorongan psikologis dan kebutuhan nyata

ilustrasi Apple Store (unsplash.com/Emanuel Ekström)

Keinginan membeli iPhone gak selalu salah, terutama jika ponsel lama sudah rusak atau gak mendukung pekerjaanmu. Namun, penting untuk bertanya pada diri sendiri alasan utama di balik keputusan tersebut. Apakah kamu benar-benar butuh fitur baru atau hanya tergoda rasa penasaran. Jeda waktu beberapa minggu sering kali cukup untuk melihat apakah keinginan itu bertahan atau menghilang.

Refleksi sederhana bisa mengubah keputusan impulsif menjadi pilihan sadar. Kamu bisa menilai apakah ponsel baru akan dipakai sebagai alat atau hanya sebagai simbol status. Kesadaran ini memberimu kendali lebih besar atas uang dan kebiasaan belanja. Pada akhirnya, teknologi seharusnya melayani kebutuhanmu, bukan mengendalikan keinginanmu.

iPhone baru bukan sekadar perangkat elektronik, melainkan fenomena budaya yang menyentuh emosi, identitas, serta hubungan sosial. Dorongan membeli muncul dari kombinasi rasa penasaran, FOMO, dan keinginan meningkatkan citra diri.

Memahami mekanisme psikologis di balik seseorang selalu ingin iPhone baru membantumu bersikap lebih bijak dalam mengambil keputusan. Upgrade teknologi boleh saja, selama dilakukan dengan sadar dan sesuai kebutuhan. Dengan begitu, kamu tetap bisa menikmati kemajuan teknologi tanpa terjebak dalam siklus keinginan tanpa akhir.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team