Menurut Ming-Chi Kuo, arah strategi Apple dalam merespons lonjakan biaya memori semakin jelas. Perusahaan memilih menyerap kenaikan harga komponen, meskipun langkah tersebut berpotensi menekan margin laba kotor iPhone dalam jangka pendek. Kebijakan ini diambil untuk menjaga stabilitas harga iPhone 18 di pasar. Pendekatan tersebut dinilai krusial guna mempertahankan daya saing, terutama ketika banyak pesaing diperkirakan akan menaikkan harga jual.
Kuo menegaskan bahwa kenaikan biaya memori memang akan berdampak langsung pada margin kotor iPhone. Namun, Apple disebut memanfaatkan ketidakstabilan pasar sebagai peluang strategis. Berkat mengamankan pasokan chip, menyerap kenaikan biaya, dan memperluas pangsa pasar, Apple diyakini dapat menutup tekanan margin tersebut di kemudian hari melalui bisnis layanan. Pernyataan ini disampaikan Kuo, seperti yang dikutip MacRumors, 31 Januari 2026.
Isu kenaikan harga memori juga berpotensi dibahas dalam laporan keuangan Apple pada 30 Januari, yang mencakup kuartal pertama tahun fiskal 2026 periode Oktober hingga Desember 2025. Kuo memperkirakan Apple akan berupaya menghindari kenaikan harga iPhone semaksimal mungkin. Setidaknya, harga awal model iPhone 18 diprediksi akan tetap sama.
Lebih lanjut, Apple dinilai tidak hanya mengandalkan penjualan perangkat keras sebagai sumber pendapatan utama. Ekosistem layanan seperti App Store, iCloud, dan Apple Music menjadi penopang pendapatan jangka panjang yang mampu meredam tekanan margin. Melalui strategi ini, Apple dapat memanfaatkan kondisi pasar yang penuh ketidakpastian untuk memperkuat posisi dan memperluas pangsa pasar. Kuo menilai pendekatan tersebut sebagai bagian dari “playbook” klasik Apple dalam menghadapi krisis komponen.