7 Game dengan Performa Paling Tidak Optimal di Nintendo Switch

- Bayonetta 3 mengalami penurunan kualitas visual setelah menjadi eksklusif di Switch.
- Mortal Kombat 1 versi Switch memiliki detail karakter minim, waktu loading lama, dan gameplay kurang mulus.
- Hogwarts Legacy versi Switch awalnya mengalami masalah visual dan performa, namun kini sudah lebih baik.
Nintendo Switch meluncur pada 3 Maret 2017 dan langsung ditemani The Legend of Zelda: Breath of the Wild. Keputusan itu terbukti tepat karena para pemain rela berburu konsol tersebut dan pada akhirnya ikut mendorong kesuksesan Switch. Karena fleksibel karena bisa dimainkan di mana pun dan praktis tanpa sinkronisasi save via cloud, para pemain pun ramai-ramai menginginkan semua game untuk dirilis di Switch.
Sayangnya, Switch tidak semumpuni itu terutama untuk menjalankan game-game terkini yang butuh konsol dengan performa lebih unggul seperti PS5 atau Xbox Series X/S. Berikut 7 game dengan performa paling tidak optimal di Nintendo Switch.
1. Bayonetta 3
Sejak era Wii U, Nintendo “mengunci” Bayonetta sebagai seri game eksklusif Nintendo dan hasilnya positif ketika Bayonetta 2 dan pendahulunya dirilis dengan performa sangat mulus sekaligus enak dipandang secara visual di Wii U. Ironisnya, ketika Bayonetta 3 resmi meninggalkan Wii U dan dirilis secara eksklusif di Switch, kualitasnya justru menurun. Visualnya tidak menakjubkan yang diharapkan dan kadang terlihat sedikit buram. Elemen aksinya memang tetap seru dan menegangkan, tapi tetap tidak semulus game-game besar garapan PlatinumGames lainnya.
2. Mortal Kombat 1
Mortal Kombat 1 versi Switch sempat menjadi bahan meme karena dirilis bersama versi konsol lain tapi visualnya jauh tertinggal. Detail karakter tampak minim dan teksturnya tidak seperti game terkini. Beberapa patch memang dirilis untuk sedikit memperbaiki kualitas visual, tapi tetap belum mendekati kualitas visual versi PS5 dan Xbox Series X/S. Masalahnya bukan hanya pada visual, di mana pemain juga harus menghadapi waktu loading yang lama gameplay fighting yang terasa kurang mulus. Saking tidak optimalnya, banyak pemain yang bertanya-tanya apakah versi Switch benar-benar sempat diuji sebelum dirilis.
3. Hogwarts Legacy
Sama seperti Mortal Kombat 1, versi Switch untuk Hogwarts Legacy juga mengalami masalah serupa. Game ini malah terasa seperti game dari era PS2 dan PS3 dengan waktu loading yang lama, detail karakter dan dunia yang banyak dipangkas dan pengalaman open-world yang jelas kurang megah jika dibandingkan versi konsol lain. Kabar baiknya, Hogwarts Legacy versi Switch 2 kini jauh lebih baik dan sekelas versi PS5, sehingga penggemar film Harry Potter akhirnya bisa menikmati petualangan di Hogwarts di konsol Nintendo tanpa harus berkompromi dengan masalah visual atau performa.
4. Super Mario Maker 2
Super Mario Maker 2 sebenarnya memenuhi ekspektasi sebagai sekuel dari pendahulunya yang rilis di Wii U. Pada game ini, fitur berbagi level secara online jauh lebih lengkap dan pilihan alat atau mekanisme yang bisa dipakai pemain juga makin beragam. Kendati demikian, ada beberapa hal yang terasa seperti kemunduran seperti hilangnya dukungan kostum Amiibo sehingga pemain tidak bisa bermain sebagai Link dari Zelda atau Marth dari Fire Emblem. Selain itu, ketika Switch digunakan dalam mode docked, kontrol sentuh tidak bisa digunakan yang akhirnya membuat proses membuat level jadi kurang nyaman.
5. Pokemon Scarlet and Violet
Sangat wajar jika ada game garapan studio third-party yang tidak optimal ketika dipaksakan rilis di konsol dengan spesifikasi terbatas seperti Switch. Namun, situasinya jadi sulit dimaklumi ketika studio rekanan Nintendo seperti Game Freak justru merilis Pokemon Scarlet and Pokemon Violet dalam kondisi setengah matang. Game ini harusnya jadi pondasi Pokémon generasi berikutnya, namun performanya malah berantakan dengan frame-rate rendah, sementara detail karakter, Pokémon dan dunianya sangat mengecewakan. Meski kini sudah berjalan lebih mulus di Switch 2, kesan buruk di awal perilisannya masih membekas di hati banyak pemain.
6. The Legend of Zelda: Link’s Awakening
The Legend of Zelda: Link’s Awakening versi remake yang rilis pada 2019 silam sebenarnya tidak sekacau itu. Akan tetapi, game ini tetap terasa kurang mulus jika dibandingkan game-game Zelda lainnya yang biasanya dirilis dengan performa yang bebas masalah. Meski format petualangan top-down yang diusungnya tampak sederhana, game ini sempat mengalami masalah seperti penurunan frame rate yang cukup kentara di beberapa momen. Untungnya, masalah itu tidak sampai merusak pengalaman bermain secara keseluruhan. Sungguh disayangkan mengingat gameplay dan cerita game ini sebenarnya sangat solid.
7. Xenoblade Chronicles 2
Xenoblade Chronicles 2 merupakan game open-world RPG yang skalanya besar dan sering disejajarkan dengan The Legend of Zelda: Breath of the Wild karena sama-sama rilis di 2017. Namun jika dibanding dua game Xenoblade sebelumnya, game ini sedikit kasar dari sisi teknis di mana frame-rate sering turun ketika eksplorasi maupun bertarung dan detail visual di beberapa area seperti karakter dan dunia terlihat kurang rapi. Anehnya, game-game Xenoblade yang dirilis setelahnya seperti Xenoblade Chronicles 3, Xenoblade Chronicles: Definitive Edition dan Xenoblade Chronicles X: Definitive Edition malah berjalan lancar di Switch.
Demikian tadi ulasan mengenai beberapa game dengan performa paling tidak optimal di Nintendo Switch. Pernah menjajal game-game di atas?

















