7 Game Rilisan 2025 dengan Skor OpenCritic Terendah

- Call of Duty: Black Ops 7 mendapat kritik karena mode campaign yang hambar, tapi mode multiplayer dan Zombies masih menarik.
- Nintendo Switch 2 Welcome Tour cocok sebagai game bawaan konsol untuk mengenalkan teknologi Switch 2 lewat mini-game dan trivia.
- Kiborg gagal mengulang kesuksesan Redeemer dengan game terlalu mengikuti pakem roguelike dan proses pengenalan awal buruk.
2025 menjadi tahun yang cukup epik bagi industri gaming, terutama jika hanya membicarakan soal game-game fenomenal seperti Clair Obscur: Expedition 33, Hollow Knight Silksong, Kingdom Come: Deliverance 2, Battlefield 6, Hades 2, Donkey Kong Bananza, Split Fiction, Death Stranding 2: On The Beach, Blue Prince dan banyak lagi. Tapi seperti tahun-tahun sebelumnya, ada juga game yang flop atau mengecewakan meski menjanjikan sesuatu yang besar dan beberapa diantaranya, mendapat skor yang sangat rendah di OpenCritic. Game apa saja itu? Berikut daftarnya.
1. Call of Duty: Black Ops 7 (65)
Dalam beberapa tahun terakhir, seri Call of Duty lebih banyak dikritik daripada dipuji dan puncaknya terjadi di Black Ops 7. Setelah beberapa entri yang biasa saja, ditambah Battlefield 6 yang cukup sukses, Black Ops 7 jadi game yang dinilai tidak perlu untuk ada dan itu terlihat jelas dari respon pemain terhadapnya. Yang paling mengecewakan dari game ini adalah mode campaign yang hambar. Untungnya, Call of Duty saat ini lebih bertumpu ke mode multiplayer dan di mode itu lah Black Ops 7 terlihat lebih bersinar lewat beragam map yang enak dimainkan, gunplay yang tetap solid dan mode Zombies yang masih seru seperti biasanya.
2. Nintendo Switch 2 Welcome Tour (61)
Meski tidak separah blunder 1-2-Switch karena hanya dibanderol US$9,99, Nintendo Switch 2 Welcome Tour tetap terasa lebih pas jika dijadikan game bawaan konsol. Sebab, game ini hanya fokus mengenalkan teknologi Switch 2 lewat mini-game dan trivia sehingga cocok sebagai hiburan singkat sembari menunggu unduhan game besar seperti Mario Kart World selesai. Durasi game ini pendek, tapi cukup seru jika pemain memang suka game dengan format demo interaktif yang memberi tutorial sembari bermain. Kendati demikian, game ini tetap opsional dan jika tidak dimainkan sekalipun, tidak apa-apa.
3. Kiborg (60)
Sobaka sempat mengantongi banyak pujian berkat game debut mereka yaitu Redeemer, tapi sayangnya, Kiborg sebagai penerus gagal mengulang kesuksesan serupa. Pada game ini, pemain berperan sebagai napi yang mencoba kabur dari hukuman dengan ikut acara TV yang akan menghadiahi pemain kebebasan jika mereka membantai apa pun yang ada di depan mata. Masalah utamanya adalah game ini terlalu mengikuti pakem roguelike namun proses pengenalan awalnya bisa dibilang buruk, sehingga pemain perlu banyak kesabaran di jam-jam pertama karena butuh segudang percobaan yang gagal sebelum karakter mereka bisa jadi kuat.
4. Hunter x Hunter: Nen x Impact (58)
Game fighting bertema anime seringkali dikaitkan dengan kualitas yang pas-pasan, apalagi jika berasal dari anime yang jarang punya adaptasi game. Salah satu contoh terbaru adalah Hunter x Hunter: Nen x Impact yang rasanya sulit dibenarkan ketika rilis dengan harga penuh. Di Steam saja, game ini hanya mampu mencapai 181 pemain bersamaan sehingga wajar jika para pemain bertanya untuk apa membeli game fighting multiplayer yang secara komunitas sudah sepi. Intinya, game ini tidak disarankan jika tujuan utama pemain adalah bermain mode online karena netcode-nya kurang oke dan berpotensi kesulitan mendapatkan match.
5. Neptunia Riders vs Dogoos (54)
Seri Neptunia memang punya rekam jejak game spin-off yang “aneh”, tapi Neptunia Riders vs Dogoos terasa unik karena mengambil arah yang benar-benar berbeda. Di game ini, Uzume menggunakan sepeda motornya untuk melindas Dogoos dan membantu para Goddess lain. Intinya, pemain akan mengitari arena sembari mengumpulkan Dogoos dengan cara menabraknya, lalu menang dengan menghindari jenis Dogoos yang salah. Masalahnya, durasi gameplay-nya sangat singkat dan kedalaman gameplay-nya juga terbatas sehingga tidak direkomendasikan untuk dibeli di harga normal.
6. Captain Blood (48)
Captain Blood telah terjebak dalam proses pengembangan yang berantakan sejak era konsol generasi ketujuh dan jejak masa lalunya terlihat jelas di versi finalnya. Kualitas visual game ini benar-benar seperti game PS3 murahan, sistem hack-and-slash-nya meniru God of War namun tanpa inovasi apapun dan secara keseluruhan, game ini seperti belum matang. Maka dari itu, tak mengherankan jika game ini mendapatkan skor yang sangat rendah di OpenCritic. Tidak ada alasan untuk memainkan Captain Blood kecuali pemain rindu bernostalgia dengan game-game klasik dari era PS3.
7. MindsEye (33)
Salah satu game paling bermasalah di 2025 yaitu MindsEye sempat mendapat antusiasme tinggi sebelum perilisannya kacau karena berbagai masalah teknis. Namun di luar masalah tersebut, gameplay-nya pun dinilai kurang seru. Untungnya, Build a Rocket Boy selaku developer terus menambal berbagai masalah di game ini lewat serangkaian update di sepanjang paruh kedua 2025. Hasilnya, MindsEye sekarang lumayan enak dimainkan meski memang tidak sesolid game open-world lainnya. Jika sejak awal dirilis dalam kondisi seperti sekarang, bukan tidak mungkin skornya di OpenCritic akan lebih baik.
Itulah tadi ulasan mengenai beberapa game rilisan 2025 dengan skor OpenCritic terendah. Ada game yang pernah kamu mainkan?

















