Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
6 Game Terburuk di Beberapa Seri Game RPG Terbaik
Xenoblade Chronicles 2 (dok. Monolith Soft)
  • Artikel membahas enam game yang dianggap paling mengecewakan dari seri RPG ternama, meski masing-masing serinya dikenal memiliki reputasi tinggi di kalangan gamer.
  • Setiap game dinilai gagal karena berbagai alasan, mulai dari mekanisme gameplay rumit, keputusan desain yang buruk, hingga masalah teknis dan performa yang mengganggu pengalaman bermain.
  • Contoh kasus mencakup Baldur’s Gate dengan sistem sulit dipahami, Monster Hunter Wilds yang kehilangan elemen ikoniknya, hingga Fallout 76 yang dirilis dengan banyak bug dan konten kosong.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Pasar game RPG sudah lama dikuasai oleh banyak seri game besar, mulai dari seri game JRPG buatan studio asal Jepang yang sudah eksis sejak tahun 80-an hingga seri game adaptasi permainan tabletop yang hingga kini masih menjadi favorit banyak pemain di seluruh dunia. Setiap seri game RPG terus berkembang dan semakin dicintai pemain dari waktu ke waktu, namun sebesar apapun sebuah seri, pasti ada satu atau dua game yang dinilai gagal atau mengecewakan dibanding game lainnya. Alasannya beragam, entah karena mencoba sesuatu yang baru tapi kurang berhasil atau memang kurang berkualitas hingga dianggap sebagai aib di dalam sejarah panjang serinya. Berikut beberapa di antaranya.

1. Monster Hunter Wilds

Seri Monster Hunter dikenal terus berkembang dari satu game ke game berikutnya, mulai dari Monster Hunter 4: Ultimate, lalu World yang memperluas skalanya hingga Rise yang memperkaya opsi pertarungan lewat serangan Silkbind yang fresh. Sayangnya, Monster Hunter Wilds sebagai penerus malah terasa seperti kemunduran. Meski secara visual memanjakan mata, game ini terlalu banyak memaksa pemain duduk manis menyaksikan cutscene panjang dan menemani NPC kesana-kemari tanpa tujuan yang jelas. Yang paling disayangkan, serangan Silkbind malah dihapus begitu saja tanpa pengganti yang sepadan. Alhasil, sistem combat-nya jadi terasa hampa dibanding pendahulunya.

2. Persona

Seri Persona baru benar-benar menemukan jati dirinya di game ketiga yang memadukan kehidupan sekolah, dengan eksplorasi dungeon dan elemen mengoleksi monster kedalam satu paket. Sebelumnya, game-game awal Persona masih sangat mirip dengan seri utamanya yaitu Shin Megami Tensei, meski sudah mengambil latar pelajar SMA. Game pertama Persona pun belum memiliki elemen-elemen yang membuat serinya begitu dicintai. Porsi eksplorasi dungeon-nya jauh lebih besar ketimbang pengembangan karakter, sehingga pemain yang datang dengan harapan bisa membangun persahabatan erat atau menjalin romansa seperti di game-game Persona terbaru mungkin akan merasa kurang puas.

3. Xenoblade Chronicles 2

Xenoblade Chronicles 2 sebenarnya memiliki sistem combat yang luar biasa, namun sayangnya game ini hampir tidak pernah menjelaskannya dengan baik sehingga pemain terpaksa mencari panduan sendiri di internet. Tapi, masalah tutorial yang buruk itu belum seberapa karena game ini juga penuh dengan fan-service yang berlebihan dan cenderung menjijikkan, mulai dari karakter wanita yang dieksploitasi secara visual hingga desain Blade (makhluk gaib yang bisa dipanggil ketika bertarung) yang keterlaluan seksualisasinya. Yang lebih parah lagi, untuk mendapatkan semua Blade, pemain harus melewati mekanisme mirip gacha yang membuat durasi gameplay-nya terasa dipanjang-panjangkan.

4. Baldur’s Gate

Game pertama Baldur's Gate memang sempat menjadi primadona di kalangan penggemar game RPG karena berhasil menghadirkan aturan Advanced Dungeons & Dragons ke dalam bentuk game dengan sangat baik. Namun, game ini bukannya tanpa cela. Mekanisme yang rumit seperti sistem Armor Class, hampir tidak dijelaskan sama sekali dan tingkat kesulitannya pun sangat tinggi, terutama bagi pemain yang memilih karakter Thief atau Mage yang mudah sekali mati dalam satu serangan. Untungnya, sekuelnya yaitu Baldur's Gate 2: Shadows of Amn, hadir dengan banyak perbaikan signifikan seperti dungeon yang lebih menarik, koleksi mantra dan monster yang jauh lebih beragam dan karakter pemain memulai permainan di level lebih tinggi sehingga jauh lebih tahan banting ketika bertarung.

5. Fallout 76

Fallout 76 menjadi titik balik yang kurang menyenangkan bagi Bethesda, di mana desain permainannya terjebak pada pola "mengumpulkan gear dan terus mengulanginya" tanpa tujuan yang berarti. Semua hal yang membuat seri Fallout begitu dicintai nyaris hilang sepenuhnya di game ini. Tidak ada NPC, tidak ada cerita yang menarik, karena yang ada hanyalah hamparan gurun yang kosong dan monoton. Game rilisan 2018 ini memang perlahan membaik berkat berbagai update dan DLC ekspansi yang dirilis Bethesda, namun impresi buruk dari perilisan yang penuh masalah teknis sudah terlanjur melekat di benak banyak pemain yang akhirnya memilih untuk tidak pernah kembali.

6. Suikoden 5

Seri Suikoden dikenal sebagai salah satu seri game RPG yang luar biasa, meski perhatian pemain seringkali terpusat pada game kedua yang belakangan mendapat versi remaster untuk konsol modern. Setelah itu, tiga game utama berikutnya hadir di PS2, hingga akhirnya Suikoden 5 menjadi game utama terakhir yang dirilis hingga saat ini. Sayangnya, game yang meluncur pada 2006 ini justru mengecewakan dari sisi teknis. Waktu loading yang panjang dan masalah performa terus mengganggu pengalaman bermain pemain. Yang semakin membuat pemain frustrasi, tahun itu adalah tahun peluncuran PS3 yang artinya, Konami seharusnya sudah sangat paham cara agar game ini bisa berjalan lancar dan optimal di PS2.

Itulah tadi ulasan mengenai beberapa game terburuk dari sejumlah seri game RPG terbaik. Pernah dikecewakan game-game di atas?

Editorial Team