Kenapa Game Kompetitif Sering Bikin Emosi?

- Game kompetitif memicu emosi karena dorongan kuat untuk menang, takut kalah, dan sistem peringkat yang mengaitkan performa dengan harga diri pemain.
- Interaksi langsung dengan pemain lain, tekanan tim, dan perilaku toksik membuat emosi lebih mudah terpancing dibanding melawan sistem atau AI.
- Adrenalin tinggi dan identifikasi diri dengan akun atau karakter membuat kekalahan terasa personal dan sulit dikendalikan secara emosional.
Game kompetitif dikenal mampu memancing emosi pemainnya dengan intensitas yang jauh lebih tinggi dibanding game kasual atau single-player. Sebagian orang merasakan frustrasi hingga euforia hanya dalam satu sesi permainan. Masalah ini berkaitan erat dengan cara kerja psikologis manusia.
Dalam game kompetitif, pemain tidak hanya berhadapan dengan sistem, tetapi juga dengan pemain lain yang memiliki tujuan sama untuk menang. Faktor ini dapat menciptakan tekanan sosial dan mental yang lebih kompleks. Emosi menjadi lebih mudah terpancing dan sulit dikendalikan. Tak jaran kata-kata kasar keluar ketika kalah atau bahkan menyalahkan rekan setim dengan bahasa toksik. Berikut beberapa alasan kenapa game kompetitif dapat memicu emosi berlebih.
1. Dorongan untuk selalu menang dan takut kalah

Keinginan untuk menang merupakan faktor utama yang memicu emosi dalam game kompetitif. Kemenangan dianggap sebagai validasi kemampuan dan harga diri pemain. Ketika peluang menang terancam, emosi negatif mudah muncul.
Sebaliknya, kekalahan kerap dipersepsikan sebagai kegagalan pribadi. Rasa kecewa, marah, atau menyalahkan diri sendiri sering muncul setelah kalah. Pola ini membuat emosi naik turun secara ekstrem dalam waktu singkat.
2. Interaksi langsung dengan pemain lain

Game kompetitif melibatkan interaksi langsung dengan manusia lain yang tidak selalu bersikap sportif. Komunikasi kasar, provokasi, atau tindakan meremehkan dapat memicu reaksi emosional spontan. Situasi ini berbeda dengan melawan AI yang cenderung netral.
Selain itu, kehadiran tim membuat emosi semakin kompleks. Kesalahan satu pemain bisa berdampak pada seluruh tim. Tekanan dari rekan setim sering memperbesar rasa bersalah dan frustrasi. Jika bermain buruk, pemain tersebut akan langsung disalahkan. Alih-alih menghilangkan stres, bermain kompetitif seperti ini justru menimbulkan tekanan psikologis.
3. Adanya sistem peringkat dan penilaian publik

Tak sedikit game kompetitif menggunakan sistem peringkat yang bersifat terbuka (ranked). Peringkat ini menjadi simbol status dan pencapaian pemain. Ketika peringkat naik, pemain merasa bangga dan puas.
Namun, saat peringkat turun, dampaknya bisa sangat emosional. Pemain merasa usahanya sia-sia atau kemampuannya dipertanyakan. Siklus naik turun ini membuat emosi pemain terus terjaga dalam intensitas tinggi. Jika peringkat tak kunjung naik, pemain akan merasakan tekanan sosial karena dianggap tidak punya skill.
4. Adrenalin dan situasi serbacepat

Game kompetitif umumnya menuntut refleks cepat dan pengambilan keputusan dalam hitungan detik. Kondisi ini memicu pelepasan adrenalin dalam tubuh. Adrenalin membuat emosi lebih kuat dan reaksi menjadi lebih impulsif.
Saat adrenalin tinggi, pemain cenderung bereaksi berlebihan terhadap situasi kecil. Kesalahan kecil bisa terasa sangat menyebalkan. Inilah yang membuat emosi dalam game kompetitif sulit dikendalikan.
5. Identifikasi diri dengan akun game

Sebagian pemain menghabiskan waktu dan usaha besar untuk mengembangkan akun milik mereka. Bagi para gamer, akun merupakan bagian dari identitas digital. Ketika akun tersebut kalah atau dipermalukan, emosi pribadi ikut terseret.
Pemain juga sering mengaitkan performa karakter dengan kemampuan diri sendiri. Kritik terhadap permainan terasa seperti kritik personal. Hal ini membuat emosi dalam game kompetitif terasa lebih nyata dan mendalam.
Game kompetitif memicu emosi karena menyentuh aspek dasar psikologi manusia, seperti harga diri, pengakuan, dan tekanan sosial. Selama pemain menyadari mekanisme ini, game kompetitif tetap bisa dinikmati tanpa harus dikuasai oleh emosi negatif. Salah satu cara meredam emosi berlebih saat bermain game kompetitif ialah rehat sejenak jika sudah terlalu penat. Nah, apakah kamu salah satu yang tidak mudah terpancing emosi saat bermain game kompetitif?
Referensi
“Emotion Regulation in eSports Gaming: A Qualitative Study of League of Legends”. ResearchGate. Diakses Januari 2026.
“Impact of Playing Online Video Games on Emotional Regulation and Coping Strategies of Teenagers and Young Adults”. International Journal for Multidisciplinary Research (IJFMR). Diakses Januari 2026.
“The Psychology of Esports: Trends, Challenges, and Future Directions”. ScienceDirect. Diakses Januari 2026.


















