Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
6 Keputusan Ceroboh yang Menghancurkan Seri Game Ternama
Transformers: Rise of the Dark Spark (dok. Edge Reality)
  • Artikel membahas enam keputusan keliru dari berbagai studio besar yang menyebabkan kehancuran beberapa seri game populer di industri gaming.
  • Kesalahan umum meliputi penerapan sistem live-service, perubahan arah gameplay, hingga pemaksaan fitur kontrol atau konsep yang tidak sesuai identitas seri.
  • Dampaknya, reputasi sejumlah franchise ternama seperti Ghost Recon, Transformers, Watch Dogs, dan Overwatch menurun drastis akibat keputusan manajemen yang ceroboh.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Industri gaming memang sudah sering membuat keputusan buruk, mulai dari membiarkan studio abal-abal merilis game sembarangan hingga memaksakan perangkat peripheral berbasis gerakan yang tidak berguna ke tangan pemain. Tapi yang lebih parah adalah ketika satu keputusan keliru saja sudah cukup untuk menghancurkan sebuah seri game secara permanen. Kesalahan itu bisa datang dari mana saja, mulai dari mengubah mekanisme gameplay yang jadi ciri khas serinya, merilis game dalam kondisi berantakan atau sekadar ikut-ikutan tren yang sudah basi dan tidak nyambung dengan identitas serinya. Berikut beberapa keputusan ceroboh yang menghancurkan seri game ternama.

1. Ghost Recon Frontline – Beralih ke format live-service

Seri Ghost Recon yang lahir pada tahun 2001 sempat menjadi alternatif yang fresh dibanding Rainbow Six, namun nasibnya mulai meredup ketika Ubisoft malah semakin menjadi dari akar serinya. Puncaknya terjadi di Ghost Recon Breakpoint yang penuh dengan elemen live-service, microtransaction, misi repetitif dan desain dunia yang membosankan, kombinasi yang berujung pada kegagalan komersial. Alih-alih belajar dari kesalahan, Ubisoft malah mengumumkan Ghost Recon Frontline di Oktober 2021, sebuah game battle royale free-to-play bergaya MMO yang langsung menuai kritik keras karena dianggap terlalu mirip Call of Duty: Warzone dan sama sekali tidak mencerminkan DNA Ghost Recon yang sesungguhnya. Frontline akhirnya dibatalkan pada Juli 2022 dan semakin memperburuk reputasi serinya yang dulunya disegani.

2. Transformers: Rise of the Dark Spark – Mengganti studio yang mengembangkannya

Mengadaptasi film atau serial TV menjadi game atau sebaliknya memang bukan perkara mudah, dan Transformers sudah merasakan pahitnya berkali-kali. Namun, High Moon berhasil membuktikan diri lewat trilogi Cybertron di awal tahun 2010-an. War for Cybertron dan Fall of Cybertron sama-sama menuai pujian, tapi sayangnya, Activision selaku publisher justru mengambil keputusan yang kontraproduktif. High Moon dipaksa menggarap game Deadpool, sementara penutup trilogi Cybertron yaitu Rise of the Dark Spark, diserahkan ke studio lain. Hasilnya tentu saja mengecewakan, sebagian karena game ini dipaksakan untuk terhubung dengan semesta film live action-nya. Kegagalan game ini akhirnya mengubur harapan akan kelanjutan seri Cybertron.

3. Watch Dogs: Legion – Kembali ke tone suram

Game pertama Watch Dogs di tahun 2014 sebenarnya laris dan mendapat ulasan yang lumayan, tapi ceritanya dianggap terlalu serius untuk game bertema hacking dan balas dendam dengan latar kota Chicago yang suram. Ubisoft pun belajar dari situ dan sekuelnya di tahun 2016 hadir dengan latar kota San Francisco yang cerah dan karakter-karakter yang lebih santai, dan hasilnya jauh lebih disukai. Sayangnya, Watch Dogs: Legion justru terjebak di dua situasi yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, mekanisme barunya yang memungkinkan pemain mengendalikan semua NPC membawa humor absurd, tapi di sisi lain, latar ceritanya yang gelap soal London distopia, bom terorisme dan pengawasan massal terasa tidak sejalan dengan semua keabsurdan itu. Ketidakcocokan itu berdampak buruk pada penjualan game ini.

4. Suicide Squad: Kill the Justice League – Menjadi game live-service

Kejayaan seri Batman: Arkham garapan Rocksteady sebenarnya sudah mulai meredup jauh sebelum Suicide Squad: Kill the Justice League menjadi penutup yang mengecewakan. Arkham Knight sebagai penutup trilogi utama sudah menuai kritik karena ceritanya yang lemah, namun Suicide Squad lah yang benar-benar mengubur seri Batman: Arkham. Di balik visualnya yang memukau dan sinematik, game ini menyimpan banyak masalah mulai dari gameplay yang monoton, bug yang mengganggu, cerita yang hambar hingga pilihan karakter yang kurang populer. Yang paling fatal, game ini ikut-ikutan tren live-service yang sama sekali tidak cocok untuknya lewat early access berbayar, grinding yang membosankan dan konten pasca-rilis yang tidak menarik.

5. Star Fox Zero – Kontrol gerakan yang wajib

Di era GameCube, dua game Star Fox yaitu Star Fox Adventures dan Star Fox Assault mencoba formula baru dengan memadukan tembak-menembak khas serinya dengan elemen aksi petualangan. Keduanya cukup diterima dengan baik, meski ada banyak yang merindukan formula klasiknya. Kerinduan itu akhirnya dijawab lewat Star Fox Zero di Wii U pada tahun 2016, tapi sayangnya game ini berakhir mengecewakan, terutama karena penggunaan kontrol gerakan yang dipaksakan. Alih-alih menjadi momen kebangkitan serinya, game ini malah meninggalkan luka bagi para pemain. Kini, Nintendo tengah berupaya menghidupkan kembali seri Star Fox lewat penampilannya di film Super Mario Galaxy dan remake Star Fox 64.

6. Overwatch 2 – Menghapus mode PvE

Overwatch yang rilis di tahun 2016 sukses besar dan langsung mencuri perhatian banyak pemain berkat gameplay-nya yang seru. Ketika sekuelnya diumumkan di akhir tahun 2019, banyak pemain awalnya skeptis. Namun, janji-janji soal konten PvE yang kaya cerita, lengkap dengan cutscene dan misi naratif, berhasil meyakinkan sebagian pemain bahwa sekuel ini memang layak ada. Sayangnya, sebelum game ini bahkan dirilis, Blizzard diam-diam membatalkan rencana tersebut demi memoles sisi PvP-nya, sebuah keputusan yang langsung memicu kekecewaan besar di kalangan pemain yang merasa ditipu oleh promosi sebelumnya. Blizzard kemudian berjanji konten PvE akan hadir setelah peluncuran, tapi janji itu tak pernah benar-benar terwujud.

Itulah tadi ulasan mengenai beberapa keputusan ceroboh yang menghancurkan seri game ternama. Ada seri game favoritmu?

Editorial Team