- AI mempercepat risiko keamanan siber. Kerentanan terkait AI menjadi yang paling cepat meningkat pada 2025, dengan 87 persen responden melaporkan kenaikan. Kebocoran data dari AI generatif dan peningkatan kemampuan pelaku serangan menjadi perhatian utama, sementara 94 persen pimpinan menilai AI akan menjadi faktor paling berpengaruh dalam keamanan siber pada 2026.
- Geopolitik mengubah lanskap ancaman siber global. Sebanyak 64 persen organisasi kini memasukkan serangan bermotif geopolitik dalam strategi risiko mereka, dan 31 persen responden menyatakan rendahnya kepercayaan terhadap kesiapan negara menghadapi insiden siber besar.
- Penipuan berbasis siber semakin merajalela. Sebanyak 73 persen responden pernah atau mengetahui korban langsung penipuan siber pada 2025, dan para CEO kini menempatkan penipuan serta phishing sebagai ancaman utama, melampaui ransomware.
- Rantai pasok menjadi kerentanan sistemik utama. Sebanyak 65 persen perusahaan besar menilai risiko pihak ketiga dan rantai pasok sebagai hambatan terbesar ketahanan siber, dengan kegagalan penyedia infrastruktur digital berpotensi memicu dampak luas.
- Ketimpangan kapasitas siber terus melebar. Organisasi kecil lebih rentan dibandingkan perusahaan besar, sementara kekurangan talenta keamanan siber paling terasa di Amerika Latin, Karibia, dan Afrika Sub-Sahara.
Ancaman Siber 2026: Penipuan Digital Meningkat, AI Pedang Bermata Dua

- Penipuan siber meningkat lintas wilayah dan sektor.
- AI memperkuat serangan siber ofensif dan defensif.
- Ketimpangan kapasitas siber semakin melebar, terutama di negara berkembang.
Penipuan berbasis siber telah menjadi ancaman secara luas. Pergeseran ini menegaskan meningkatnya dampak sosial dan ekonomi dari penipuan yang kini menyebar lintas wilayah dan sektor. Laporan Global Cybersecurity Outlook 2026 dari World Economic Forum menunjukkan bagaimana akal imitasi (artificial intelligence/AI) memperkuat kapabilitas ofensif maupun defensif serangan. Fragmentasi geopolitik semakin memperparah risiko-risiko tersebut, membentuk ulang strategi keamanan siber dan memperlebar kesenjangan kesiapan antarwilayah.
Temuan terbaru menunjukkan bahwa lanskap siber tengah mengalami pergeseran struktural yang mendalam, di mana ketahanan siber tidak lagi dapat dipandang semata sebagai fungsi teknis, melainkan kebutuhan strategis yang menopang stabilitas ekonomi, ketahanan nasional, dan kepercayaan publik.
Tantangan bagi para pemimpin
Seiring risiko siber yang semakin saling terhubung dan berdampak luas, penipuan berbasis siber telah muncul sebagai salah satu kekuatan paling mengganggu dalam ekonomi digital, merusak kepercayaan, mendistorsi pasar, dan secara langsung memengaruhi kehidupan masyarakat.
"Tantangan bagi para pemimpin kini bukan hanya memahami ancaman, tetapi bertindak secara kolektif untuk tetap selangkah lebih maju. Membangun ketahanan siber yang bermakna memerlukan aksi terkoordinasi lintas pemerintah, dunia usaha, dan penyedia teknologi demi melindungi kepercayaan dan stabilitas di dunia yang semakin digerakkan oleh AI," ujar Jeremy Jurgens, Managing Director World Economic Forum dalam rilis resmi.
Kesenjangan antara organisasi yang memiliki ketahanan tinggi dan mereka yang tertinggal masih sangat mencolok, dengan kekurangan keterampilan dan keterbatasan sumber daya yang memperbesar risiko sistemik. Di sisi lain, rantai pasok global menjadi semakin saling terhubung dan kurang transparan, sehingga ketergantungan pada pihak ketiga berubah menjadi kerentanan sistemik. Dinamika ini terjadi di saat ketimpangan kapabilitas siber semakin melebar, membuat organisasi kecil dan negara berkembang menghadapi paparan risiko yang tidak proporsional.
“Persenjataan AI, friksi geopolitik yang persisten, dan risiko sistemik pada rantai pasok mengguncang pertahanan siber tradisional. Bagi para pemimpin tingkat C-suite, keharusannya sudah jelas, mereka harus beralih dari perlindungan siber konvensional menuju pertahanan siber yang didukung AI canggih dan bersifat agentic agar tangguh menghadapi pelaku ancaman berbasis AI,” kata Paolo Dal Cin, Global Lead Accenture Cybersecurity.
Lanskap siber 2026

Laporan ini mengidentifikasi sejumlah faktor utama yang membentuk evolusi lanskap siber pada 2026, antara lain:
Laporan ini mengajak para pemimpin dari berbagai sektor untuk tidak bekerja sendiri-sendiri. Mereka didorong bekerja sama dengan berbagi informasi, menyepakati standar yang sama, dan berinvestasi pada kemampuan keamanan siber, agar semua organisasi bisa beroperasi di lingkungan digital yang lebih aman dan kuat.
Survei ini merangkum pandangan dari 804 pemimpin bisnis global di 92 negara, termasuk 105 CEO, 316 Chief Information Security Officer, serta 123 eksekutif C-suite lainnya, termasuk Chief Technology Officer dan Chief Risk Officer.


















