Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
pendeteksi SynthID di dalam Gemini
pendeteksi SynthID di dalam Gemini (blog.google)

Intinya sih...

  • Teknologi SynthID membantu identifikasi gambar buatan AI

  • SynthID menggunakan watermark digital tak kasat mata untuk transparansi

  • Google Gemini memudahkan verifikasi gambar dengan fitur deteksi SynthID

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) membuat batas antara konten asli dan buatan mesin makin tipis dan sulit dibedakan. Saking canggihnya, banyak orang kini merasa kesulitan untuk memverifikasi apakah sebuah gambar yang beredar di internet itu nyata atau hasil rekayasa AI. Untungnya, Google telah menghadirkan solusi praktis lewat aplikasi Gemini untuk membantu pengguna mendeteksi gambar buatan AI dengan lebih mudah.

Fitur pendeteksian ini memanfaatkan teknologi canggih bernama SynthID yang dikembangkan oleh divisi Google DeepMind. Dengan fitur ini, kamu bisa mengetahui asal-usul sebuah gambar hanya dengan bertanya langsung pada chatbot Gemini di HP kamu. Penasaran bagaimana teknologi ini bekerja dan cara menggunakannya untuk menangkal hoaks? Berikut penjelasan lengkap cara cek gambar AI di Google Gemini!

1. Apa itu teknologi SynthID?

alat pendeteksi SynthID di dalam Gemini (blog.google)

SynthID adalah sebuah teknologi watermarking atau penanda digital yang dikembangkan oleh Google DeepMind untuk menanamkan jejak tak kasat mata ke dalam konten buatan AI. Tujuan utama dari teknologi ini adalah untuk memberikan transparansi dan membantu pengguna mengidentifikasi apakah sebuah media diciptakan oleh AI. Tanpa penanda yang andal seperti ini, konten AI bisa dengan mudah menyebar dan disalahgunakan untuk penyebaran informasi palsu atau deepfake.

Teknologi ini dirancang agar kompatibel dengan berbagai jenis media, mulai dari teks, gambar, audio, hingga video. Khusus untuk gambar, SynthID sudah terintegrasi ke dalam produk AI generatif Google seperti Imagen dan Gemini. Artinya, setiap kali model-model ini menghasilkan gambar, secara otomatis sistem akan menyematkan watermark digital yang tidak bisa dilihat oleh mata manusia.

SynthID diklaim punya ketahanan baik terhadap berbagai jenis penyuntingan gambar. Penanda digital ini tetap bisa terdeteksi meskipun gambar tersebut sudah dipotong (crop), dikompres ukurannya, atau bahkan diberi filter warna. Hal ini membuat SynthID menjadi salah satu pilihan paling tangguh untuk memeriksa keaslian konten digital di tengah maraknya hoaks di media sosial.

Menurut DataCamp, SynthID adalah alat untuk meningkatkan transparansi, bukan alat pengawasan. Penanda ini bersifat pasif dan hanya berfungsi untuk mengidentifikasi asal konten saat dilakukan pengecekan melalui alat verifikasi seperti Gemini. Jadi, privasi pengguna tetap terjaga karena tidak ada pemantauan aktif terhadap distribusi konten di luar proses verifikasi yang disengaja.

2. Cara kerja watermark SynthID yang tak kasat mata

tampilan aplikasi Gemini AI (unsplash.com/Solen Feyissa)

Mungkin kamu bertanya-tanya, bagaimana bisa ada watermark yang tidak terlihat tapi bisa dibaca oleh komputer? Untuk format gambar, SynthID menggunakan dua jaringan saraf tiruan (neural networks) yang bekerja secara bersamaan untuk menyisipkan dan mendeteksi watermark. Jaringan pertama bertugas memodifikasi nilai piksel warna pada gambar secara sangat halus sehingga mata manusia tidak akan menyadari adanya perubahan.

Perubahan pada piksel ini dilakukan dengan pola khusus yang hanya bisa dikenali oleh jaringan saraf kedua yang bertugas sebagai pendeteksi. Pola ini dirancang sedemikian rupa agar tetap terbaca meskipun gambar mengalami distorsi visual umum seperti pemberian filter, kompresi atau rotasi. Jadi, meskipun kamu menyimpan gambar, mengeditnya sedikit, lalu mengunggahnya lagi, jejak digital SynthID kemungkinan besar masih tertanam di sana.

Mekanisme ini berbeda dengan cara kerja SynthID pada teks atau audio yang memanipulasi skor probabilitas token atau spektrogram suara. Pada gambar, fokus utamanya adalah manipulasi piksel yang tidak merusak kualitas estetika visual tapi tetap membawa informasi metadata yang kuat.

Namun, SynthID sendiri masih memiliki batasan tertentu dan tidak sepenuhnya kebal terhadap manipulasi ekstrem. Penggunaan filter yang sangat agresif atau distorsi warna yang parah berpotensi merusak struktur watermark sehingga sulit dideteksi. Selain itu, pendeteksi SynthID juga masih fokus untuk gambar-gambar yang dihasilkan oleh model AI Google.

3. Cara mudah cek gambar AI di aplikasi Gemini

Google kini telah mempermudah proses verifikasi gambar dengan menanamkan kemampuan deteksi SynthID langsung ke dalam aplikasi dan web Gemini. Fitur ini sudah bisa digunakan oleh pengguna umum tanpa perlu akses ke alat pengembang yang rumit atau berbayar. Kamu hanya perlu memastikan bahwa kamu sudah mengunduh versi terbaru dari aplikasi Google Gemini di ponselmu.

Langkah pertama, buka aplikasi atau web Gemini dan ketuk tombol untuk menambahkan file atau gambar baru dari perangkat. Setelah gambar terunggah, kamu cukup mengetikkan pertanyaan sederhana di kolom chat seperti "Apakah gambar ini buatan AI?" atau "Is this AI-generated?". Kamu juga bisa menggunakan perintah yang lebih spesifik seperti "Apakah ini dibuat atau diedit dengan Google AI?" untuk hasil yang lebih presisi. Sebagai tips tambahan, kamu bisa mengetik "@SynthID" di kolom chat untuk memicu alat ini.

Setelah kamu mengirimkan perintah tersebut, Gemini akan memproses gambar dan mencari keberadaan watermark SynthID di dalamnya. Jika sistem mendeteksi adanya watermark tersebut, Gemini akan memberikan konfirmasi bahwa gambar tersebut memang dibuat atau diedit menggunakan model AI Google. Sebaliknya, jika tidak ada tanda yang ditemukan, Gemini akan menginformasikan bahwa gambar tersebut kemungkinan bukan buatan AI Google, meski bisa saja dibuat oleh AI lain.

Terkadang, hasil verifikasi mungkin menyatakan bahwa sistem tidak bisa memastikan atau hasilnya "tidak jelas" karena beberapa faktor teknis. Hal ini bisa terjadi jika gambar terlalu sederhana, suntingan yang dilakukan terlalu minim, atau gambar tersebut merupakan kolase dari banyak foto. Jika kamu mengalami hal ini, cobalah untuk mengunggah gambar aslinya, bukan tangkapan layar, atau melakukan crop yang lebih ketat pada subjek utama gambar.

Kehadiran fitur ini di Gemini akan sangat membantu pengguna agar lebih kritis terhadap informasi visual. Meskipun saat ini fokus utamanya masih pada gambar, Google berjanji akan segera memperluas kemampuan ini ke format video dan audio dalam waktu dekat. Jadi, mulai sekarang, jangan ragu untuk bertanya pada Gemini setiap kali kamu menemukan gambar yang mencurigakan di internet!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team