Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Cara Bijak Gunakan ChatGPT Untuk Belajar, Bukan Sekadar Mesin Jawaban
Raghav Gupta, Head of Education Asia Pasific, OpenAI (IDN Times/Fatkhur Rozi)
  • ChatGPT kini berperan sebagai partner belajar interaktif yang membantu siswa memahami konsep, mengembangkan ide, dan membangun cara berpikir mandiri melalui pendekatan learning engine.
  • Lebih dari 800 juta orang di dunia menggunakan ChatGPT untuk belajar, dengan Indonesia mencatat penggunaan tinggi terutama dari pelajar dan profesional muda usia 18–34 tahun.
  • AI menghadirkan pembelajaran personal dan fleksibel lewat fitur seperti Study Mode, Voice Mode, dan Vision Mode, namun tetap perlu kolaborasi agar penggunaannya bertanggung jawab serta efektif.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Cara kita belajar perlahan berubah. Jika dulu belajar identik dengan buku teks dan ruang kelas, kini banyak siswa mulai mencari pemahaman lewat cara yang lebih fleksibel, termasuk dengan bantuan teknologi.

Bagi beberapa pelajar, peran AI seperti ChatGPT tak lagi sekadar alat untuk mencari jawaban instan, tetapi mulai digunakan sebagai “teman belajar” yang membantu memahami konsep, mengembangkan ide, hingga membangun cara berpikir yang lebih mandiri.

"AI sudah mulai menjadi bagian dari cara siswa belajar: membantu menjelaskan konsep, mengeksplorasi ide, dan membangun keterampilan secara lebih mandiri", ujar Raghav Gupta, Head of Education, Asia Pacific, OpenAI.

Pertanyaannya kini bukan lagi apakah AI akan menjadi bagian dari pendidikan. Namun tentang bagaimana pendidik, institusi, dan penyedia teknologi dapat bekerja sama untuk membimbing penggunaannya secara bertanggung jawab.

"Di OpenAI, kami ingin mendukung upaya tersebut agar AI dapat memperkuat pemahaman, penilaian, dan kepercayaan diri, sekaligus memperluas kesempatan belajar bagi lebih banyak siswa di Indonesia,” imbuhnya.

Dari answer engine jadi learning engine

ilustrasi ChatGPT AI (unsplash.com/Emiliano Vittoriosi)

Salah satu perubahan paling menarik adalah bagaimana AI mulai beralih fungsi. Prompt yang tepat jadi salah satu kuncinya. Alih-alih menggunakan AI sebagai pencari jawaban, akan lebih baik jika menggunaakan AI sebagai learning engine yang membantu siswa memahami suatu konsep pelajaran.

Perubahan pendekatan ini akan membantu siswa lebih nyaman dan mudah memahami suatu konsep lantaran AI jadi alat yang membantu proses belajar itu sendiri. Dalam praktiknya, pengguna tidak hanya menerima jawaban, tetapi juga diajak memahami langkah-langkah di baliknya.

Pendekatan ini membuat proses belajar terasa lebih aktif. Siswa bisa bertanya ulang, mengeksplorasi ide, hingga memperdalam materi sesuai ritme mereka sendiri.

Digunakan ratusan juta orang untuk belajar

Perubahan pola belajar ini juga tercermin dari data penggunaan. Secara global, ChatGPT telah digunakan oleh lebih dari 800 juta orang, dengan sekitar 140 juta pengguna memanfaatkannya setiap minggu untuk belajar matematika dan sains.

Bahkan, sekitar 20% dari seluruh percakapan di platform ini berkaitan dengan pembelajaran. Angka ini menunjukkan bahwa AI tidak lagi berada di pinggiran dunia pendidikan, tetapi mulai menjadi bagian dari aktivitas belajar sehari-hari.

Menariknya, Indonesia menjadi salah satu negara dengan tingkat penggunaan yang tinggi untuk konteks pendidikan. Menurut data internal OpenAI, sekitar 55% pengguna ChatGPT di Indonesia berasal dari pelajar dan profesional muda usia 18–34 tahun. Pada bulan Maret 2026 saja, pengguna di Indonesia mengirimkan lebih dari 450 juta pesan terkait pembelajaran ke ChatGPT.

"Hal ini menunjukkan bahwa AI sudah menjadi bagian dari proses belajar sehari-hari. Peluang berikutnya adalah memastikan penggunaan AI yang bertanggung jawab dan produktif, sehingga dapat membantu membangun pemahaman lebih mendalam, keterampilan yang lebih baik, serta kepercayaan diri yang lebih besar dalam belajar,” ujar kepala bagian pendidikan OpenAI tersebut.

Belajar jadi lebih personal dan fleksibel

ilustrasi ChatGPT (pexels.com/Sanket Mishra)

Salah satu keunggulan AI dalam pembelajaran adalah kemampuannya beradaptasi. Melalui fitur seperti Study Mode, ChatGPT dapat memberikan penjelasan bertahap, pertanyaan pemantik, hingga bantuan sesuai tingkat pemahaman pengguna. Ini membuat pengalaman belajar terasa lebih personal, seperti memiliki tutor yang selalu siap membantu.

Selain itu, fitur seperti Voice Mode dan Vision Mode juga membuka cara belajar baru, di mana pengguna bisa bertanya secara langsung atau bahkan menggunakan visual sebagai bagian dari proses belajar.

Bukan tanpa tantangan

tampilan ChatGPT saat digunakan di komputer (unsplash.com/Levart_Photographer)

Meski potensinya besar, penggunaan AI dalam pendidikan juga membawa tantangan. Salah satu fokus utama saat ini adalah memastikan AI digunakan untuk memperkuat pemahaman, bukan sekadar jalan pintas. Kolaborasi antara pendidik, institusi, dan penyedia teknologi menjadi penting untuk memastikan penggunaannya tetap efektif dan bertanggung jawab.

Salah satu tantangan lain adalah kesenjangan kapabilitas penggunaan AI di level guru dan siswa. Tak bisa dimungkiri bahwa teknologi ini memang tergolong masuk baru di dunia pendidikan. Oleh karenanya butuh waktu bagi guru atau siswa untuk bisa menggunakan secara tepat.

Menanggapi upaya untuk mempersempit kesenjangan kapabilitas dalam penggunaan AI serta mendorong adopsi AI yang lebih luas dalam pembelajaran, Head of Public Policy, Southeast Asia, OpenAI, Sandy Kunvatanagarn, menyampaikan bahwa cara tebaik mengatasi kesenjangan tersebut adalah dengan terus mencobanya.

“Ketika semakin banyak orang mengeksplorasi cara kerja berbagai tools ini, mereka akan lebih percaya diri, menemukan berbagai contoh penggunaan yang relevan, serta melihat bagaimana AI dapat mendukung pekerjaan, produktivitas, dan proses belajar mereka. Dengan demikian, setiap orang juga bisa berperan dalam membantu mempersempit kesenjangan tersebut," ujarnya.

Dengan pendekatan yang tepat, AI dapat membantu meningkatkan kepercayaan diri siswa, memperluas akses pendidikan, dan mendorong cara belajar yang lebih mandiri. Perkembangan ini menunjukkan bahwa masa depan pendidikan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada metode konvensional.

AI seperti ChatGPT membuka kemungkinan baru, di mana belajar menjadi lebih interaktif, fleksibel, dan sesuai kebutuhan masing-masing individu.

Jika dulu pertanyaannya adalah “apakah AI akan digunakan dalam pendidikan?”, kini pertanyaannya berubah menjadi “bagaimana kita memanfaatkannya dengan benar”. Dan dari apa yang terlihat saat ini, jawabannya sudah mulai terbentuk.

Editorial Team