Jensen Huang (nvidia.com)
Setiap kecerdasan buatan (AI) membutuhkan otak yang kuat, dan Nvidia memulainya dengan memperkenalkan arsitektur Rubin sebagai penerus Blackwell. Platform ini tidak main-main karena dirancang dengan enam cip baru, termasuk CPU Vera, untuk menjawab kebutuhan memori masif pada pabrik AI masa depan. Dengan optimasi penalaran agentic, arsitektur ini diklaim mampu menekan biaya inferensi hingga 10 kali lipat lebih murah dibandingkan pendahulunya.
Sementara Nvidia menguasai pusat data, persaingan untuk otak di perangkat laptop juga tak kalah sengitnya lewat terobosan Intel Panther Lake. Prosesor ini dibangun menggunakan teknologi manufaktur 18A yang revolusioner untuk menghadirkan performa kencang dengan konsumsi daya minimal. Berkat Neural Processing Unit (NPU) khusus, asisten AI kini dapat berjalan secara lokal di laptop tanpa perlu mengirim data pribadi pengguna ke internet.
Tidak mau kalah, AMD meluncurkan Ryzen AI Max+ yang menargetkan para kreator profesional. Keunggulan utamanya terletak pada shared memory sebesar 128GB, yang memungkinkan laptop menjalankan model AI kelas berat. Sebelumnya, pekerjaan seberat ini hanya bisa ditangani oleh komputer desktop mahal, tapi AMD berhasil memangkas batasan tersebut. Inovasi ini memberikan kebebasan bagi profesional untuk membawa studio mereka ke mana saja.
Di segmen yang lebih terjangkau, Qualcomm turut meramaikan pasar dengan Snapdragon X2 Plus yang dirancang untuk efisiensi maksimal. Cip ini sanggup menangani 80 triliun operasi per detik, sebuah lonjakan performa signifikan untuk laptop kelas menengah. Efisiensi arsitekturnya mampu memangkas konsumsi daya hingga 43 persen, memungkinkan AI bekerja seharian penuh.