Dampak penundaan ini juga terasa signfikan bagi kreator di sektor kripto yang sangat bergantung pada audiens global. Mengutip laporan BeInCrypto, sebagian besar konten kripto di X menggunakan bahasa Inggris karena menyasar pasar internasional. Diskusi mengenai Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), hingga Decentralized Finance (DeFi) tidak terikat oleh batas negara. Jika kebijakan pembobotan wilayah tetap diterapkan, kreator dari negara dengan pasar iklan kecil seperti Kenya, Nigeria, atau Portugal berisiko mengalami penurunan pendapatan meskipun memiliki audiens besar dari Amerika Serikat.
Saat ini, X masih memberikan pembayaran kepada kreator berdasarkan impresi dari akun Premium terverifikasi tanpa mempertimbangkan lokasi geografis, dengan rata-rata sekitar 8,50 dolar AS (Rp143 ribu) per satu juta impresi. Bahkan, platform ini telah menggandakan dana bagi hasil kreator untuk tahun 2026. Penundaan kebijakan baru memastikan struktur tersebut tetap berjalan. Di sisi lain, X tetap berupaya menekan spam dan praktik manipulasi engagement dengan kemungkinan menghadirkan kebijakan yang lebih terarah di masa mendatang. Untuk saat ini, insentif bagi konten kripto tetap stabil tanpa dampak signifikan terhadap pasar maupun harga.
Keputusan untuk menunda perombakan monetisasi ini mencerminkan dinamika hubungan antara platform dan kreator. X tidak hanya berperan sebagai ruang distribusi konten, tetapi juga sebagai sumber penghasilan utama bagi banyak orang. Oleh karena itu, setiap perubahan kebijakan perlu mempertimbangkan dampaknya secara menyeluruh. Respons cepat dari Elon Musk menunjukkan bahwa suara komunitas masih memiliki pengaruh besar dalam menentukan arah kebijakan platform.
Ke depan, tantangan terbesar bagi X adalah merancang sistem monetisasi yang mampu menyeimbangkan kepentingan lokal dan global. Skema yang adil harus mampu mengakomodasi beragam pola audiens tanpa merugikan kreator lintas negara. Jika berhasil, X berpotensi menjadi platform yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Jika tidak, gelombang protes serupa akan kembali muncul di masa depan. Apakah X mampu menemukan formula monetisasi yang benar-benar adil di tengah ekosistem digital yang makin kompleks ini?